JELAJAH FLORES (part 3): Keindahan yang Tak Mampu Didustakan

Puas di part 1 dan part 2, mari kita melanjutkan membaca catatan perjalanan jelajah Flores di part 3.

Kali ini, Senin, 25 Maret 2013 di saat orang-orang terkena Monday Syndrome, kami malah asyik jalan dengan rute Wisata 17 Pulau Riung-So’a-Bajawa.

Setelah 2 hari bermain di darat, ini saat yang tepat untuk bermain di air. Wisata 17 Pulau di Riung adalah wisata yang saat ini sedang digemborkan oleh pemerintah Flores. Tapi tentu saja kali ini gak ngiterin 17 pulau. Hanya beberapa pulau saja yang kami sambangi. Apa saja? Pake pelampung, masker, snorkel sama fin ya ^^

Bersama bapak yang punya kapal, Bapak Duking, kami siap mengarungi lautan dengan tujuan pertama, Pulau Kalong. Pasti yang ada di dalam benak kalian, sebuah gua yang penuh dengan kelelawar. Ya aku juga mikir gitu sih. Makanya kami sante aja, asyik haha-hihi, sampe akhirnya mesin motor dimatikan di depan sebuah pulau yang isinya pohon doang.

“Kita sudah sampai di Pulau Kalong. Itu ada yang lagi terbang,” ujar Pak Duking sambil menunjuk kelelawar yang asyik terbang dan kelelawar yang lagi gelantungan di dahan pohon.

Astaga. Kirain itu tadi daun yang udah kering, siap jatuh ke tanah. Ternyata KALONG! Kok bisa ya mereka berjemur di bawah sinar matahari? Ini beneran kalong apa bukan sik?

Image

yang warna hitam itu kalong.

Image

Ada Batman! Aaaak!

Butuh teriakan super kencang untuk membuat kalong yang enak gelantungan jadi bangun dan terbang. Cuma tak ada yang bisa berteriak hebat dan menggelegar sehingga hanya satu, dua, tiga, mungkin sampe sepuluh kelelawar bangun dan terbang ke sana kemari. Pertunjukan terbangnya kalong juga ditambah seru dengan aksi elang yang menukik sana sini mencari mangsa. *plok plok plok

“Tujuan berikutnya kita ke Pulau Borong. Di sana nanti Mbak sama Mas bisa  nyebur dan snorkeling. Tapi kita gak merapat. Kapalnya berhenti di tengah dan langsung nyebur. Gak boleh merapat karena jangkar bakal merusak karang.”

Dan senjata dikeluarkan dari dalam tas. Iya! Sun block dengan SPF 30. Hehehe. Kemudian heboh milih masker, snorkel dan pelampung. Tak lupa kusiapkan kamera underwater hasil pinjaman dari @tichewaw

“Bisa nyebur di sini.”

BYUR!

Lautnya dalem banget dan kami langsung disajikan keindahan school of fish. Diambilkan bintang laut warna biru dan kami perdaya untuk foto-foto.

Image

school of blue fish

Karena waktu yang semakin siang dan tujuan kami belum habis, sekitar 1 jam kemudian kami berpindah tempat ke Pulau Rutong. Pulau ini dilengkapi dengan gazebo. Tapi gazebonya sudah rusak. Sepertinya pemerintah tak ada yang merawat. Sampah juga terlihat di pinggir pantai. Oh iya, kali ini kapal kami bisa merapat. But unfortunately, karang dan kumpulan ikan bisa dilihat jauh dari bibir pantai. Sepanjang kami snorkeling dekat pantai, cuma rumput alang-alang yang tampak. Hih.

Di sini kami menemukan banyak bintang laut warna hitam-oranye. Dan kemudian kami memanfaatkan bintang laut untuk property pemotretan. Nguk.

Image

FUN!

“Nanti kita makan siang, makan ikan bakar di pinggir pantai Pulau Tiga. Sekarang sudah jam setengah sebelas, jadi pas sampe sana jam sebelas untuk renang dulu baru makan siang.”

Dan kami kembali berteriak ceria. YIPPY!

Pulau Tiga, katanya keindahan bawah lautnya paling sip. Dan terbukti, dari 3 tempat snorkeling, pulau Tiga sinilah yang paling indah. Karang yang bagus, ikan yang berenang gembira, dan tepi pantai yang sudah dilengkapi tempat bakar ikan.

Image

Finding Nemo \o/

Image

Ramenyaaa :”)

Pulang renang yang ada ya lapar. Dan di pinggir pantai, telah tersaji ikan bakar yang membuat ludah hampir menetes dan kami langsung melahapnya tandas. Aaak, ini surga beneran. Makan ikan segar yang sudah dibakar dengan sayuran ditambah hembusan angin pantai. Kurang es kelapa muda aja nih. Hohoho.

Jam 2 tepat, kami sudah tiba lagi di pelabuhan RIung. Mengucap sampai jumpa pada pak Duking dan kembali ke hotel untuk bilas badan.

Jam 3.30 sore, kami kembali melaju menuju pemandian air panas Soa. Di perjalanan dekat dengan Soa, langit sudah gelap. Tapi tak membendung semangat kami begitu tiba di pemandian air panas. Kami langsung masuk dan merendamkan kaki di kolam air hangat.

Tiba-tiba, BREESS! Hujan jatuh dengan deras dan sukses membuat kami berlari kalang kabut ke depan. Berteduh di warung dan memesan teh hangat manis. Aih, sedaaap! Meskipun misi berendam dalam air panas gagal, kami tak berkecil hati. Karena Bajawa telah menanti kami. Bajawa, ibukota kabupaten Ngada yang terkenal dengan udara dinginnya.

Hotel Karina, hotel yang bagus banget dengan kamar yang nyaman siap mengantar kami beristirahat sebelum esok kembali menjelajahi Bajawa.

26 Maret 2013

Kampung adat Bena menjadi tujuan pertama kami. Yang ada dalam benakku, kampung ini mirip kayak Desa Takpala, desa adat di Alor yang ada di ketinggian jadi kami harus jalan mendaki, terus akses listrik nol alias sama sekali gak masuk. Tapi ternyata beda! Di sini sudah ada listrik, sinyal juga oke. Penduduknya lebih berpendidikan. Hampir di setiap rumah, ada selendang yang tergantung untuk dijual. Harga yang ditawarkan untuk selendang kecil adalah 75 ribu. Cukup mahal dibanding di Alor. Tapi lembutnya kainnya itu bikin ngiler pengen beli.

Image

Look at the Kampong not at the beautiful model ^^

Image

mejeng lagi gak salah kan?

Di puncak desa ini, kami beristirahat sejenak sambil lihat pemandangan gunung di seberang. Dan di sini kami bertemu dengan salah satu backpacker asal Bandung, yang sampai sekarang kami memanggilnya Ujang karena kami gak nanya namanya sapa. Bahahaks. Dia cerita kalo dia mulai jelajah dari Labuan Bajo and that place is very amazing. Jadi bikin gak sabar cepet ke Labuan Bajo nih.

Perjalanan dari Bena menuju Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai cukup jauh dan dengan jalan yang masih berkelok-kelok. Di tengah perjalanan, Kak Martin menghentikan laju Innova dan parkir dekat tembok. Di balik tembok tadi, tersembunyi keindahan. Sebuah danau yang tak mungkin kami jangkau untuk memegang airnya, danau Ranamase.

Image

so calm

Karena hujan rintik turun terus, kami segera naik mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Desa Adat Ruteng. Awalnya agak bingung ini desa adat atau bukan karena banyak rumah yang sudah seperti rumah modern. Eh ternyata, rumah adat di desa ini cuma ada dua. Kata salah satu penghuni rumah adat, hanya ada dua karena memang yang diperbolehkan dari nenek moyangnya ya cuma dua itu. Sebenarnya mereka bersaudara tapi beda suku. Sayangnya waktu ditanya bagaimana sejarahnya, si nona penghuni rumah ini sudah tak tahu sejarahnya. Sejarah yang hilang ditelan masa. Hiks.

jangan bosen sama aku ya :)

jangan bosen sama aku ya :)

Di Ruteng, kami menginap di sebuah hotel yang aslinya tempat suster sekolah. Suasananya asri. Ditambah hawa Ruteng yang dingin bikin pengen selimutan aja dalam kamar. Hotel Susteran, begitu namanya di Trip Advisor, menempati posisi pertama pada pencarian hotel di Ruteng. Buat kalian yang mau nginap di Ruteng, alangkah baiknya untuk menginap di sini karena mau yang model dorm atau kamar pribadi ada. Dan karena ini sekolah suster, maka gerbang akan ditutup pada jam 9 malam.

27 Maret 2013

Hari terakhir kami akan menjelajahi daratan sebelum akhirnya akan berlabuh di Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Tempat yang dikunjungi hari ini adalah Cancar dan Cunca Rami.

Cancar adalah nama daerah yang terkenal dengan hamparan sawah yang berbentuk seperti jaring laba-laba (spider web). Datang kemari harus di pagi hari karena badan masih segar (sebenernya uda 4 hari kayak kutu loncat, stamina turun). Bersabarlah untuk mendaki ke atas bukit agar bisa mendapatkan lukisan alam yang indah ini.

Image

kurang Spiderman lagi macul di sini.

Tak perlu berlama-lama di Cancar karena jarak dengan Cunca Rami lumayan jauh, butuh 3 jam lagi. Dan jangan lupa nanti di tengah perjalanan harus singgah beli makan siang sebagai bekal dimakan di Cunca Rami.

“Berapa lama nanti trekking ke Cunca Rami?”

“30-45 menit.”

“Jalannya mendaki?”

“Nanti turun dulu. Baliknya yang baru mendaki.”

“Oh, oke.”

Cunca memiliki arti air terjun. Tentu saja yang ada dalam benakku, trekking ke air terjun mungkin seperti aku trekking ke air terjun yang ada di Kebun Purwodadi. Lumayan berat sih, tapi masih sanggup lah. Dan oh my God, trekking di Cunca Rami ini sangat sulit. Cunca Rami memang belum dikelola oleh pemerintah daerah setempat, jadi ya cukup ngeri buat trekking di sini. Plus jaraknya yang jauh.

Pertama kita harus menuruni hutan sebelum akhirnya bertemu sawah. Berjalan di pematang sawah yang banyak jebakan lumpurnya, diselingi menyeberangi sungai dengan aliran yang lumayan deras dan diakhiri kembali oleh jalan di sawah. Hiks. Aku ini bukan tipe cewek yang suka trekking beginian, jadi yang ada cuma mengeluh dalam hati. Apalagi aku berulang-ulang kepleset dan sukses masuk di lumpurnya sawah. Ngik krik.

Ini dia si Cunca Rami yang bikin nafas tersengal-sengal.

Ndak mau kalo diajak ke sini lagi T~T

Ndak mau kalo diajak ke sini lagi T~T

Dan oke, jalan balik ke atas lebih parah lagi. Aaaak. Mendaki hutan ini yang bikin kaki lemes, jantung udah berdebar paling maksimal sampe rasanya mau copot. Berulang kali menghentikan langkah karena ya udah lemes. Rasanya udah mau menyerah, tapi kalo aku pingsan sapa yang mau gotongin aku cobaaa? Huhuhu.

Dengan dipacu semangat oleh adik kecil yang sedari awal nemenin perjalanan kami, akhirnya aku sampe juga di atas. Dan dalam hati telah mengobarkan tekad, “AKU GAK MAO LAGI KALO DIAJAK KE CUNCA RAMI!”

Menyadari pertambahan usia akan berbanding terbalik dengan stamina tubuh, aku memilih diam dan berusaha menenangkan diri selama perjalanan ke Labuan Bajo. Karena mulai sore nanti, kami bakal hidup di atas kapal dan segera bertemu dengan komodo dan laut lagi! Yes.

17.00 WITA, sampai di pelabuhan Labuan Bajo. Bertemu dengan Tya, salah satu teman dokter gigi yang PTT di Manggarai Barat. Menaiki kapal Papa Anang dan berpisah sementara dengan Kak Martin.

Rasanya energi yang tadi terkuras habis di Cunca Rami perlahan mulai terisi lagi karena menghirup udara laut yang segar.

Sang kapten kapal, Papa Anang berseru, “sekitar 30 menit ke depan, bakal kerasa gelombang. Tapi setelah kita melewati pulau itu (sambil menunjuk ke pulau yang entah namanya apa), laut bakal tenang.”

“Kami bakal dibawa ke mana ini, Papaaa?”

“Kalo belum gelap, kita nanti mampir di Pulau Kalong. Tapi kalo sudah gelap, ya berarti kita langsung ke Pulau Rinca. Nanti kita menginap di situ, biar besok pagi langsung trekking ke Pulau Rinca lihat komodo.”

KOMODO? Bukan Kodomo kaaan? Kyaaa!

Bulan bersinar sangat terang karena sedang bulan purnama. Ukurannya juga membuatku berdecak kagum. Ini bulan yang rasanya terlihat begitu dekat dan sangat besar. Ah, bulan purnama yang berasa kayak liat matahari. Belum lagi purnama melihatku tersenyum setelah mendapat pesan dari seseorang. Iya, seseorang yang kemudian mematahkan hatiku di malam berikutnya (ceritanya bisa disimak di sini lho :p)

Image

is that full moon? not a sun?

2 jam dari keberangkatan tadi, sampai juga di depan dermaga Pulau Rinca. Katanya komodo juga bisa tiba-tiba muncul di dermaga ini lho. Pasti lucu kalo besok pagi disambut komodo. Hehe.

Malam terasa sangat tenang setelah Papa Anang menyajikan santap malam yang begitu nikmat dan dilanjutkan rundingan tempat mana saja yang bakal kami jelajahi. Mengingat ada dua teman yang harus balik di tanggal 29 siang sampe Labuan Bajo, maka ada beberapa tempat yang dicut alias gak dikunjungi.

Rute kami untuk 2 hari ke depan: Pulau Rinca-Pulau Padar-Manta Point-Gili Lawa-Pulau Sebayur-Pulau Kanawa.

Rute keliling pulau ini sangat amat seru. Ketemu apa aja di Pulau Rinca? Kenapa kok gak ke Pulau Komodo? Manta itu apa? Ngapain di Gili Lawa? Semuanya bakal kejawab di potongan cerita final part, Jelajah Flores part 4. Dan jangan lupa buat kalian yang hobi koleksi kartu pos dan beruntung yang nyimak postingan dari nomer 1, 2, 3 dan sampe nanti terakhir 4, ada kartu pos dari Flores yang siap dikirim ke rumahmu. Simak terus yaaa ^^

12 thoughts on “JELAJAH FLORES (part 3): Keindahan yang Tak Mampu Didustakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s