tembok

pagi hari mentari tersenyum manis, melambaikan sinarnya menempa wajahku.
gairahnya kurasakan menggetarkan semangat. hari ini, hari baru, harus kuisi lembarnya dengan tintaku.

dan saat aku masuk ke ruang itu, kulihat dia. sesosok laki-laki. lincah, selalu menebar candanya di tiap sudut ruang yang penuh riuh renyah tawa kawan. Yara, begitu aku memanggil dia.

Yara, kukenal dia sejak 6 tahun yang lalu. bermula dari ospek kampus. kami dipertemukan dalam satu keluarga. dia lelaki yang langsung menancapkan pesonanya dalam otakku. membuat aku mengalir dalam rasa yang terlarang ini. terlarang? ya, karena dia tak memiliki rasa yang sama.

ketika waktu telah berjalan maju, tak lagi menoleh ke belakang, Yara menjadi laki-laki yang selalu menemaniku di tiap hariku. di tiap waktu ingin aku tertawa maupun ingin aku menangis. dia ada ketika aku menginginkannya, tapi tak jarang dia pergi saat aku ingin didekapnya. namun dia tetap sama, tanpa rasa. begitu yang aku rasa.

rasa yang menggelitik ini semakin menyudutkan aku. membuat aku terombang-ambing dengan kepala yang dipenuhi sejuta pertanyaan, “bagaimana rasa Yara untukku?”. tak sanggup dengan godaan itu, kuberanikan diri mengutarakan rasaku. yang kutau, ini tulus.

“aku menyayangimu, Yara.”

sekejap, Yara terhenyak. tak bisa berdiri dari kursinya. tak bisa menyembunyikan rasa gembira yang tersirat dari sorot matanya. dan dia mengucap, “dan aku juga menyayangimu, Mai”

bisakah kau merasakan perasaanku? rasaku terbalas. rasaku dan rasanya menjadi rasa kami. tak ada lagi, aku dan dia, karena sudah menjadi kami. yang malam itu hanya bisa tersenyum lalu ditutup dengan kecupan indah bidadari yang membelai mesra bibir kami berdua.

indah, hanya itu yang sanggup menggambarkan perasaanku selama 5 tahun bersamanya. tak ada lagi yang sanggup menawarkan rasa ini selain Yara. lelaki yang sudah mengunci pintu hatiku, seolah kuncinya telah ia buang ke lautan. agar tak ada lagi yang sanggup membukanya selain dia.

lalu, datang hari itu, dimana bidadari kegelapan menyayatkan pisaunya ke hatiku. ketika aku mengerti dan tersadar, bahwa cinta Yara tak setulus dahulu. ketika semua pengorbanannya dia hitung agar aku bisa membalasnya. ketika dari mulutnya, dia mengucap “aku berubah, aku tak sama. begitu juga cintaku buat kamu”

sesaat duniaku terhenti, tawaku memudar, dan air mataku telah menggantung di pelupuk mataku. pintu hatiku telah dipaksa dibuka oleh Yara. dia tak menggunakan kunci yang telah dia lempar jauh, tapi dia menggunakan pisau. menusukku. dan meninggalkan jejaknya di hati ini.

dan kutersadar dari lamunan singkatku ini. dan masih tetap kupandang lekat wajah manisnya. walau terkadang terhalang kepala teman-temanku yang lain. tersadar karena Yara memanggilku dengan nama kesayangannya, “Mai”

sudah 1 tahun ku tak lagi bisa membiarkan mulut ini mengoceh, melontarkan segala perasaanku pada Yara. aku hanya bisa tercekat ketika rindu mulai menyapaku. ketika badai menerpa tembok pertahananku pada Yara.

1 tahun, tak mudah kulalui sendiri. tanpa Yara menghiasi. namun kasih Yara tetap berpijar di hati. walau kurasa, makin lama apinya makin memadam. makin tak mengeluarkan lagi sinarnya.

Yara, kutau kita tetap sama. tak ada yang berubah dari diri kita, kecuali sudah menjadi aku dan kamu lagi. Yara, aku masih seperti dulu, yang masih menyimpan asa mengutarakan keberanianku untuk ungkapakan rasa yang menyeruak ini. tak ada yang berubah selain cara pandangmu. mungkin kau juga masih sama, tapi cara pandangku yang telah berubah.

tembok yang kubangun ini, sempat kau hancurkan. membuatnya menjadi berkeping-keping sehingga harus kutata ulang kembali. padahal bagaimana sakitnya memungut dia kembali dengan perih air mata seperti perasan air jeruk yang diteteskan pada luka yang berdarah.

ketika kau memanggil namaku ini, aku tak merasa getar yang dulu ada. aku yakin dari tajamnya matamu, memberikan arti tersendiri bahwa aku masih ada di benakmu. dan sama seperti dirimu, kau masih menari indah dalam awangku yang berkabut. tapi ketika malam telah menyapaku, rasa itu hadir. seperti kau tetap hadir di tiap mimpi-mimpi malamku. aku ingin menangis, dan bahkan aku sudah menangis. aku mengingatmu lagi, tapi tembokku tetap utuh.

Yara, biarkan aku menangis. biarkan aku menikmati rindu terselip ini. dan alam indah ini akan memelukku, jatuh ke dalamnya, menemaniku, setia. tapi tetap kubiarkan tembok ini berdiri. sebagai pengingat bahwa kita telah menjadi aku dan kamu.

dan hari ini telah kuwarnai lembaran hariku. aku sanggup mempertahankan tembokku, walau kutau ini menyakitkan. tapi aku tak boleh lupa, Yara lebih bahagia tanpa ada aku di sampingnya. jika bisa kuungkap semua ini tanpa perlu aku menggoreskan pena dalam buku harianku, aku ingin kau mendengarkan aku.

aku dengan segala kelemahanku namun kuat karena Tuhan,
Mai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s