Kahlil Gibran

Saat cinta membuka kedua mataku dengan pancaran sinar magisnya dan untuk pertama kalinya mengguncang jiwaku melalui sentuhan jari-jarinya yang berapi. Dia adalah laki-laki pertama yang mampu menggugah perasaanku dengan kebaikannya, serta membawaku masuk ke dalam tanah kasih yang agung, di mana hari-hari berlalu laksana mimpi dan malam-malamku layaknya pesta-pora.

Dialah yang mengajariku memuji keindahan dengan pancaran ketulusannya dan menguakkan rahasia cinta bagiku dengan cintanya. Dia adalah laki-laki pertama yang mendendangkan sajak-sajak kehidupan yang sesungguhnya.

Tiap manusia akan senantiasa mengingat cinta pertamanya. Dan ia akan mencoba menggapai kembali saat-saat yang ganjil itu. Ingatan yang mengubah dasar perasaannya dan membuatnya sedemikian gembira meskipun kegetiran terasa dalam misteri.

Setelah itu, saat aku tak mampu tuk menggapainya, aku tak lagi memiliki apa pun. Tak ada yang tersisa dari impian indah itu, melainkan kenangan menyakitkan yang mengepak-ngepak laksana sayap-sayap tak tampak di sekelilingku. Ia melahirkan rintihan kedukaan di dasar hati dan mengucurkan air mata putus asa di pelupuk mata. Dia kini telah tiada. Tiada yang tersisa untuk sekedar mengingatnya selain hatiku yang patah dan seonggok kuburan yang dikelilingi pohon-pohon cemara. Kuburan itu dan hati inilah yang masih tersisa untuk memberi kesaksian tentang dia.

Kesunyian yang menjaga kuburan itu, tidaklah mampu menyibakkan rahasia-rahasia yang disimpan Tuhan di dalam gelapnya keranda. Gemersik dahan yang akarnya menyesap bagian tubuh jenazah itu tidaklah menguak misteri-misteri tentang kuburan itu sendiri. Namun desah dan ratap hatiku ini, cukuplah untuk memberi kabar kepada khalayak kehidupan akan drama di mana cinta, keindahan dan maut telah terjadi.

Di antara kuburan bisu itulah penderitaannya tumbuh bersama pohon-pohon cemara. Di atas kuburan itu rohnya melayang-layang setiap malam mengitarinya, berkelana mengiringi cabang-cabang cemara dengan rintihan yang menyesakkan. Merasakan kehilangan yang begitu yang hebat, meratapi kepergiannya yang sebelumnya menjadi nyanyian begitu indah di bibir kehidupannya dan kini menjelma menjadi rahasia bisu di pelukan bumi.

sengaja nyariin file di komputer lawas, nyari tulisan2ku, dan terselip ini. aku rasa ini karya Kahlil gibran. entah dalam bukunya yang berjudul apa. yang aku ingat, ini pasti kutulis antara tahun 2002-2003. kalo aku sampe rela nulis ini, berarti ini mengena sekali. dan iyah,, emang ini sangat mengena.
kutujukan pada semua yang sedang galau karena cinta, yang tak berakhir pada kebahagiaan.

2 thoughts on “Kahlil Gibran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s