aku takut

hei kamu,
perasaanku malam ini tak enak.
seperti ada yang menggelitik, ada yang berusaha menendang keluar dari dadaku. sehingga makin lama terasa menyesakkan.
dan tiba-tiba aku mengingatmu.
apa kamu baik-baik saja?
aku disini mengkhawatirkanmu.

ingin rasanya aku mengirimkan pesan singkat untukmu,
sekedar menanyakan sedang apa kamu sekarang, apakah kamu aman disana.
tapi aku tak memiliki sedikitpun nyali untuk mengetik satu huruf saja.
seolah untuk memegang telpon genggamku, tanganku sudah gemetar.
dan makin kurasakan dadaku berdebar dengan kencang.

setelah beberapa menit aku berkutat dengan kekhawatiranku ini,
kuputuskan untuk keluar rumah sejenak. menenangkan hati.
berjalan di tengah keramaian jalanan malam ini, ternyata tak mengobati sepi yang kurasa sekarang.
dan semakin aku mengkhawatirkanmu. semakin aku ingin mengetahui keadaanmu.
berjalan aku ke arah warung kopi di pinggir jalan besar.
kemudian aku duduk dan melihat lampu LED di telpon genggamku berwarna biru, menandakan ada pesan singkat yang masuk.
kubuka, dengan pengirim sahabat terbaik kita.

“Non, aku gak tau harus ngomong gimana lagi. coba Non skr pergi ke tempat yg bertembok biar bisa sandaran. berita buruk, abang kecelakaan dan sekarang ada di ugd.”

aku sangat kaget setelah selesai membaca pesan itu.
terasa tanganku makin bergetar hebat, dadaku sudah bolong, dan aku jatuh lemas terkulai di lantai warung itu.
kupencet nomor telpon sahabatku, suaraku sudah tercekat, aku ingin bicara, tapi yang keluar malah isak tangisku.
lalu mobil itu datang, keluar 2 sahabatku yang langsung membantuku berdiri dan masuk ke dalam mobil.

kakiku lemas untuk bisa berdiri, tapi aku juga tak ingin jatuh karna aku ingin segera melihatmu.
jalanku seperti tertatih namun sahabat2ku slalu berteriak agar aku tak terburu2 masuk ke dalam ugd.
telingaku berdenging keras aku tak mendengar apa2 padahal sahabat2ku berteriak dengan kencang dan berlari menahanku agar aku tak terlalu cepat masuk ke ugd.
tangan sahabatku sigap menarik tanganku, aku ditarik tak masuk ke ugd, belok ke sisi lain.
aku sudah tak bisa melihat lagi apa di depanku, yang ada hanya kamu di pikirku.
namun, langkahku semakin terasa ringan ingin melayang ketika aku menemukan diriku berdiri di depan kamar mayat.

aku yang awalnya ingin berlari, kini mulai memelan langkahnya.
yang awalnya aku ingin berteriak, suaraku makin hilang tersangkut dalam tenggorokanku.
kulihat ada sosok yang sudah ditutup kain putih dengan banyak darah mewarnai kain itu.
aku tak berani membuka penutup itu, aku sudah kehilangan separoh jiwa ini. bagaimana bisa aku bertahan hidup bila separoh yang masih ada akan pergi juga?
kulihat kedua orang tuamu telah menangis, ibumu berlari menuju arahku dan memelukku erat.
tak perlu kubuka kain yang menutup wajah sosok yang terbujur itu, aku sudah tau itu kamu.

hei kamu,
kamu pergi meninggalkan aku lagi, untuk yang kedua kali.
kamu pergi membawa semua jiwaku.
sekarang semua hilang, lenyap sesaat.
pertama kali kau tinggalkan aku dengan perih hati ini, sekarang engkau pergi selamanya.
menuju sang pencipta kita.

dengan ibu yang tetap memelukku, aku menguatkan diri berjalan ke sampingmu.
kubuka penutup kain itu, kulihat dirimu tersenyum.
aku tak bisa mengucap satu kata pun, aku hanya menangis, dan berusaha tetes air mataku tak jatuh mengenaimu.
aku sudah sakit dan tak ingin kamu merasakan sakit ini.

hei kamu,
aku takut kehilanganmu.
tapi sekarang aku benar-benar sudah kehilanganmu.

2 thoughts on “aku takut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s