cinta dan patah hati

setiap kali aku ingin pergi kluar mencari angin segar, mama selalu bertanya “sama siapa?”
tentu saja aku hanya bisa menjawab “sendiri”. dan mama hanya menghela nafas, pendek saja, karena sebenarnya aku tahu beliau inginkan jawabannya bersama seorang laki-laki.

malam ini, aku sengaja pergi ke kafe yang baru dibuka. biasanya kafe yang baru buka menyediakan diskon ekstra. dengan semangat pergi kesana, menyambar tas isi laptop, kamera, dan kabel data tentunya. aku tak bisa pergi jauh dari mereka. sepertinya merekalah belahan jiwaku.

tentu saja kafenya ramai, tapi saat pelayan menyambut kedatanganku, dia langsung mengantarkan aku ke kursi yang masih kosong di pojokan. wah, strategis untuk edit-edit kerjaan. lalu aku memesan ice american cappucino lengkap dengan french fries. dan kubuka laptop dan mulai konsentrasi pada layar.

dan konsentrasiku dibuyarkan pada suara laki-laki yang cukup familiar.

“Yani?” sontak aku menoleh ke arah suara itu. dan kulihat laki-laki dengan tinggi kira-kira 175 cm dan badan yang atletis membawa nampan berisi pesananku.

“Egi?”

“wah, masih ingat rupanya. apa kabar?” dia pun duduk di kursi depanku dan menata pesananku di atas meja.

“baik-baik. wah, ini kafe punya kamu? hebat ya anak ekonomi pasti mainannya buka usaha.”

“usaha rame-rame bareng temen kok. masih kalah lah ama kamu yang karyanya uda tembus tingkat nasional gitu. bikin studio foto donk”
acara ngobrol ini mulai menemukan titik panas. dan aku merasa nyaman dalam tiap cara dia berbicara.

“eh, tukeran nomer handphone ma pin blackberry donk. kamu kayaknya sibuk ma laptopmu, aku juga gak enak ma customer yang lain”

aku mengangguk dan masuk satu permintaan teman di BBM. tanpa banyak pikir, kuterima.

itulah awalnya, aku menjadi dekat dengan Egi. tiada hari tanpa memberi kabar, menanyakan sedang apa, apa sudah makan, dan banyak lagi pertanyaan layaknya orang sedang pendekatan. singkat cerita, aku merasa jatuh cinta dengan Egi. kita berdua sudah bukan remaja lagi yang mencari pacar, melainkan mencari calon pasangan hidup. dan topik itulah yang selalu mewarnai obrolan kami.

meskipun sering mengirim pesan dan bicara lewat telepon, aku belum pernah bertemu lagi dengan Egi. kesibukan masing-masing yang selalu menghalangi. hingga akhirnya Egi mengirimkan pesan bahwa dia akan mampir ke rumah malam ini, dia bilang ingin memberikan tester cake yang akan dijual di kafenya. perutku tiba2 seperti dipenuhi kupu-kupu, terasa mulas. jantungku mulai berdebar, benar-benar merasa tidak nyaman.

mama mulai mencium gelagat aneh yang terjadi padaku 2 minggu terakhir ini. mama rajin bertanya siapa yang selalu menelponku tiap malam dan saat subuh. mama memang terbaik, mengerti putrinya ini yang sedang jatuh cinta. dan waktu mama kuberitahu bila Egi mau mampir kerumah, beliau ikut bingung. membuka lemari dan memilihkan aku pakaian yang pantas saat bertemu Egi nanti. mama mulai menyusun skenario agar nantinya Egi mengajak aku untuk makan malam di luar. aku tersenyum sekaligus berpikir apa iya Egi memiliki perasaan yang sama buat aku? apa malam ini Egi akan menyatakan perasaannya padaku. ah, semakin kupikir tentang ini, semakin perutku terasa melilit.

Citra, aku uda di depan rumahmu.”
Hah?
Eh, salah sebut nama. Yani. hehehe
Oke

setelah memencet tombol end di handphone, dengan sigap aku membukakan pintu dan tak lupa membawa payung. di luar sana hujan deras. sambil berpikir, kenapa aku dipanggil Citra. namun saat kulihat Egi, jantung ini berdetak seperti tak sesuai irama lagi. kucoba menata tingkahku jangan sampai terlihat aneh di depan Egi.

“ini testernya. jangan lupa dicoba ya. ntar bilang rasanya gimana.”

“pastinya lah.”

“gimana edit foto yang buat portfolio itu?” Egi mulai mencari pembicaraan, aku harus bersikap biasa.

“ya kurang 20 persen lagi lah. setelah itu beres dan tinggal kirim ke redaksi majalahnya.”

lalu terdengar teriakan mama dari dalam rumah.
“bentar ya Gi, dipanggil mama”

“oke”

aku masuk ke dalam rumah dan mama memberiku nampan berisi secangkir coklat panas. lalu aku keluar lagi ke teras dan menyajikan untuk Egi. diseruput coklat panas itu hingga habis.

“Yan, aku gak bisa lama-lama disini. aku harus bagi waktu nganterkan tester buat temen yang lain.”

“oh, gitu? ya deh, ati2 ya di jalan”

“oke. makasih ya. jangan lupa, kutunggu review rasa cakenya.”

sekejap mobil Yaris putih itu berlalu. meninggalkan aku yang masih tak percaya, hanya sesingkat itu Egi main kerumah. apa yang salah dengan aku?

mama ikut penasaran, tapi beliau membesarkan hatiku. mungkin Egi memang sibuk. nanti Egi pasti main lagi kerumah. sembari kucicipi cake yang rasanya luar biasa enak itu, aku mengirimkan pesan pada Egi memberitahu bahwa aku suka dengan cake itu. kemudian aku tenggelam lagi dalam duniaku sendiri sampai tertidur di meja komputer.

pagi hari, saat aku mengecek blackberry, tak ada satu telpon masuk dan tak ada pesan BBM. tak biasanya Egi seperti ini. aku mencoba bersabar juga tak mengirim pesan apapun. kata mama, mungkin Egi lagi main tarik ulur. perasaanku tak berkata demikian, ini pasti ada hubungannya dengan Citra. nama yang salah dia ucap saat memanggilku.

dulu tiap aku mengganti gambar profilku, Egi selalu komentar yang pertama. tapi sudah 2 hari ini, tak pernah ada komentar dari Egi. aku makin panik, apa ada yang salah saat Egi main kerumah? aku tetap positif thinking saja.

hingga tetap saja seperti ini di 5 hari kemudian. aku melihatnya selalu berganti status tiap jam, tapi mengapa dia tak pernah menyapaku lagi? mengapa tak pernah menelponku lagi? hingga aku tak betah lagi dan mengirimkan pesan begitu tahu dari statusnya bila dia sedang di luar kota.

apa kabar Egi?
kirain hilang ditelan bumi. lama gak ngasih kabar

hei Yani.
kabar baik.
ini lagi sibuk ma kafe.
pulangnya mesti dini hari, pagi balik lagi ke sana.
capek

wah, makanya sekarang liburan keluar kota nih.
have fun ya.

iya, refreshing bentar lah. makasih ya.

lalu, kusudahi saja BBM ini. berharap nantinya dia yang akan menyapaku lebih dulu. aku sudah sabar menunggu kabar darinya. namun hingga pagi menyapa kembali, tetap tak ada pesan dari dia. hanya recent update.ku dipenuhi dia yang berganti status menceritakan dia sedang makan ini dan itu, mengganti foto profilnya yang sedang bersama kawan-kawannya. apa itu yang disebut sibuk? hingga tak pernah lagi ada telepon di pagi hari untuk membangunkan aku sholat subuh.

seketika, hatiku terasa pecah berkeping-keping. sakit. perih. air mataku jatuh. hangat membasahi pipiku. ketika aku melihat statusnya love, Citra.
aku patah hati. Egi tak merasa rasa yang sama padaku. tapi mengapa ia seolah memberi banyak perhatian padaku?
duniaku hancur. seolah aku tak bisa bangkit. dan mama hanya bisa memelukku dan mengusap punggungku.

tanpa banyak berpikir, langsung kuhapus saja kontaknya dari BBMku. agar aku tak bisa lagi melihat status dan foto2nya.

aku harus tetap bangkit. Egi, yang singkat kukenal, dimana aku merasa chemistry yang kuat, ternyata hatinya bukan untukku. semudah itu aku mencintainya dan semudah itu pula aku patah hati.

aku terlalu berharap padanya dan akhirnya aku yang menderita dari sakit hati ini.

One thought on “cinta dan patah hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s