surat cinta terakhir

ayah yang kusayang.
begitu aku mencintai dirimu, begitu aku menyayangi dirimu hingga aku tak bisa berkata tidak. kau memberikan aku semua keinginanku, memberikan aku yang terbaik. tak pernah sehari kau tak memberiku kasih sayang dan bergelimang materi.

ayah,
namun ada satu hal yang sebenarnya ingin kutolak. tapi inilah aku, aku yang bodoh, yang tak bisa berkata tidak padamu. aku tak pernah berani mengungkapkan ini padamu. aku tak kuasa melihatmu kecewa, melihatmu terdiam, melihatmu termenung. maka biarkan surat terakhirku ini yang menyampaikannya padamu.

ayah,
aku tak mencintai dia. laki-laki yang kau pilihkan untukku. aku mencintai laki-laki lain. dia pernah aku ajak kerumah, pernah aku kenalkan padamu ayah. tapi kau tak menyambutnya dengan hangat. kau langsung masuk ke kamar dan mengurung diri disana. bagaimana aku tega melihatmu seperti itu? aku ingat, aku masuk ke kamarmu dan meminta maaf. kau tersenyum kembali dan bercerita bila kau sudah menyiapkan calon suami untukku.

ayah,
seandainya kamu mau mendengarkan aku. sekali saja. aku tak mencintai pria pilihanmu itu. dia kejam. dia tak sepertimu, dia tak seperti pria yang aku sayang. dia selalu menyakitiku, dia selalu memukuliku ketika aku tak pernah mengabulkan permintaannya. bukankah sudah pernah kau tanyakan padaku kenapa wajahku lebam? itu karena dia menamparku begitu kerasnya ketika aku menolak diajaknya pergi. waktu itu aku sudah mencoba berterus terang bila aku tak bisa hidup bersama dia. tapi ayah malah berkata “lalu bagaimana nasib perusahaan ayah kalo kamu gak nikah ma Rio?”. aku tau, aku dijadikan tumbal demi keselamatan perusahaan ayah. aku juga mengerti, bila tak kau selamatkan perusahanmu, bagaimana dengan pendidikan dan kesejahteraan adik-adikku?
dan aku memilih diam. aku memilih menuruti semua kata-katamu dan permintaan Rio. demi ayah, demi kedua adikku yang masih membutuhkan segalanya untuk mendapat yang terbaik. sedangkan aku, merasa cukup dengan semua kasih sayang dan materi yang kau berikan.

ayah,
ini surat cinta terakhirku untukmu. aku sangat menyayangimu. sampaikan salamku untuk Yuda dan Yudi. aku ingin sekali menyusul ibu di surga sana. dimana bersama beliau aku selalu nyaman. sampaikan salamku untuk Rio, dia tak bisa lagi menyuruhku menuruti semua keinginannya. dan sampaikan salamku untuk Dimas, pria yang aku cintai.

ayah,
maafkan putrimu ini yang tak bisa membahagiakanmu lagi.

Yunita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s