pilu

Siang ini matahari menyengat terik. Peluhku mulai berjatuhan. Disini hanya ada kipas angin kecil yang tak mungkin mampu mengusir hawa panas sekaligus pengap. Disebelahku ada anakku, putriku yang sedari tadi hanya diam sembari memeluk bonekanya.

Aku memandang ke seluruh tembok ruangan ini. Penuh coretan dari tangan putriku. Semuanya aksara, tak ada gambar. Semuanya berisi jeritan hatinya. Ungkapannya untuk orang yang dia sayang, yang meninggalkan kenangan begitu kuatnya.

Tak sanggup lagi aku membendung air mata ini. Membendung perih yang juga dialami putriku. Oh Tuhan, jika bisa kau bagi penderitaan putriku, maka berikan semua saja perih yang dia rasa. Jangan hanya separoh. Aku ibunya, harusnya bisa melindungi putriku. Harusnya bisa menjadi tempat ia bersandar dan berkeluh kesah saat dia terguncang. Tapi aku tak bisa melakukan itu semua. Dia hanya terdiam dan menatap semua hampa.

Berawal dari kecelakaan itu. Ketika putriku bersama suaminya dan anaknya yang masih balita akan pergi berlibur. Begitu cerianya keluarga kecil itu, akan pergi sejenak melepaskan penatnya dari hiruk pikuk ibu kota ini. Aria, si kecil, berlari-lari sambil tertawa dan dia berkata “Nenek, kalo Aya pelgi, nenek jadi cendilian. Gapapa ya?”. Ah, dia begitu lucunya. Khas anak kecil yang riang, kemudian dia berlari menuju ibunya dan mulai mengganggu ibunya yang menyiapkan keperluan Aria.

Sasti, putriku, menghampiriku. “Mam, gapapa kan aku pergi liburan? Seharusnya Mama ikut juga. Daripada Mama sendirian dirumah”. Lalu Rio berjalan ke arahku dan mengiyakan pertanyaan Sasti.

“Enggak Sas. Mama jagain rumah aja. Kalian selama ini sibuk kerja. Kasian Aria cuma taunya rumah ma taman belakang situ aja. Ajak dia tau dunia luar”. Sesungguhnya perasaanku agak tak nyaman saat berkata ini. Seperti tak rela mereka pergi jauh dariku. Dan ternyata firasatku itu kejadian. Menjadi nyata.

Aku tergopoh-gopoh menuju rumah sakit. Rio dan Aria terbujur kaku di kamar mayat. Kulihat Sasti hanya terdiam namun air matanya sudah membanjir dan membasahi kerudungnya. Aku melihat ada darah di tangan dan kaki Sasti, dia terluka, tapi dia hanya duduk di kursi. Kata perawat, dia tak mau diobati dan tak mengucap satu kata apa-apa. Aku memeluknya, dia tak bergeming.

Dan harinya menjadi kelabu. Dia marah, menangis, berteriak. Mulai mencoret tembok kamarnya dengan nama Rio dan Aria. Dia kehilangan nafsu makannya, tubuhnya yang dulu berisi kini kurus. Aku tak tega. Dokter menyarankan dia untuk dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Tapi aku sebagai ibu tak mau anakku masuk ke tempat yang penuh orang stres, sakit jiwa. Sastiku tak sakit jiwa. Sastiku hanya depresi.

Malam minggu lalu, aku menemukan Sasti di kamarnya tergeletak. Dengan gunting di sebelahnya, darah membasahi pergelangan tangannya. Sasti mencoba bunuh diri. Aku benar-benar gagal menjadi ibu yang baik. Dan dengan sabar aku meyakinkan diriku, jika saran dokter untuk merawatnya lebih intensif di Rumah Sakit Jiwa adalah saran terbaik.

Begitulah setiap harinya, aku hanya bolak-balik dari rumah ke RSJ. Makin nelangsa melihat Sasti. Tapi kurasa dia sudah ada kemajuan. Pipinya tak tirus lagi. Nafsu makannya kembali normal. Walau tiap malam dia masih sering terbangun dari mimpi buruknya dan menangis tak henti.

Pilu. Aku pilu sebagai ibu.
Tuhan, jangan kau siksa Sasti lagi. Sembuhkan dia. Berikan seluruh kesedihannya padaku. Aku kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s