Bu, Aku Ingin Permen

Aku berdiri di depan kaca sebuah toko. Kulihat di dalam kaca itu terdapat banyak toples dengan isi warna-warni. Bentuknya bulat. Disamping toples tadi berjajar permen gepeng berbentuk bulat membentuk seperti obat nyamuk.

Aku berdiri di sebelah pintu toko itu. Kupandang beberapa anak sebaya denganku memegang permen gepeng tadi. Mereka asyik menjilat permen tadi dengan sesekali tersenyum ketika mendongakkan kepalanya menatap ibunya. Aku mulai menelan ludahku.

Aku berlari menuju rumah. Aku ingin segera bertemu ibu dan berteriak “Bu, belikan aku permen seperti anak yang lain”. Aku sungguh ingin tahu rasa permen gepeng dengan semburan warna yang ceria itu. Begitu aku masuk rumah, aku melihat ibuku sedang menghitung uang, kulihat celenganku yang berbentuk ayam pemberian kakek sudah berubah menjadi kepingan gerabah. Celenganku sudah dipecah ibu. Itu tandanya ada sesuatu yang terjadi.

“Anggi, nenek sakit. Nenek harus berobat. Maafin ibu ya mecahin ayamnya Anggi. Nanti ibu ganti dengan ayam yang lebih besar lengkap sama duitnya yang banyak di dalamnya. Anggi jagain rumah aja ya. Ibu pergi dulu.”

Kemudian ibu tergopoh-gopoh keluar rumah dan meninggalkan aku yang melongo memandang pecahan ayamku. Air mataku menetes. Seharusnya uang itu bisa dipakai untuk beli permen. Permen yang selalu kupandang tiap aku pulang sekolah dan membuat air liurku memenuhi mulut. Kutumpahkan rasa kesalku dengan menggambar permen yang kuinginkan pada selembar kertas bekas pengumuman tunggakan SPP sekolahku.

Malam hari ibu datang dengan membawa ayam yang besar. Tapi ayamnya kosong. Kata ibu, dia belum bisa mengisi ayamnya. Harus dikumpulkan lagi bila ibu dapat penghasilan lebih dari pekerjaannya sebagai buruh cuci.

“Bu, aku ingin permen. Gak pingin duit dalam ayam. Belikan aku permen yang bulat gepeng seperti Sasha makan tiap pulang sekolah itu ya.”

Ibu mengangguk dan mengelus kepalaku, “Iya sayang. Nanti kalau ibu dapet uang lebih, langsung ibu belikan permennya ya. Nanti kita pergi beli permennya bareng.”

Dua hari kemudian, ibu menjemputku pulang sekolah. Mukanya begitu cerah dan menebarkan senyum yang cantik.

“Anggi, ibu dapet rejeki. Kita beli permennya ya. Yang Anggi pengen, yang tiap hari Anggi gambar”

Ibu menggandeng tanganku erat menuju toko permen itu. Aroma manis itu menyeruak dalam ruangan dan seketika bermain menggelitik hidungku. Ternyata ada banyak macam permen di sana, tapi aku hanya ingin satu saja. Yang berbentuk bulat gepeng dengan ada tangkainya untuk pegangan.

“Itu namanya lolipop. Rasanya manis. Cocok buat adik yang manis.” Kakak penjual permen itu pintar merayuku.

Kugenggam tangkai lolipop. Erat-erat agar tak jatuh. Plastik pembungkusnya tak mau kurobek disini. Nanti saja di rumah, sekalian pamer ke teman-teman mainku kalo aku sudah bisa beli lolipop.

Ibu tersenyum kepadaku, tangannya hangat. Tapi kemudian semua menghitam. Dadaku sakit, aku tak bisa bernafas.

Anggi dan ibunya tewas tertabrak ketika menyeberang jalan. Lolipop itu tetap tergenggam di tangan Anggi. Lolipop yang manisnya tak bisa memenuhi mulut Anggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s