Seandainya…

Aku akan menjawab pertanyaanmu yang kujawab dengan kalimat tidak apa-apa. Yang kujawab dengan senyum palsuku.
Lidahku kelu, dalam dadaku berkecamuk, ingin bicara tapi tak bisa, ingin mengutarakan biar lega tapi menurutku ini hanya menambah masalah.

Yang ada dalam benakku saat ini,
Yang ada dalam bayanganku ketika aku memejamkan mataku,
Seandainya…
Tuhan bisa menghentikan waktu sejenak.
Seandainya…
Tangan kita bisa bergenggam sejenak.
Seandainya…
Aku bisa mengucap ingin lebih lama bersama.

Aku telah memotret banyak bingkai dirimu, yang kusimpan dalam memoriku agar saat rindu menyergapku tiba-tiba, aku bisa melihatmu ketika kututup mata ini.
Aku telah memenuhi ruang telingaku dengan tertawamu, yang kusimpan rapi agar saat rindu memaksaku mengingatmu, aku bisa mendengar candamu lagi ketika aku berada di tempat sunyi.

Bila Tuhan bersedia menghentikan waktuNya saat kau bertanya padaku, aku akan menjawab dengan jujur. Lalu aku akan membelai wajahmu perlahan aku genggam tanganmu, ingin merasakan hangat dalam dingin.

Seandainya…
Hanya akan menjadi impian.
Karna kamu ada dalam kenyataan.
Karna kamu nyata depan mataku.

Dan aku hanya bisa menatap langit yang menangis membasahi bumi. Sesekali dengan tatapan hampa dan diselingi nafas panjang.
Kau ulangi lagi pertanyaanmu itu “apa yang dipikir?”
Dan sekali lagi, tetap saja aku tak bisa menjawabnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s