Kado Kabisat

29 Februari 2012

Hari ini pasti kau tunggu. Sebuah tanggal yang hanya muncul di kalender tiap 4 tahun sekali. Dan untuk pertama kalinya aku akan menemanimu melewati hari ini.

Selamat ulang empat tahun, cintaku Nadia. Hari ini kamu genap berusia 28 tahun. Angka yang tak kecil, pencerminan dari dirimu sekarang yang makin dewasa. Aku tahu dirimu sudah lelah dirubungi pertanyaan “kapan menikah?”. Maafkan aku, karena belum melamar kamu. Belum terbersit satu pun niatan itu. Tapi mulai seminggu yang lalu, aku sudah bercengkerama dengan papa dan mama, aku utarakan niat tulus untuk melamarmu malam ini tepat saat ulang empat tahunmu.

17.15
Tepat setelah aku pulang kantor (tentunya sudah mandi dulu di kantor), aku langsung bergegas menuju rumahmu. Kau mengajukan permintaan khusus malam ini untuk kutemani kemanapun yang kau mau. Tentu saja aku mau, bahkan aku terlebih dulu memberikan kejutan sebelum memenuhi keinginanmu yang aku sendiri tak tahu apa itu.

18.00
Kamu berdandan seperti bidadari. Tak seperti biasanya yang hanya mengenakan kaos dan celana jins. Dress selutut berwarna salem, sapuan make-up natural, rambut hitam sedikit sentuhan curly dan heels hitam berhasil membuatku menganga. Tentu hal ini membuat aku semakin berdebar-debar untuk membawamu ke tempat itu.

“Nad, sebelum aku menemani kamu kemana-mana seperti permintaanmu itu, tolong pergi dulu sama aku ya.”

“Kemana?”

“Tutup mata dulu. Nanti boleh buka kalo sudah sampe tempatnya ya”. Dan aku memakaikan penutup mata begitu hati-hati, takut tatanan rambutmu rusak karenanya.

18.20
Jantungku berdebar makin keras. Kumatikan mesin mobil.

“Aku buka penutup matanya ya.”

Kau anggukkan kepala perlahan. Kau mengerjapkan mata berulang.

“Lho? Ini kan rumah kamu, Yan”

“Yuk masuk. Aku kenalin kamu ke mama papa ya.”

Tanganmu langsung menggenggam tanganku erat. Sekarang kita sama-sama memiliki rasa was-was dan cemas. Tapi begitu hangat tanganmu menyelimuti jemariku, perasaan itu berangsur menghilang.

“Pa, Ma, ini Nadia. Pacarku.”

“Cantik Yan. Pinter kamu milih calon istri” ujar papa yang membuat pipi Nadia bersemu makin merah.

“Nadia sekarang ulang tahun ya. Selamat ulang tahun ya sayang.”

“Makasih Tante, makasih Om”

Senyummu yang merekah itu membuat aku terbius sejenak. Kalau tak disenggol adikku, Brian, pasti aku masih mematung takjub.

“Eh iya, ini Brian. Adikku yang nakal tapi paling kusayang”

“Seandainya aku lahir 5 tahun lebih cepat, pasti Kak Nadia gak jadi pacarnya Kak Yan.” Semua tertawa mendengar lelucon adikku ini.

Suasana di ruang tamu ini menjadi sangat akrab. Aku melihatmu tak canggung, malah bisa berbicara dengan banyak topik. Aku lega, kamu diterima keluargaku dengan hangat.

18.40
Sengaja pamit dari rumah untuk membawamu ke tempat selanjutnya. Bukit di atas perumahan. Bersyukur malam ini tak turun hujan seperti kemarin. Malah ada bintang yang bersinar temaram.

“Yan, tempatnya bagus banget. Makasih ya uda ngenalin aku ke keluargamu. Aku rasa ini kado kabisatku yang paling berkesan. Jujur kalo boleh, ini pertama kalinya aku dikenalin ke orang tua pacarku. Sebelumnya tak pernah meski sudah berpacaran lama.”

“Iya sayang. Aku juga seneng liat respon papa, mama, Brian. Semua welcome ke kamu.Tapi kejutannya gak berhenti sampai disini.”

“Apa lagi?”

“Kado Kabisat. Untuk wanita yang paling cantik hari ini. Yang bisa merayakan pertambahan usia tiap empat tahun.”

Kulirik dulu jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 18.45. Kurogoh saku jasku. Kukeluarkan kotak kecil berisi cincin emas putih dengan satu permata di tengahnya. Aku berlutut di depanmu.

“Pada Nadia. Yang lahir di dunia pada tanggal 29 Februari 1984 pada jam 18.46 tepat 28 tahun yang lalu. Maukah kamu menjadi istriku? Maukah kamu merayakan kabisat selanjutnya dan selamanya bersamaku?”

Seandainya kamu tahu, perasaanku terlalu berapi-api untuk mengutarakan ini. Tapi aku yakin ini saat yang tepat. Memberikan kado kabisat yang istimewa. Air matamu sudah jatuh membasahi pipimu. Senyummu mengembang di bibir.

“Yan. Ini terlalu manis. Ditemani bintang di langit, kamu ngasih aku kado kabisat yang tak akan pernah diberikan orang lain selain kamu. Tentu saja aku tak menolak kado ini. Karna aku mau menjadi istrimu dan aku ingin kamu yang menemaniku di kabisat selanjutnya dan selamanya.”

Kusematkan cincin itu di jari manismu. Agak kebesaran. Tapi aku puas. Aku yakin, kamu yang aku cari untuk menjadi pendamping hidupku.

“Yan, perutku bunyi”

“Ahaha. Laper ya. Sekarang giliran tuan putri mau kemana? Saya abdi dalemnya siap mengantar.”

“Ke tempat biasa ya. Aku uda reserve tempat.”

“Siap!”

Malam ini indah, menjadi sangat indah karena ada kamu dan kamu bahagia dengan kado kabisat dariku. Empat tahun lagi mungkin sudah ada Yan atau Nadia junior yang menjadi kado kabisat istimewa. Amin.

One thought on “Kado Kabisat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s