Secuil Rindu

Melihat fotomu tersenyum manis mengingatkan aku bahwa aku masih merindukanmu walau tak sebesar dulu.
Kamu sedang apa disana?
Kamu sedang merayu pacar barumu ya?
Ah, semoga kata-kata rayuanmu berbeda dengan rayuan manismu padaku dulu.

Kita mengalir seperti air. Tapi kemudian terhenti karena ada pusaran air yang memaksa kita hanyut dengannya.
Kita seperti angin yang menentramkan. Tapi kemudian kita dirusak oleh badai.
Kita berjalan bersama tapi tak pernah menggenggam tangan.
Kita saling mencuri pandang hanya ingin tahu sedang memikirkan apa lawan pandang kita tapi tak bisa bicara dengan kata lantang.

Dulu aku tak pernah tahu isi hatimu. Dulu aku tak pernah tahu bagaimana kau menanggapi keberadaanku. Dan sekarang aku tak pernah mau tahu itu.
Tuhan tak mengizinkan kita berdekatan lagi. Tuhan tak merestui hubungan ini.
Aku percaya dengan keputusan Tuhan dan tak perlu menanyakan alasannya. Tak boleh meragukan ketetapanNya.

Kau telah mengetuk pintu hati ini lembut, memasukinya dengan bius cinta, kemudian mulai lancang mengacak isi ruangnya. Beruntunglah aku sanggup menatanya meski menahan air mata.
Yakinlah aku tersenyum lebar disini. Yakinlah aku jauh lebih baik dari yang kau kira.

Senyum terakhirmu masih terbayang dalam benakku. Kata terakhir yang kau ucap masih terngiang di telingaku.
Kau manis. Kau baik.
Tapi aku terlalu manis dan terlalu baik untukmu.
Ku yakin itu salah satu alasan Tuhan tak mendekatkan kita.
Kukirimkan secuil saja rindu untukmu. Untuk menghormati kamu yang sempat singgah dalam hidupku.

2 thoughts on “Secuil Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s