Malam Terakhir

Malam terakhir di Malang. Tapi bukan berarti untuk selamanya.
Besok harus berangkat ke Surabaya menuju Kupang. Waw, pengalaman pertama merantau. Langsung jauh di pulau yang baru pertama kali akan kuinjak.

Beberapa hari terakhir ini disibukkan dengan packing barang. Menurut kakak tingkat yang udah ada di Alor sana, bagasi maksimal 15 kg. Beberes baju-baju deh, eh, begitu ditimbang koper sampe 23 kg. Overbagasi donk. Dibongkar lagi mpe mumet yang beneran mumet. Disusun lagi ternyata ya 20 kg. Udah lah, masa bodoh dengan bagasi itu. Akhirnya ditambahin lagi isinya mpe 22 kg. Wahahaha.

Namanya juga pindahan, masa mau maksain gak overbagasi. Katanya gak ada seninya. Bahkan dibilang ntar kalo pulang kampung, lebih over lagi. Ya sudahlah, kan uda dikasih duit saku ma Mentri Kesehatan ya dimanfaatkan. Hehehe.

Malam ini Malang dingin. Mungkin dia mau ngasih ciri khasnya sebelum aku pergi. Mungkin dia tahu, satu penduduk setianya selama 24 tahun akan merantau sejenak mengamalkan ilmunya.

Semoga gak diliputi rasa mellow lagi. Karna kasian ortu kalo aku berat ninggalin mereka. Lagipula ini keputusanku sendiri. Yeiy! Semua berkat inspirasi novel Negeri 5 Menara. Man Jadda Wajada!

Bismillah, semua diniati karena Allah. Dimana-mana adalah tanahNya Allah. Semoga selalu dilindungi selama-lamanya. Amin.

Yo, Maretha akan berpetualang. Tunggu ceritaku di kab. Alor, Nusa Tenggara Timur.

5 thoughts on “Malam Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s