Pulau Sika, Alor

Di pagi buta 8 April 2012 jam 05.00 wita, uda siap-siap menuju Pulau Sika. Pulau ini berada dekat bandara Mali. Mungkin buat kalian yang pernah nonton Paradiso di Trans 7 edisi Alor pasti ada liputan tentang pulau ini.

Kenapa kok harus berangkat pagi sekali? Karena untuk menuju pulau Sika, kita harus berjalan kaki. Dan jalan kaki itu di laut lho. Semakin pagi, semakin rendah ketinggian air merendam badan ini. Tapi karena terlalu banyak hal, yang tadinya pingin lihat8 sunrise jadi gak keturutan.

Sekitar jam 06.00 wita sampailah rombongan yang berisi Retha, mbak Nina, Bismo, Rizki, Ayu, Anin, kak Citra, dan 2 sepupu kak Citra di pantai Mali. Disusul beberapa personil yang sama-sama mau nyebrang ke Pulau Sika. Pasir pantainya lembut banget dengan warna putih. Lautnya berwarna biru dengan gradasi warna muda yang tampak indah.

Setengah jam kemudian, mulailah berjalan di lautan buat nyebrang. Subhanallah, airnya bersih banget. Di dasarnya banyak rumput laut dan beberapa terumbu karang yang udah mati yang pasti karna sering diinjek. Katanya kedalamannya cuma semata kaki, eh ternyata uda lewat lutut. Bahkan hampir di tengah laut udah sampai separuh paha. Gini jadi mikir kalo pulang nanti bakal setinggi apa. Yang acara Paradiso itu pas pulang, ketinggian air uda sampai dada orang dewasa.

Walking in the water. Melawan arus makin ke tengah makin berat. Tapi kan gak mungkin juga berhenti sekedar istirahat di tengah laut itu. Ya diteruskan saja lah. Dan akhirnya sampai di pulau Sika, di sini terdapat sebuah makam seorang sultan yang berasal dari Kesultanan Menanga, Flores. Konon pulau ini termasuk pulau keramat jadi seharusnya ditemani pawang. Ada beberapa larangan untuk tidak berkata kotor maupun buang sampah sembarangan biar pulang bisa selamat.

Di dalam pulau ini juga gak lama-lama. Karena pulau ini tak berpenghuni dan takutnya air sudah semakin meninggi untuk disebrangi. Sambil berfoto pinggir pantai dengan kamera bagus, diteruskan fotonya di tengah laut saat nyebrang, warna air laut ini makin cantik. Aku makin kagum. Seandainya ada ikan kecil yang nemenin nyebrang pasti makin lucu. Hehehe.

image

image

Ternyata tinggi air lautnya masih tetap. Tapi arusnya makin kencang. Jadi kalo nyebrang sambil ngobrol gak fokus, pasti jadi ngikut arusnya. Begitu sampai di pantai Mali, kita dikasih suguhan pesawat yang lagi take off. Ya maklum aja kita deket dengan ujung landasan bandara.

Jam 09.00 wita berpisah dengan pantai Mali. Berharap nanti bisa kembali lagi ke pulau Sika dengan menikmati sunrise sebelumnya.

Buat yang punya rencana jalan-jalan, silahkan mampir ke pulau ini. Sungguh keindahan Allah ini teramat cantik.

image

Tunggu ceritaku yang lain di Alor😉

4 thoughts on “Pulau Sika, Alor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s