Dua Nyawa

Aku membayangkan bagaimana ada dua nyawa di dalam satu tubuh. Aku membayangkan bagaimana antusiasnya nyawa pertama ketika mengerti akan ada nyawa kedua bersemayam dalam tubuhnya. Nyawa pertama berusaha melindungi nyawa kedua dengan segala kekuatan yang ia miliki. Apalagi bila nyawa kedua ini telah dinantikan bertahun-tahun lamanya.

Ketika nyawa kedua mulai tumbuh dalam perut nyawa pertama, nyawa kedua akan memberikan nuansa bahwa ia merasa nyaman di dalam perut itu. Nyawa kedua akan mulai menendang dan berputar-putar. Nyawa pertama merasa bahagia akan eksistensi nyawa kedua itu. Dan ia akan reflek memegang perutnya yang mulai membesar sembari mengelus dan berkata “Iya, sayang”.

Aku mulai kesulitan membayangkan bagaimana nyawa pertama itu hidup sendiri dipisahkan jarak pada belahan jiwanya. Nyawa pertama harus berjuang melewati hari, jam, menit, detik, milisekon, menjaga nyawa kedua. Tak bisa aku membayangkan ketika udara dingin namun tubuh nyawa pertama tengah menggigil melawan virus yang bercokol di tubuhnya namun tak ada belai dan peluk hangat dari belahan jiwanya. Ketika nyawa pertama harus menangis sendiri, meringkuk di kasur dan hanya berteman guling. Aku mulai resah tak sanggup membayangkan itu. Namun, lagi-lagi, nyawa kedua menguatkan nyawa pertama. Nyawa kedua mulai menendang ketika air mata nyawa pertama telah menetes dan membasahi bantalnya. Nyawa kedua mulai panik ketika nyawa pertama mengeluh akan keadaannya ini. Dan nyawa pertama akan kembali mengelus perut besarnya itu dan berkata, “Maafkan ibu, sayang”.

Disini aku mulai bisa kembali membayangkan sebuah euforia dari nyawa pertama ketika ia telah bermimpi tentang wajah nyawa kedua. Nyawa pertama bercerita pada semua orang bagaimana ia telah bisa menimang, menyusui, memandikan, dan menina-bobokan nyawa kedua. Ia tak sabar ingin segera melihat wajah nyawa kedua yang gemar bermain bola dalam perutnya. Dan nyawa pertama mulai merasa takut ketika perutnya makin rajin berkontraksi dan air ketubannya pecah.

Tangisan yang melengking kemudian memenuhi ruangan yang sudah berbau anyir. Nyawa kedua telah bernafas sendiri, telah hadir di pelukan nyawa pertama. Dikecup pipi dan dahi nyawa kedua itu. Tangan nyawa pertama digenggam erat oleh belahan jiwanya. Kulukiskan itu semua menjadi sesuatu yang sempurna.

Untuk kakak sekaligus sahabatku, Siti Nurul Hapsari, yang tinggal menunggu waktu untuk bertemu penghuni rahimnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s