Bukapiting, syukur dan mandiri

Lama sudah gak menyapa di blog ini. Harap maklum dengan keterbatasan koneksi internet di sini. Hehehe.

Saya udah dapet puskesmas penempatan, namanya puskesmas Bukapiting. Lucu ya namanya? Sama lah kayak dokternya yang unyu ini. Satu minggu saya udah menjalani kehidupan menjadi dokter di puskesmas. Dan banyak cerita yang mewarnai hariku selama 5 hari berada disitu.

Hari pertama datang di puskesmas, disambut dengan acara orientasi. Pasien hari senin lagi banyak, karna hari senin disebut hari pasar. Maksudnya, pasar disini lagi buka. Fyi, pasar di bukapiting cuma buka hari senin n kamis. Smua warga pada turun ke pasar sekalian berobat, makanya puskesmas rame pasien di hari senin n kamis. Dilanjutkan pada malam hari dengan tragedi dokter unyu ini pingsan dan diinfus pake cairan isi gula. Benar-benar kejadian yang memalukan, menggemaskan, dan me- me- lainnya. *supisial thanks buat dokter Bismo, mama Yo, mama Lin, mama As, n sapapun yg tak bs kusebut satu persatu yang sudah khawatir n nolongin saya*

Hari kedua sudah mulai periksa pasien. Logat bicara yang konyol, lalu keluhan pasien yang banyak tentang demam dan menggigil yang membuat diriku banyak menyuruh mereka cek malaria. Siang harinya diajakin icip makanan di kecamatan. Jadi lumayan sekali menghemat uang untuk makan siang.

Hari ketiga, kedatangan tamu dari Kalabahi. Suasana rumah jadi rame. Siang pulang dari puskesmas yang jaraknya ke rumah dinas tinggal ngesot aja, nyempetin masak sayur bayem ma oseng tempe yang bahannya titip dari bidan yang kebetulan kemarinnya turun ke kota. Sore harinya main ke pantai Maukuru. Lautnya kayak kali soalnya berbatu besar-besar, airnya jernih banget mpe bisa lihat ke dasar, airnya asin banget. Kita semua puas berenang dan menutup hari dengan lihat sunset.

Hari keempat, pergi dulu ke pasar sebelm bertugas. Mencengangkan ketika tau sayur yang dijual cuma sawi ma daun singkong. Harapan untuk masak sop pupus sudah. Sorenya main ke bendungan dan saya yang nyetir sepeda motor lho goncengin tamu. Dilanjutkan ke Tuti, semacam tempat air panas dan berbelerang. Eksperimen merebus telur di semburan air panas ternyata berhasil. Dan petang hari minum air kelapa gratis.

Hari kelima, tamu-tamu pulang, rumah balik jadi sepi, puskesmas juga sepi. Tapi perasaanku gembira karena hari ini bakal turun ke kota yang berarti akan ketemu listrik, air bersih dan makanan melimpah. Dan benar saja ketika sampai di kamar kos, aku langsung tertawa karena bisa merasakan kipas angin di siang hari dan bisa menyantap ayam goreng.

Bukapiting,
Listrik 12 jam dari jam 6 sore sampai 6 pagi. Siang hari tidur dengan bermandi keringat karena udara panas.
Air, tidak ada harapan air kran bakal nyala. Jadi harus tarik-tarik selang buat menuhin bak kamar mandi.
Makan, di setiap hari pasti ada manu mie instan dan olahan telur karena susah sayur dan buah segar.

Jawa,
Listrik 24 jam, air melimpah ruah, sayur dan buah setiap hari ada di pasar. Oleh karena itu, bersyukurlah kalian yang tinggal di Jawa. Jangan mengeluh ketika listrik tiba-tiba padam, jangan buang-buang air bersih, dan banyaklah makan sayur dan buah. Di sini, banyak saudara kita yang bertahan hidup dengan segala keterbatasan ini.

PTT merubahku. Menjadi lebih bersyukur dan menjadi lebih mandiri.

4 thoughts on “Bukapiting, syukur dan mandiri

  1. betul bgtz mbak..
    ktika KKL (kuliah kerja Lapangan) saya juga mngalami hal bgtu.
    pkokny berbeda dg khdupan normal. Mau gag mau, yaa dinikmati saja dan jgn lupa brsyukur..

    nama nya emg lucu mbak, bukapiting..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s