Pengecualian

Aku pernah berjanji. Aku tak akan pernah lagi menyanyikan lagu cinta sejak kejadian itu.

Kala itu aku melihat ibuku menangis, aku mendekatinya dan kulihat darah segar mengucur dari hidungnya, matanya lebam sebelah. Dia memelukku erat dan kembali tenggelam dalam isak tangisnya yang makin keras.

Sejak hari itu, aku tak pernah lagi melihat wajah ayahku. Ibuku tersiksa dengan ringan tangan ayah. Hal itu bukan sekali saja aku pernah melihatnya. Tapi ibu selalu membela ayah, katanya itu tanda sayang padanya. Tapi sekarang aku tak percaya. Kasih sayang yang seharusnya diterima ibu bukan pukulan, bukan tendangan.
Sejak itu, aku menyimpan dendam pada ayah dan pada laki-laki dewasa lain.

Bila semua orang berkata, aku mewarisi kecantikan ibuku, berarti aku kini tumbuh menjadi gadis seperti bunga mawar yang merekah. Dan tentu dengan seragam putih abu-abu ini, banyak laki-laki yang menaruh perhatian lebih. Semakin mereka mendekatiku, semakin jelas bayangan 8 tahun itu menghantui hidupku. Sosok ibu yang berdarah selalu mampir dalam mimpi malamku. Aku selalu terbangun dan berteriak, ibu tak pernah absen memelukku dan aku tak pernah berhenti mengutuk ayahku itu.

Ada satu yang terus berjuang. Yang tak pernah lelah menghadapi kerasku meskipun aku sering membentak dirinya. Selalu berjalan di belakangku ketika aku pulang sekolah, seolah dia ingin melindungiku, seolah dia mengerti takutku bertemu lelaki dewasa. Hingga ibu menanyakan namanya dan mengatakan ingin bertemu dengan dia.

Namanya Donny. Dia berasal dari keluarga yang harmonis, beda denganku yang berasal dari keluarga yang berantakan. Dia anak pertama dengan 3 adik, sedangkan aku hanya anak tunggal dengan hidup penuh trauma. Dia bergelimang kasih sayang dari kedua orang tuanya, sementara aku menaruh dendam sangat pada sosok ayah.

Donny mampir ke rumah, dia mencium tangan ibu. Sebuah perasaan ada yang menggelitik, berdesir di dalam dada. Dia datang karena permintaan ibu, tak bisa kutolak semua permintaan ibu. Kemudian ibu dan Donny terlibat dalam sebuah pembicaraan serius hingga ibu memanggilku. Ibu menatapku dalam, membelai rambutku dengan lembut, Donny menyimpan duka dalam matanya, dan dia datang ke arahku kemudian menggenggam tanganku. Semakin terkoyak dalam dada ini, aku tak pernah merasa seperti ini.

Dan sejak hari itu, Donny selalu berjalan di sampingku, menemaniku pulang sekolah menuju rumah. Aku tak pernah lagi berteriak keras padanya ketika dia bertanya padaku. Aku memberanikan diri untuk menceritakan hal ini pada ibu.

“Bu, sejak Donny datang ke rumah dan memegang tanganku, ada rasa yang berbeda. Sekarang aku merasa nyaman ketika tahu dia berjalan di sampingku. Aku merasa lega setelah bercerita tentang susahnya pelajaran hari ini. Dan merasa lengkap ketika dia menggenggam tanganku. Apa ibu pernah merasa hal serupa?”

Ibu tersenyum padaku.

“Itu namanya cinta. Terjadi pada setiap perempuan dan laki-laki. Itu hal yang manusiawi. Jangn pernah kamu mengelak akan perasaan itu. Cinta yang akan membuat hidupmu berwarna.”

“Tapi bagaimana dengan ayah dan ibu? Apa cinta itu selalu berakhir dengan perpisahan?”

“Nita, anakku, cinta pasti akan berawal dari pertemuan dan berakhir pada perpisahan. Namun bagaimana cara kita bertemu dan berpisah tak pernah ada yang tahu. Bila dulu ayah kasar pada ibu, ibu sempat menyesal mengapa harus bertemu dengannya. Tapi sekarang ibu sudah memaafkannya, karena bila ibu tak bertemu ayahmu, ibu tak pernah memiliki gadis cantik dihadapanku ini.”

Sekarang aku telah membuat sebuah perkecualian, ada satu laki-laki yang berbeda dari ayah dan aku merasakan cinta padanya.

(Paramore-The Only Exception)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s