Segudang Kata Untuknya

Sejatinya aku tak pernah senang dengan perpisahan. Apalagi sebuah perpisahan yang menyedihkan, yang membuat air mata harus menetes. Tapi bila sebuah perpisahan itu mengantarkan sesorang menuju jalan yang lebih baik lagi berarti tidak apa-apa untuk berpisah kan?

Pertama kali aku dan kawan lain menginjakkan kaki di Alor, yang pertama menyambut kita dengan senyum adalah dia. Yang pertama mengajak kita berkeliling mengenal Kalabahi ya masih dia. Hingga waktu penempatan puskesmas, nyatanya aku bertemu lagi dengan dia.

Satu bulan berada di lingkungan kerja yang sama, mau tak mau membuat aku sering kontak dengan dia. Bercanda? Terlalu sering. Bertengkar? Apalagi. Yang kuingat, pernah sekitar 4 hari aku sengaja diam gak ngajakin ngobrol ya karena dongkol. Tapi setelah dipikir-pikir, kalo aku waras harusnya aku ngalah. Ya sudah aku ngalah saja. Ahahaha.

Tanggal 24 Mei 2012, malam hari, Bukapiting.
Perpisahan itu terjadi. Diwarnai haru dan tangis dari beberapa staf Puskesmas. Adegan mengharukan itu adalah saat Kepala Puskesmas dan Kepala Tata Usaha mengenakan kain tradisional yang ditenun lengkap dengan namanya. Aku sudah menahan air mata itu kuat-kuat, dan aku diselamatkan dengan mati listrik yang membuat ruangan gelap.

25 Mei 2012, menjelang siang, Bukapiting.
Oke, kali ini sudah tidak bisa menahan lagi air mata. Aku gak pernah suka dengan adegan melambaikan tangan lalu menghadapi kenyataan akan ada sebuah jarak yang jauh benar-benar jauh yang entah kapan bisa kembali lagi kemari. Oiya aku beritahu saja. Waktu dia pamitan ke Polsek, aku duduk di bangku depan ambulans sembari sibuk menghapus air yang nakal yang pengen jatuh dari mata dan hidung. Hehehe.

26-28 Mei 2012
Kita telah mengisi jaras otak kita dengan kenangan indah. Bermain di pantai Sabanjar, olahraga badminton, karaoke di Resto Mama, naik di bak blakang pickup ke Kokar, dan malam terakhir itu ditutup dengan tertawa bersama di sebuah ruang di kos Tingkat Satu.

Hari pertamaku datang di Alor, hari-hari selanjutnya di Alor lalu hari terakhir dia di Alor tak akan terlupa. Terlalu banyak cerita. Lengkap dengan tawa dan air mata untuk dikenang.

Dan hari ini, 29 Mei 2012, dia pulang. Kembali pada pelukan keluarga dan orang yang mengasihinya di Jawa sana. Mengejar, meraih dan menjemput impian-impian lainnya.

Dr. Bismo Nugroho, itu namanya.
Beberapa tingkah lakunya mengingatkan aku pada kakak laki-lakiku di Malang dan mantan pacarku. Aku sudah kenal dia sejak di bangku kuliah, tapi karena PTT ini yang membuat aku sedikit lebih tau karakternya. Baik dan usil tapi dia sudah seperti kakak buatku. *annhyeong Oppa~😀
Kalo sudah di Jawa jangan lupa ma adek kecil ini ya. Adek kecil ini gak bisa membalas kebaikanmu, tapi cuma bisa mendoakan yang terbaik buat kamu dan biar Allah yang mewujudkan doaku. Dan semoga apa yang diucapkan Om Son saat doa bersama bisa menjadi nyata (aku gak tahan juga pengen nangis ketika masing-masing kita diucap dalam doa itu). Amin.

Baik-baik di Jawa sana, jangan pernah lupakan dokter2 PTT Alor yang unyu ini. Smoga silaturahmi kita tetap ada dan aku selalu menantikan kabar gembira dari kamu, Mas. Kalo kangen, tinggal puter video kita yaaa🙂
*dadah2 ke langit* tendang2 oppa Bismo*

image

6 thoughts on “Segudang Kata Untuknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s