Detik Menuju Pelukan Hangat

Sesekali lupakan kata-kata romantis. Mari menyimak ceritaku, setelah tepat 4 bulan berada di ranah timur Indonesia. Tulisan ini dibuat tepat setelah selesai observasi pasien dengan cedera kepala ringan. Hari ini di sore hari, menjelang berbuka puasa, disuguhi dengan 3 pasien kecelakaan jatuh dari motor, 2 diantaranya mengalami cedera kepala ringan sedang satu hanya luka lecet, dan 1 lagi tangan terkena parang dan perlu dijahit.

Menemui kejadian ini, ingatanku kembali melayang kepada bulan awal aku berada di Alor, masih fresh, masih di minggu pertama. Entah aku udah cerita di blog ato belum, tapi kalau sudah ya tak apalah kuceritakan lagi.

Di salah satu puskesmas yang ada di sebelah barat Alor, saat singgah untuk sholat Magrib dan bilas badan lepas main di pantai dan menikmati sunset. Ketika itu aku dan 6 dokter PTT lainnya asyik bercanda di ruang tamu rumah dinas puskesmas tadi, tiba2 terdengar teriakan memanggil ‘Bu Dokter, Bu Dokter’. Dan ternyata, ada pasien kecelakaan. Langsung saja dokter Intan yang bertugas di puskesmas itu bergegas keluar dan menghampiri pasien celaka tadi ditemani dokter Bismo. Aku masih asyik duduk saja dan melanjutkan tertawa. Karena 2 TS (teman sejawat) tadi tak kunjung kembali, akhirnya aku dan 3 dokter lain ikut keluar. Dan oke, aku menemukan diriku berdiri tercengang dalam keadaan syok.

Puskesmas tadi gelap gulita, padahal dia ada di kawasan listrik 24 jam. Padahal, satu pasiennya sudah tidak sadar dan butuh dirujuk. Seperti prosedur yang ada, pasien seperti itu harus diinfus terlebih dahulu. Lalu bagaimana bisa menusukkan jarum infus di tengah kegelapan? Yah, emergency lamp adalah jawabnya. Di antara kerumunan orang yang mengantar pasien dan teriakan dokter Intan untuk menyuruh sebagian orang tadi keluar ruangan, aku berjalan dan duduk di kursi depan. Aku benar2 syok. Apa nanti aku seperti itu juga? Di saat langit gelap, tiba2 pintu rumah dinasku diketuk karena ada pasien celaka dan lenih mengenaskan tak ada penerangan di puskesmas untuk melakukan tindakan. Di saat itu pula aku langsung lemas dan bertanya dalam hati, apakah aku siap untuk PTT di tempat seperti itu? Dan aku hanya bisa menenangkan diri dengan berkata, ‘kalo aku diterima PTT di sini, berarti Allah percaya aku mampu.

Selesai bernostalgia dengan cerita yang membuat diriku syok itu, ingatanku meloncat ke depan tepat di hari perpisahan dokter Bismo bertugas di Bukapiting. Sepulang dari kota untuk belanja keperluan perpisahan, kami disambut pasien gegar otak ringan. Masih aku ingat kata-kata dia, ‘dulu pasien pertamaku disini juga pasien celaka. Sekarang biar ini jadi pasien terakhirku jg, pasien celaka. Dan semoga takdirku ada di bedah.’  Tak berhenti sampai di situ, tengah malam disuguhi pasien post melahirkan dan mengalami perdarahan. Butuh dirujuk. Keadaan puskesmas tempatku bekerja ini tidak terlalu mencengangkan, di sini masih ada lampu yang bersinar meski redup di ruangan tindakan, masih ada perawat dan bidan yang tinggal di samping rumah dinas yang siap membantu bila ada pasien gawat. Di sela menangani pasien pun masih bisa tertawa. Berarti aku sudah tidak syok. Aku siap dengan keadaan ini.

Dan 2 hari yang lalu, sempat terjadi perkelahian di jalan atas puskesmas. Beberapa orang mabuk saling baku hantam hingga satu orang luka-luka di kepala akibat dipukul batu. Malam itu, suasana tegang karena di luar sana orang-orang itu memegang batu sebesar genggaman orang dewasa dan siap dilemparkan ke oknum perusuh yang menjadi korban. Hingga polisi dari kota harus naik ke gunung untuk mengamankan situasi. Kali ini di Bukapiting, aku sudah berganti partner kerja dengan dokter Desi. Di sini aku makin bersyukur, aku masih bisa hidup dan bertumpu dengan dua kaki sembari membungkuk-bungkuk untuk menjahit luka robek di kepala korban. Meskipun aku miris, alat-alat disini jauh dari namanya steril, lalu yang seharusnya luka robek digrojok habis-habisan dengan cairan steril, aku hanya bisa membersihkan seadanya karena terbatasnya stok cairan tadi. Aku hanya bisa menjahit luka tadi dengan banyak berdoa, biar nanti jadi infeksi, semoga tak terlalu parah.

Jadi, PTTku adalah listrik 12 jam dan daya 450watt untuk 2 rumah dinas yang bikin listrik sering jegleg dan bikin laptopku makin eror, sinyal empot-empotan, air suka mati sehingga harus timba air, obat dan alat kesehatan minim jumlah, lalu di puskesmas Bukapiting sini hanya aku yang muslim jadi aku harus bangun sahur sendiri, menahan lapar dan haus di antara orang-orang yang asyik merokok, makan sirih pinang dan minum air banyak-banyak di siang hari, buka puasa harus menunggu missed call dari TS di kota karena tak ada masjid di sini. Tapi aku bersyukur, aku bisa melewati ini semua,  krn aku selalu berpikir aku ini anak bontot yang fasilitas selalu dipenuhi bapak ibuku yang tak bisa apa2 bila kluar rumah, tapi ternyata aku bisa, aku mampu. Sebenarnya siapa yang tidak bangga dengan diri sendiri yang bisa menghadapi hal-hal seperti itu? Tapi bila ingin memuji, jangan puji aku. Pujilah dokter-dokter yang rela mengabdi di pulau yang tak ada listrik, sinyal atau air dan jauh dari fasilitas rujukan. Merekalah yang menurutku harusnya diacungi jempol karena keberanian dan kerelaan untuk menolong yang susah.

PTT, 4 bulan, sepertiga jalan sudah kulalui. Cerita di atas hanya sebagian kecil saja dengan berjuta kali tertawa dengan ada puluhan tangis di antaranya.
Yang paling penting, banyak sahabat yang kutemui di pulau ini. Mereka baik semua dan mau melindungi sesama dokter PTT. Ah, nanti lah pasti aku ceritakan mereka.
Aku mulai menghitung hari, jam, menit, detik menuju pelukan hangat rumah di Malang.

Bila ada TS yang merinding saat membaca cerita ini, jangan hanya bayangkan. Tapi terjunlah kemari juga, masih banyak yang butuh pertolongan lewat tangan kita. Tapi ingat juga, niat kita harus menolong, bukan berharap lebih. Gaji aja keluarnya seret dan kadang regulasi membuatnya berbelit-belit, padahal itu hak kita setelah bekerja 1 bulan (mendadak curcol).
Dan yah, jangan puji aku berlebihan karena kesempurnaan hanya milik Allah *dorce show show shooww* (GR duluan).

Selamat malam kawan.
Selamat mengabdi untuk seluruh dokter dan dokter gigi PTT di Indonesia.
Selamat merindu kampung halaman.

(^Δ^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s