Topeng

Aku berkenalan dengan perempuan manis itu di acara inagurasi kampus. Kami berdua sama-sama mahasiswa baru yang tersesat di gedung serba guna kampus. Aku belum memiliki banyak teman saat ospek kampus, begitu juga dengan dia.

“Hai, aku Gunawan. Anak sastra inggris kan?” kuulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan dia.  

“Hai. Aku Ina. Kok tau kalo aku di sastra inggris?” tangan mungilnya kugenggam sudah dan kurasa hangatnya berpindah ke tanganku. Di wajahnya terlukis senyum manis dari bibir tipisnya.  

“Karna aku juga anak sastra inggris. Kemarin waktu ospek jurusan kan kamu menang debat, jadi sapa yang gak tau kamu. Riana Adanti.”  

“Ah, kamu bisa aja, Gunawan Pranindito.”  

“Lho? Kok tau nama lengkapku?” giliran aku yang dibuat heran karena aku bukan asli kota ini, jadi seharusnya tak ada yang kenal aku.  

“Sapa yang gak kenal atlet basket yang kemarin bolak-balik bikin three point waktu lawan anak sastra jepang?”  

Dan kami berdua sama-sama tertawa di tengah ramainya acara inagurasi. Tak sadar ada beberapa pasang mata sedang menatap lekat ke arah kami.  

**  
Kudapat melintas bumi, kudapat merajai hari
Kudapat melukis langit, kudapat buatmu berseri

Sosok Ina mampu mengisi otakku tak kenal waktu. Aku kecanduan akan dia. Tak bisa bila tak menanyakan kabarnya walau hanya lewat BBM. Meskipun satu jurusan, kami jarang satu kelas karena huruf depan nama kami yang jauh jaraknya. Tak jarang aku sengaja berlama-lama di kantin atau ke lapangan basket sembari menunggu kelas terakhirnya selesai.  

Lalu aku menemukan sahabat di kampus ini, Doni. Kami sama-sama bergabung di unitas bola basket. Kita berdua beda jurusan, tapi terlalu sering kumpul bareng di kantin. Sekedar merokok dan menggoda teman-teman wanita yang bersliweran depan kami. Kuakui, Doni adalah tipe idaman perempuan banyak, tinggi, ganteng, kaya, tak ada yang kurang dari dia. Tak pelak, tiap kali kami menggoda mahasiswi yang lewat, mereka terlalu menaruh harapan lebih. Tak hanya Doni yang punya banyak fans, aku juga tak kalah banyak menerima pujian sana-sini. Kata Sari dan kawan-kawannya, uda ganteng, jago bahasa Inggris pula. Hahahaha.  

Mungkin karena itu akhirnya banyak perempuan yang patah hati ketika mereka tahu sekarang aku sering jalan berdua dengan Ina. Dan sebaliknya, banyak laki-laki yang kecewa ketika hampir seluruh isi kampus bergosip bahwa aku dan Ina sudah berpacaran. Yah, kami berdua sedang dimabuk cinta. Memang benar, Ina adalah sosok yang aku cari setelah kepergian Maya, mantan pacarku yang pergi dengan laki-laki lain. Ina adalah perempuan idola tiap laki-laki di kampus ini menjadi klop dengan aku yang jadi idola tiap perempuan di sini.

Pada 6 bulan pertama hubungan ini, semua berjalan lancar. Sangat lancar bahkan. Ina bisa membuat aku tersenyum seharian. Ina juga pintar memasak. Hampir setiap malam minggu kami habiskan berdua di rumah kontrakannya untuk menyantap pasta buatannya. Dan sering juga dengan Doni, kami pergi bersama. Nonton bioskop atau pergi ke tempat wisata di akhir pekan. Doni seorang playboy, padahal dengan ketampanan dan uang yang berlimph tentu tidak sulit bagi dia untuk menggaet wanita. Tapi entahlah, dia lebih suka untuk menjalani hubungan main-main dan tak berkomitmen.  

**  

“Don, kenapa sih gak nyari pacar?” tanya Ina pada Doni yang asyik menghisap rokok putihnya.  

“Males ah. Punya pacar berarti ada yang ngatur hidup. Cewek itu ribet, banyak maunya. Liat aja si Gunawan tuh, lo atur melulu hidupnya. Gue liatnya aja capek, apalagi Gunawan yang ngejalanin.”  

“Yaelah Don, gue aja yang punya hidup gak pernah ngrasa diatur ma Ina. Kenapa jadi elo yang capek?!” timpalku sembari meneguk vodka dingin dalam gelas panjangku.  

“Tuh kan. Cepet cari gih, biar kalo kita jalan ceweknya gak cuma gue aja, ada temen yang bisa kasih gue pendapat beli baju kek, sepatu kek. Iya kan sayang?” Ina langsung menggamit lenganku manja. Aku paling suka kalau dia bermanja-manja denganku, serasa aku orang yang paling dia butuhkan.  

“Kelakuan lo, Na! Shopping mulu. Ntar lo tunggu aja deh, gue uda punya bidikan. Rada susah nih. Doain aja ya.

**  

Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan tugas akhir semester. Yang biasanya aku mengantar jemput Ina, semua kulimpahkan pada Doni. Aku tidak pernah tega membiarkan Ina naik angkot atau taksi sendiri. Lebih baik dia aman dengan Doni. Bahkan jadwal turnamen bola basket antar kampus di Surabaya membuat aku semakin jarang bertemu dan terkadang pulang latihan langsung tidur, jadi tidak sempat untuk menghubungi Ina.  

Hari Sabtu malam ini aku ingin makan berdua saja dengan Ina, tapi dia tidak bisa. Alasannya menemani Doni pergi ke Malang untuk menjenguk keluarga Doni yang sakit keras. Aku maklum, Ina pasti merasa berhutang budi pada Doni yang selalu mengantar jemput Ina kuliah.  

Berlanjut ke Sabtu depan, depan lagi, dan hampir setiap Sabtu malam, Ina memiliki alasan untuk menghindar dariku. Begitu pula dengan Doni, kami berdua sudah jarang bertemu, dia tak pernah lagi terlihat merokok di sudut kantin dan tak pernah ikut latihan basket. Hanya sesekali saja Ina mau bertemu denganku, tapi hanya sebentar lalu dia pamit dengan alasan kesibukannya. Aku mulai curiga, sebenarnya ada apa dengan mereka berdua. Tiap kutelpon tidak diangkat, kuhubungi Doni malah tidak aktif handphonenya. Perasaan seperti ini mengganggu sekali. Hanya mengingatkanku pada Maya. Darahku serasa mendidih tiap mengingat kejadian Sabtu malam saat kulihat Maya tengah bercumbu dengan sepupuku sendiri.  

**  

“Wan, gue jarang banget liat lo jalan berdua ma Ina. Padahal dulu kemana-mana lo berdua kayak amplop ma perangko aja. Nempel mulu. Kenapa? Putus lo?” si Aryo menjejalkan pertanyaan yang sesaat membuat kupingku panas.  

“Gak, gue masih ma dia. Lo kok sewot bener nanya gue putus ato gak ma si Ina.” nada bicaraku mulai meninggi.  

“Eits, sante bro. Sebelumnya gue minta maaf ya. Gue kan sering sekelas tuh ma Ina, tapi semester ini gue jarang liat dia masuk kelas. Sekalinya dia masuk kelas, uda macem orang gak keurus gitu. Skali lagi sori nih bro, katanya sih dia uda mulai pake narkoba. Ketularan si Doni.”  

Kau dapat buatku mati, kau dapat hitamkan pelangi
Tapi kudapat melangkah
Bila kau tipu aku disini, kudapat pergi melangkah pergi
Kudapat itu.  

Serasa dadaku tertikam. Pikiranku langsung kacau. Aku langsung menuju parkiran motor dan membawa motorku melaju kencang ke kontrakan Ina. Hujan deras mengguyur jalanan dan membuatku basah. Bukannya membuat hatiku dingin, tapi kepalaku makin panas dan penat terngiang kata-kata Aryo yang mengatakan Ina memakai narkoba.  

“Katanya dia mulai pake narkoba. Ketularan Doni.”

Kalimat itu memenuhi telingaku. Pikiranku mulai tak waras.  

Sesampainya depan kontrakan Ina, aku melihat mobil parkir di garasinya. Bukan mobil Doni, mobil sedan berwarna merah terang dengan kaca ditutup kaca film gelap. Ada tiga pasang sepatu laki-laki dan satu pasang high heels di teras depan. Kubuka pintu depan yang tak terkunci itu. Terdengar sayup-sayup suara musik dengan beat cepat yang asalnya dari kamar belakang, kamar Ina.  

Aku berjalan pelan agar tak menimbulkan suara. Pintu kamar depan terbuka, kuintip dari sela pintu yang terbuka, ada laki-laki tertidur dengan banyak botol minuman keras di sebelahnya. Aku masuk ke dalam dan ternyata Doni. Tak kusangka Doni berbuat seperti ini. Dan omongan Aryo benar, Doni pemakai.  

Semakin ke belakang, aku mendengar suara laki-laki dan perempuan yang tengah merintih. Persis seperti suara para pemain film porno yang biasa kutonton bersama Doni. Makin mendekati kamar Ina, makin keras suaranya. Dan suaranya tak hanya satu laki-laki dan satu perempuan. Pintunya terbuka sedikit, kuintip lagi. Mukaku memanas, tanganku mengepal, kugegat gigiku, aku melihat Ina sedng asyik bercinta dengan dua laki-laki. Satu perempuan lain memegang handycam, sepertinya tengah merekam aksi gila itu.  

Penglihatanku mulai tak jelas dan terlihat abu-abu. Setan mulai membisikkan padaku hal yang aneh-aneh. Badanku terasa ringan tapi sangat panas, langkahku ringan sekali. Aku tak bisa mengatur kemana aku berjalan. Suara lagu yang mereka setel di kamar semakin terdengar keras seperti ingin memecah gendang telingaku. Aku sudah tak bisa menahan diri, aku berbalik ke kamar itu dan membuka pintunya lebar-lebar.  

Ina berteriak kaget. Teman bercintanya juga kaget dan melepaskan pelukannya pada badan Ina yang tak berbalut selembar kain. Kejadian ini persis seperti 2 tahun yang lalu ketika aku memergoki Maya. Aku berlari menuju arah Ina yang berteriak histeris dan ada yang hangat terciprat ke mukaku. Satu perempuan lain ikut berteriak, aku semakin merasa tanganku hangat. Kulihat satu laki-laki yang ada di samping Ina, tanganku segera menuju dadanya dan darah menyembur dari dada kirinya. Seketika pandanganku berangsur berubah warna. Aku melihat tanganku memegang pisau dapur dan penuh darah. Di kasur terbaring Ina dengan luka menganga di lehernya sedang teman bercintanya penuh bersimbah darah dengan luka tusuk dalam tepat di jantungnya.  

“Ina, ini setimpal untuk perbuatanmu. Kau layaknya penjaja cinta di pinggir jalan tak tahu malu. Wajah manismu tak mencerminkan perilakumu. Lebih baik hidup berakhir seperti ini daripada kau menanggung dosa lebih banyak lagi.”  

Tapi buka dulu topengmu, buka dulu topengmu
Biar kulihat warnamu, kan kulihat warnamu  

**

“Ayo minum obat dulu.” pinta seorang suster pada pasien laki-laki berambut gondrong acak-acakan. Tatapan pasien itu kosong dan tanpa satu patah kata, tangannya langsung mengambil obat yang ada dihadapannya.  

“Kasian ya pasien itu. Pasti trauma sekali. Padahal dia ganteng juga lho! Tapi gimana-gimana tetap pembunuh.”  

Dua suster asyik memandangi ke arah suster senior yang sedang menemani sang pasien minum obat dengan salah satunya memegang koran hari ini.  

‘Pelaku Pembunuhan Dinyatakan Tidak Bersalah’
Surabaya, 23 Juli 2012  
Setelah diperiksa pihak rumah sakit terkait, Gunawan Pranindito, pelaku pembunuhan pada hari Kamis malam tanggal 19 Juli 2012 terhadap kekasihnya, Riana Adanti dan laki-laki bernama Maulana, dinyatakan mengalami trauma hebat yang mengakibatkan amnesia pasca kejadian sehingga pelaku dinyatakan bebas dari hukuman penjara. Pelaku kini tengah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Menur.

  **

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s