Ternyata…

Anjani mengenalkanku pada seorang sahabatnya, Demi, dalam aksinya sebagai mak comblang. Kalau kata Anjani, Demi ini orangnya baik dan wajahnya gak buruk-buruk amat, bahkan bisa dikategorikan ganteng. Anjani adalah teman gilaku, di tempat yang menurut banyak orang ini adalah tempat pengasingan, justru aku menemukan banyak teman yang seru. Aku terdampar di sebuah kabupaten terpencil di salah satu propinsi Indonesia. Di sini aku melakukan penelitian terhadap nyamuk penyebar penyakit malaria, Anopheles. Sedangkan Anjani bekerja di salah satu organisasi yang mengurusi tentang hewan langka, WWF. Dan Demi berada di kota yang tak pernah mati, Jakarta.  

Berawal dari pin Blackberry milikku yang disebar Anjani pada Demi lalu kami berdua mulai intens ngobrol.  

Anjani memang benar. Demi lumayan cakep juga.” Gumamku dalam hati ketika melihat display foto profil Demi di BBM.  

Demi lumayan seru diajak ngobrol. Entah bagaimana aku merasa ada yang klik dengan Demi. Obrolan awal kami masih ringan, seputar apa kerja kami, asal kami dari mana hingga tentang kuliah kami dulu. Lama-lama, kami mulai berani memberikan pesan yang bisa dibilang seperti dua orang sedang pendekatan.  


“Sekarang lagi ngapain?” Demi mengawali chat siang ini.  

“Baru selesai dari lapangan buat tangkap nyamuk.” Aku membalas dengan antusias.  

“Aduh, kerjamu bergumul ma nyamuk terus.”
“Ati-ati ntar malah kamu kena malaria lho.”
“Jangan lupa pake repellent ya..”  

Meskipun aku belum pernah bertemu Demi secara langsung, belum pernah mendengar suaranya meski sudah hampir seminggu chat di BBM, tapi aku tak merasa risih bila diingatkan ini itu. Malah terkadang pernah satu hari Demi tak menyapaku, aku mulai kalut. Aku mulai mencari-cari dia tapi gengsi untuk menyapanya duluan.  

Walau ada yang membuat aku kurang sreg dengan Demi. Dia gak pernah mau main ke tempatku sini. Dia selalu mengemukakan berjuta alasan supaya tidak kemari. Malah dia selalu menyuruhku untuk main ke Jakarta. Padahal kalo aku ke sana juga jauh dan butuh biaya besar. Aku jadi berpikir, sebenarnya apa yang diharapkan Demi? Tapi kenapa aku juga mulai berharap bertemu dia? Jarak kami berdua terlalu jauh, mungkin saja kami berdua tak bisa bertemu. Tapi kalo Demi ada niat untuk serius dengan aku kan pasti dia bakal mikir cara supaya bisa ke tempatku sini.  

Aku mulai berani untuk merindukan dia di saat intensitas BBM kami mulai berkurang karena tertahan pekerjaan kami masing-masing. Dan hari ini tepat satu bulan kami berkenalan via BBM tapi belum pernah sekalipun Demi menelponku padahal sudah bertukar nomer telepon. Lalu Demi menyapaku di BBM.  

“Hai Nona, sibuk ya?”  

“Gak kok, lagi nganggur aja.”
“Baru selesai masak buat makan siang”  

“Wah, masak apa nih?”  

“Sop ma perkedel.”  

“Kapan-kapan kamu masakin buat aku ya.”  

“Hehehe, iya boleh.”
“Mmm, Demi, aku mau tanya ya.. Boleh?”  

“Silahkan..”  

“Kita udah BBMan slama satu bulan, tapi kamu gak pernah telpon aku.”  

“Ahaha, kepengen aku telpon ya?”  

Jawabannya membuatku tercekat. Aku gak bisa bales kata-katanya. Memang antara ingin ditelpon dan penasaran dengan Demi.  

“Ah, gak juga. Cuma nanya aja kok”  

“Kepengen juga gapapa. Ntar malem ya aku telpon :)”  

Kutunggu telpon dari Demi. Dari siang menjadi sore dan sore berganti malam sampai aku ketiduran juga tetap tak ada telpon dari dia. Kemudian pagi ini sekitar pukul 9, aku menerima BBM dari dia.  

“Ria, aku minta maaf.”
“Bukan maksud aku gak mau telepon kamu.”
“Tapi semenjak aku pake BB, aku emang gak pernah isi pulsa lagi untuk telpon atau sms.”  

Hah? Aku ternganga.

Dan kubalas saja,  
“Iya. Maaf juga. Aku emang gak pengen kamu telpon kok.”  

Alasan Demi tadi mengingatkanku pada iklan salah satu operator seluler,
Aku gak punya pulsaaaa~

😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s