Laki-Laki Penuh Senyum

Dulu aku sering memandanginya diam-diam.
Aku tak sanggup mengalihkan sedetik pandanganku saat dia berdiri tepat di seberangku.
Sekarang dia sedang berjongkok. Mengelus rambut seorang bocah yang tertidur beralas selembar koran. Dan dia meninggalkan kotak putih berisi nasi lengkap dengan lauknya.
Kali ini dia memandang ke langit. Lalu dia menoleh ke arahku dan tersenyum.
Di dalam dadaku berdegup kencang.

Hari-hariku terus kulalui dengan sering memandangnya.

Namun, saat ini aku tak sanggup lagi menahan tangis ini, sebuah tangis bahagia, ketika melihat dia, laki-laki dengan penuh senyum dan kasih sayang itu, menggendong bayi mungil.
Dia mencium lembut pipi bayi itu.
Dia menggumamkan adzan di telinga bayi itu.
Air mataku terus meleleh saat dia menghampiriku yang masih terbaring lemah di atas ranjang kamar bersalin dengan tetap menggendong bayi itu.
Kemudian laki-laki ini tersenyum padaku, menggenggam tanganku, dan mengucapkan terima kasih telah memberinya hadiah terindah.

Dia,
Laki-laki itu,
Kini telah menjadi ayah dari buah hatiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s