Perempuan Patah Hati

“Baiklah, sekarang waktunya kamu bercerita,” Irvan menyetel lagu slow dari Macbook. Di sampingnya ada kursi panjang dan Tasya sudah duduk setengah berbaring sembari memejamkan matanya perlahan.
“Dok, ada yang lupa. Aromaterapi.” Tasya mengingatkan pada si dokter psikiatri langganannya.
“Oh, maaf.” Irvan lalu beralih ke sisi kirinya, mengambil tungku kecil yang sudah diisi minyak aromaterapi dan memanaskannya. Aroma kali ini, jasmine.
“Semalam aku masih memimpikan dia. Dia datang lagi, menawarkan tangannya untuk kuraih. Tak ada yang berubah dari dia. Tapi kali ini aku bisa melihatnya lebih jelas. Tapi tunggu ada bagian dari diriku yang lebih mengerikan.”
“Pelan-pelan. Ceritakan saja mimpimu dari awal.”
“Aku berjalan di sebuah tempat yang gelap. Tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang menuntunku untuk berjalan. Kemudian aku sampai di tempat yang sedikit terang. Seperti ada bintang di langit yang berpijar yang mengarahkan sinarnya hanya pada satu titik. Tentu saja aku langsung menoleh ke arah situ. Aku melihat cermin dengan bayangan diriku sendiri dengan lubang menganga di perut sebelah kanan. Aku menaikkan sedikit pandanganku dan ternyata dadaku pun berlubang. Saat aku ingin menyentuh dada dan perutku, aku melihat kedua tanganku sudah berlumuran darah dan ada yang kupegang. Tapi wujudnya belum bisa kulihat.”
“Ya, teruskan.”
“Kemudian aku berjalan lagi. Hingga aku sampai di tempat yang lebih terang ketimbang sebelumnya. Kali ini bulan yang bersinar temaram. Aku berada di sebelah danau luas yang airnya bisa memantulkan bayanganku. Benda yang aku pegang membuatku merinding ngeri. Aku memegang sayap patah yang berumuran darah di tangan kanan dan di tangan kiri ada hati yang terbelah. Oh, karena itu aku tak bisa terbang dan aku merasa dada dan perutku kosong tak berisi.”
“Lanjutkan.”
“Dan akhirnya, aku sampai ke sebuah tempat yang bisa kubilang itu khayangan. Aku tak tahu sumber cahaya dari mana, tapi suasananya terang dan sejuk. Kulihat sosok malaikat di sana sedang berdiri. Tiba-tiba aku terjatuh, dia menghampiriku dan mengulurkan tangan kanannya untuk membantuku berdiri. Aku ingin meraihnya, tapi aku lupa ada sayapku yang patah yang kupegang erat. Kemudian dia mengambil sayap itu, meniupnya dan sayap itu kini menjadi putih bersih. Dilekatkannya sayap itu ke punggungku. Aku merasakan tangan dinginnya menyentuh punggungku yang berbalut gaun tipis. Kali ini dia mengambil hatiku yang terbelah di tangan kiriku. Ditiupnya hati itu. Kemudian hati itu lenyap. Tak ada lagi hembusan angin yang kurasakan mampir di dada dan perutku. Lubang-lubang tadi sudah menutup sempurna. Tanganku pun tak berlumuran darah lagi. Sekali lagi dia mengulurkan tangannya, aku bisa meraihnya, dan aku bisa melihat lekuk wajahnya yang sedikit bersinar itu.”
Tasya tercekat. Hening. Kemudian membuka matanya dan melihat Irvan telah berdiri tepat di depan kursi panjang yang dia tiduri.

“Tasya, yang seperti ini kah malaikatnya?”

~Dewa, Sayap-Sayap Patah~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s