Perempuan Harus Dilindungi

Aku terlahir di keluarga miskin. Rumah bapak ibuku di pinggiran kali daerah kumuh. Di pagi hari bapakku tidur dan baru keluar rumah untuk bekerja di malam hari. Ibuku penjual gorengan yang sering menitipkan gorengan di kantin sekolahku.

Aku sangat mencintai ibuku. Beliau menyayangiku tulus, tak pernah berteriak memakiku, tak seperti ibu Hasan yang hobi berteriak di waktu maghrib bila Hasan belum pulang ke rumah. Ibu mengajarkanku untuk menghormati perempuan dan selalu takut pada ibu karena surga berada di telapak kaki ibu.

Lingkungan bermainku memang penuh dengan anak berandal. Kampungku terkenal dengan para pemuda yang hobi memalak anak sekolahan di kawasan elit tak jauh dari kampungku. Beberapa pemuda juga sering keluar masuk bui polisi karena tertangkap mencuri lah, kasus tawuran lah atau yang paling sadis adalah pembunuhan.

Aku sering melihat lengan ibuku berwarna merah dengan campuran ungu, terkadang sudah berwarna agak hijau begitu. Tiap kali kubertanya pada beliau selalu dijawab terjatuh atau kecipratan minyak panas waktu menggoreng pisang. Waktu masih kecil, aku sih percaya saja dengan jawaban itu. Tapi sekarang, ketika aku sudah sering ikut tawuran dengan anak kampung sebelah, aku tahu itu bekas pukulan. Ibuku sudah berbohong padaku. Ah, ibu tak ingin putranya khawatir. Tapi siapa yang memukuli ibuku?

Malam ini bapak tak berangkat kerja karena pagi harinya beliau sudah pergi mencari rumput untuk memberi pakan sapi milik Haji Umar. Bapak sedang menonton televisi ditemani kopi dan sepiring pisang goreng jualan ibu yang tak laku. Ibu sedang menggosok pakaian di kamarnya. Aku sangat mengantuk usai mengerjakan PR Biologi. Dan aku tertidur sambil memeluk buku tulisku.

PRAAANG!

Aku terbangun. Suara pecahan beling itu mengganggu mimpiku. Aku sedang asyik bermimpi memukuli Hasan yang tadi pagi ketahuan mau mengambil uang di tasku. Aku bangun dari kasur dan mengucek mata. Suara beling pecah sudah tidak ada, tapi aku mendengar erangan perempuan.

Aku berjalan keluar dan mengintip dari celah pintu kamar bapak dan ibu yang tak tertutup rapat. Bapak memegang balok kayu kecil tapi panjang dan mengayunkannya ke punggung ibu. Ibu jatuh dan mengerang minta ampun. Mataku yang tadi masih setengah merem langsung melek. Perasaanku tak karuan melihat ibuku dipukuli oleh bapakku sendiri. Darahku mendidih. Aku berputar memandangi ruangan itu dan kulihat arit yang tadi pagi dipakai bapak untuk memotong rumput. Langsung kuambil saja arit itu dan masuk ke kamar ibu.

CROT!
Darah segar muncrat dari leher bapak yang kubacok.

JLEB!
Kutusukkan ujung arit ke perut bapak yang tergeletak di lantai.

Puas.
Perasaan puas hinggap di dadaku. Aku berhasil melindungi ibuku. Sementara itu ibuku berteriak histeris sambil menangis keluar kamar dan membuat semua isi kampung terbangun dari tidur lelapnya.

Hitam putih dunia akan tetap terasa
Walau tanpamu di sini takkan begitu berarti
It’s ok everything is gonna be fine, i’m alright
It’s ok everything is gonna be fine, i’m alright
Rocket Rockers~Hitam Putih Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s