Aku Cinta Kamu, Bukan Latar Belakangmu.

Subnahallah, Subhanallah, Subhanallah.

Berita tentang kecantikannya tak perlu waktu lama untuk terdengar sampai ke telingaku. Hampir semua lelaki di sekolah ini membicarakan dia. Kalau tak salah dengar juga, kecantikannya diturunkan oleh ibunya.  

Namanya Anita. Biasa dipanggil Nita. Anaknya pendiam tapi punya otak encer. Yang aku dengar, dia baru saja pindah ke sekolah ini karena ikut ibunya yang sudah tak kuat lagi menanggung beban hidup di ibu kota. Latar belakang keluarganya menjadi bahan gosip murid-murid perempuan yang lain. Ibunya sudah lama bercerai dengan ayahnya karena suka main pukul.  

Semakin banyak cerita yang kudengar tentang Nita, semakin penasaran aku dibuatnya. Kuberanikan diri untuk selalu mengikuti dia dari belakang saat dia berjalan kaki pulang ke rumah. Dia merasa terganggu. Dia selalu mempercepat langkahnya ketika tahu aku membuntutinya.  

Your charm is like a breeze which touches me and passes
You’re as supple as young branch, which moves me no end
Find some reason to come into my arms, let me destroyed (in your love)  
Wajahnya memang cantik, tapi sorot matanya menyimpan duka mendalam. Badannya tegap, tapi aku tahu di pundaknya seperti ada beban yang dia pikul ke sana kemari. Langkahnya mantap, tapi ada keraguan terkadang untuk melangkah lagi lebih jauh.  

Kali ini aku beranikan untuk melakukan sesuatu yang lebih. Aku menanyakan hal-hal yang, baiklah, tidak penting untuk ditanyakan. Sebut saja itu pertanyaan retoris. Dan dia selalu menjawabnya dengan nada yang kasar. Suaranya selalu gemetar tiap kali menjawab pertanyaanku. Ada ketakutan yang jelas terpancar dari geraknya tiap kudekati.  

Biarkan saja orang berkata apa. Banyak yang mencibirku untuk apa mendekati anak yang berasal dari keluarg berantakan, sedangkan keluargaku cukup disegani di kota ini. Tunggu sebentar. Apa ini yang biasa orang sebut cinta? Ah, aku sendiri tak tahu. Baru pertama kali ini kurasakan.  

“Don, ibuku mau bertemu dengan kamu. Beliau selalu melihatmu berjalan membuntutiku. Jadi beliau penasaran.”  

Itu kalimat pertama yang kau ucapkan dengan bibir gemetar. Itu kalimat pertama yang kudengar setelah tiba-tiba kau menghentikan langkahmu dan berbalik arah berjalan ke hadapanku. Aku kaget sekaligus senang. Perasaanku campur aduk.

Esok harinya, ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kali ini aku tak berjalan di belakangnya, tapi di sampingnya. Meskipun tetap diam menjadi teman setiaku. Tak apalah, toh ini sebuah kemajuan yang luar biasa. Sesampainya di rumahnya, kucium tangan ibunya. Ibunya sangat ramah. Beliau mempersilahkan aku duduk di ruang tamu yang mungil itu. Nita masuk ke dalam, mungkin membuatkan aku secangkir teh hangat.  

“Nak Donny ya? Ibu sudah banyak dengar dari Nita. Nak Donny sering nemani Nita pulang meskipun cuma di belakang Nita. Ibu senang sekali ada laki-laki yang perhatian dengan Nita. Nita ini anaknya ndak gampang berteman dengan laki-laki. Maafin Nita ya, Nak.”  

Mata Ibu Nita yang berkaca-kaca seperti kut menceritakan rasa terharunya karena aku memperhatikan putrinya.  

“Iya, Bu. Awalnya saya hanya ingin tahu siapa yang sering diomongin teman-teman di sekolah. Lama-lama saya jadi penasaran dan makin tertarik dengan Nita meskipun dia selalu kasar kalau menjawab pertanyaan saya.”  

“Sekali lagi, maaf ya. Itu semua karena bapaknya yang dulu sering mukul saya di depan Nita. Jadi Nita banyak nyimpan dendam dan takut dengan orang laki-laki. Makanya Nita ndak pernah mau keluar rumah main dengan kawannya yang lain, katanya takut diapa-apain.”  

Aku tersenyum getir mendengar cerita ibunya.  

“Nak, mungkin Nak Donny ini adalah hadiah yang diberi Tuhan untuk keluarga Ibu. Jika memang Nak Donny cinta dengan Nita, ibu merestui. Terimalah Nita apa adanya. Jangan melihat latar belakang keluarganya yang berantakan ini. Nita sudah Ibu besarkan dengan penuh kasih sayang dan Ibu juga yakin Nak Donny ndak akan berbuat hal yang sama seperti bapaknya Nita. Ibu percaya.”  

Kata-kata ibunya menyayatku. Beban hidupnya seperti sudah terlepas satu. Ada perasaan ringan yang terlihat ketika dia mengelus dadanya. Wajahnya bahagia, tersenyum. Beliau memanggil Nita untuk ikut duduk di ruang tamu.  

Kugenggam tangan Nita. Kubelai rambutnya. Nita kebingungan dan menoleh ke arah ibunya. Ibunya tersenyum dan seolah mengerti apa yang dipikirkan dan dirasakan ibunya, Nita juga tersenyum. Senyumnya merekah, senyum pertama yang kulihat langsung.  

If I tell you my intentions, it’ll make you bashful
If I let you hear my heartbeats, it’ll scare you (with its intensity)
I can’t hide my feelings, let me get destroyed (in you love)  

Kugenggam tangannya lebih erat dan kurasakan tautan jemarinya dalam sela jariku juga menguat.  

Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah.

(Chand Sifarish – Shaan, Kailash Kher – OST. Fanaa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s