(Bukan) Waktu untuk Kembali

Langit sedang kesakitan. Langit tercabik. Warna birunya kini sembur dengan warna oranye. Di beberapa tempat, sudah terlihat warna langit berubah menjadi kelabu bersiap melahap matahari. Aku menikmati pergantian warna langit kala sore hari. Aku seorang penikmat senja. Terlebih setelah aku bertemu dengan seorang perempuan tercantik dan membuat banyak menghabiskan waktu untuk membuat memori indah sekaligus perih saat senja di pantai ini.

Senja kali ini menciptakan warna oranye yang mirip dengan jus jeruk dan membuatku menelan ludah karena kehausan. Mendadak aku teringat waktu pertama kali aku bertemu dengan seorang bocah perempuan. Dia sedang menyeruput jus jeruk dari plastik bening dan duduk selonjor di atas pasir pantai sambil menikmati senja. Rambutnya yang gelombang seperti rumput laut di dalam lautan berkibar diterpa angin pantai yang membelai mesra. Kulitnya putih bersih seperti pasir yang menghambur di tepian pantai. Aku duduk mendekat ke arahnya.

Untuk beberapa saat, kami berdua terdiam menikmati senja dan momen matahari tenggelam dimakan langit kelabu. Kulirik dia dari sudut mataku, dia memainkan sedotannya dan mengarahkan sedotannya ke matahari. Dia menghisap matahari itu perlahan-lahan.

Dia menepuk perutnya sembari berkata, “selesai, kenyang.” Kemudian dia berdiri dan mengebas-ngebaskan baju panjangnya.

“Kenyang?” aku memberanikan diri bertanya padanya.

“Iya. Mataharinya sudah kusesap habis. Tuh, uda hilang kan?”

Dia tertawa riang. Wajahnya memancarkan kebahagiaan bisa menyesap habis matahari yang kini ada dalam perutnya. Raut mukanya mengingatkan aku pada seorang perempuan cantik itu yang hingga saat ini masih betah tinggal dalam hatiku. Seorang perempuan yang kusakiti dan aku menyesal ingin meminta maaf padanya.

Perempuan kecil itu berlari ke arah rumah penduduk yang tak jauh dari pantai tempatku duduk bersamanya. Aku tersenyum melihat tingkah bocah kecil itu. Periang.

Beberapa kali aku duduk di tepian pantai ini sambil menikmati senja yang tak pernah sama dengan hari pertama bertemu bocah itu. Aku menanti kehadiran bocah periang itu. Sayangnya dia tak pernah menampakkan dirinya. Hingga sore ini, senja kembali datang persis seperti hari itu. Langit tampak seperti lautan jus jeruk yang siap dihabiskan. Aku mengambil sedotan bengkok dan mengarahkannya ke langit. Kusedot dia pelan-pelan agar nikmatnya sempat mampir ke kerongkongan sebelum memenuhi lambungku.

Dari kejauhan kudengar suara yang aku nantikan. Bocah perempuan itu berteriak gembira melihat langit jus jeruk.

“Jus jeruuuukk. Aku mau minum dia sampai kenyaaaang,”

Dia berlari dan terhenti di sampingku. Mulutnya melengkung ke bawah, dia bersedih.

“Om, kok uda bawa sedotan? Jangan minum jus jerukku.” Dia merengek. Mukanya lucu, pipinya yang gembul membuatku ingin mencubitnya.

“Masih banyak kok jus jeruknya. Habisin yah,” aku mengacak rambut gelombangnya. Rambut yang sama persis dengan kekasihku.

“Kiara. Kiaraaaa!”

Seorang perempuan berjalan ke arah kami sambil memanggil nama yang kutebak itu adalah nama perempuan kecil yang asyik menyedot jeruk langitnya. Di sebelahnya ada laki-laki yang berjalan menggandeng tangannya. Kiara langsung menoleh ke sumber suara yang meneriakkan namanya.

“Mamaaaaa, ayo sini. Kita minum jus jeruk ini. Gak habis-habis. Kiara udah kenyang.”

Mama Kiara mendekat. Wajahnya langsung menegang ketika mata kami beradu pandang. Mata coklatnya melebar, membelalak kaget melihatku. Hatiku langsung remuk saat memandang Kiara. Berarti benar Kiara itu anakku, yang di saat dia masih di dalam kandungan ibunya sudah kutinggalkan pergi tanpa pamit. Berarti benar, perempuan dewasa yang berdiri di hadapanku adalah Karina. Kudengar dari beberapa teman, Karina kini bekerja di salah satu resort dan tinggal di dekat pantai ini. Di pantai tempat kami banyak menghabiskan waktu menikmati senja, memadu kasih dan bercinta hingga waktu Karina mengatakan dia hamil dan memintaku bertanggungjawab tapi dia kutinggalkan begitu saja. Di waktu yang sama, di kala langit memerah tercabik dan matahari lenyap ditelan langit kelabu.

Pencarianku telah usai. Aku bisa bertemu lagi dengan Karina dan Kiara, anakku. Aku ingin meminta maaf dan meminta kesempatan memperbaiki kesalahanku agar aku tak dihantui perasaan bersalah tiap menatap senja. Tapi aku merasa ini bukan waktu yang tepat untuk kembali setelah aku mendengar Kiara menarik tangan laki-laki itu dan memanggilnya Papa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s