Seutas Tali Rafia

Kiara. Kiara. Kiara.  

Berulang kali kusebut nama anakku dalam benakku. Dia tumbuh menjadi gadis kecil yang periang. Memiliki kesamaan denganku dan ibunya, menikmati senja. Bahkan dia pandai berimajinasi menyesap jus jeruk kala langit sore dipenuhi semburat jingga.  

Kirana. Kirana. Kirana.  

Nama wanita itu masih saja terpatri di hati. Ingin aku mengucap maaf, ingin aku memperbaiki kesalahanku di masa lampau dengan kembali bersamanya. Tapi apa yang bisa kuperbuat setelah kejadian di pantai itu. Aku melihat dia telah bahagia dengan sosok laki-laki berbadan tegap dan besar, meski wajahnya harus kuakui tak bisa mengalahkan kegantenganku.

Kuarahkan setir mobilku menuju danau dekat pinggir kota. Danau yang airnya berkilau seperti mutiara ketika ditempa sinar matahari pagi. Aku ingin menghirup udara pagi yang segar agar pikiranku ikut segar. Aku ingin menjadi sosok laki-laki yang baru. Sosok laki-laki yang harusnya memaafkan diri sendiri.  

Kuparkir mobilku dekat pepohonan rindang yang tumbuh di pinggir danau. Seorang nenek tampak membungkuk entah sedang memunguti apa. Di tangan kirinya ada sebilah clurit. Di punggungnya ada karung yang berisi rumput hijau penuh. Aku berjalan mendekat ke kursi panjang. Aku duduk di sana, meluruskan kakiku dan meregangkan punggungku yang lelah.  

Air di danau yang tadinya tenang sekarang tampak bergoyang. Ada seseorang yang melemparkan batu ke dalamnya sehingga menimbulkan bunyi ‘plung’. Kutoleh ke samping kanan, ternyata si nenek itu yang melempar batu. Nenek itu menatapku lekat. Cluritnya memantulkan sinar matahari dan menyilaukan mataku. Nenek itu tersenyum. Senyumnya misterius.  

Ah, ini kenapa mau refreshing malah disuguhi pemandangan seperti ini?  

Nenek tadi berjalan pelan sambil mengayun-ayunkan cluritnya. Aku menundukkan pandanganku, tapi aku masih mengintip lihat apa yang ditatap nenek tadi. Nenek tadi masih menatapku. Dia berjalan makin dekat ke arahku. Clurit yang dia ayunkan seolah akan terlempar dan tertancap di leherku. Aku merinding. Danau ini sunyi, tak ada orang selain aku dan nenek tua itu.  

Nenek yang berjalan setengah bungkuk itu sekarang berada beberapa jengkal di depanku. Cluritnya itu membuatku takut. Pagi ini mencekam. Suara kepakan sayap burung yang bertengger di atas pohon membuatku kaget. Si nenek mengangkat cluritnya dan menunjukku dengan clurit itu. Dudukku bergeser, leherku menegang.  

“Anak muda. Hati-hati duduk di situ. Nanti bisa mati,”

Glek.  
Aku menelan ludahku dan terasa seperti menelan biji kedondong.  

“Mati?”  

“Lihat ke cabang pohon tepat di atas kepalamu,” nenek itu menggoyangkan cluritnya untuk menunjuk ke atas kepalaku. Kulihat ada seutas tali rafia tergantung.  

“Kemarin, ada laki-laki yang datang sepagi ini ke danau ini. Dan sore hari menjelang senja, dia tergantung di atas pohon dengan rafia itu menjerat lehernya. Ngeri.”  

Sialan.  

Aku langsung mengambil langkah seribu dan menghidupkan mesin mobilku, menginjak gasnya dalam-dalam. Nenek itu terkekeh dan merebahkan tubuhnya ke kursi panjang. Kursi kebesarannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s