Menghapus Agustus

Telepon genggamku berbunyi. Satu pesan masuk ke inbox.  

From: Gayatri (+6281337890000)  
Pras, aku tunggu di Prince Café. 7 pm tonight.  

Aku tersenyum, ada sensasi menggelitik yang hadir dalam dadaku setelah membaca pesan singkatnya. Mungkin ada kupu-kupu yang riang beterbangan di dalamnya.  

Jarum pendek jam dinding mengarah pada angka 5. Jam 5.30. Masih ada satu setengah jam lagi untuk bersiap menemui Gayatri. Perempuan yang satu tahun ini menjadi sahabatku, teman yang selalu memberiku semangat di kala aku rindu Kirana dan ingin bertemu dengan anakku. Perempuan yang aku tahu sudah banyak mencurahkan waktu dan kasih sayangnya untukku, namun tak pernah kuhiraukan. Perempuan yang setia menantiku untuk membalas cintanya.

Aku menyambar handuk yang kusampirkan di atas kursi meja makanku. Membilas keringat-keringat yang membasahi tubuhku setelah mengontrol para pekerja di proyek bangunan.  

Kupilih polo shirt warna ungu dan kukenakan celana jins biru dongker. Kuambil sekotak cokelat yang tadi siang diberikan klienku yang baru saja pulang dari Belgia.  

Untuk Gayatri. Sebagai rasa terima kasihku.  


Jalanan kali ini cukup padat. Maklum saja Prince Café ada di daerah perkantoran. Para pegawai kantoran sedang memenuhi pinggir jalan untuk menunggu jemputan atau angkutan umum. Aku mengangkat tangan kiriku. Sudah jam 7 tepat. Pasti Gayatri sudah duduk manis di dalam kafe. Dengan tangannya yang memegang majalah dan membolak-baliknya.  

Benar saja. Gayatri sudah duduk di kursi bar tepat di depan barista yang sedang asyik menyiapkan pesanan pelanggan kafe. Gaya berpakaiannya masih sama dengan biasanya, tapi gaya rambutnya berubah. Rambutnya pendek dan diwarna merah. Dia menoleh ke belakang setelah mendengar derap sepatuku. Bibirnya melengkung ke atas, manis.  

Aku menyerahkan kotak isi coklat padanya. Deretan gigi putihnya terlihat dan dia mengucap terima kasih sembari mengecup pipiku. “Jadi, sudah ketemu Kirana?”  

“Iya. Aku juga sudah melihat anakku. Namanya Kiara. Rambutnya gelombang mirip rambut ibunya. Dia gadis kecil yang menggemaskan. Sayang waktunya belum tepat untuk aku meminta maaf pada mereka berdua ketika di pantai kemarin.”  

Next time ke sana lagi. Kita berdua ya?”  

Gayatri menggamit lenganku dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Gayatri tak pernah lelah menyirami hatiku dengan cintanya. Gayatri tak pernah menyerah untuk mendapatkan hatiku yang sudah kupatri oleh kehadiran Kirana.  

“Nenek kemarin apa kabar? Hehehe,” tetap dengan bersandar di pundakku, dia tertawa. Pundakku jadi terguncang. Aku ikut tertawa.  

“Gila. Aku uda takut duluan lihat clurit nenek itu. Ditambah cerita horor tali rafia.  Ah, udah. Gak usa dibahas lagi. Makan coklatnya gih,”  

Gayatri mencomot cokelat berbentuk keong. Dia tersenyum pas di gigitan pertama.  

“Mmmm, rasa kopi. Aku suka. Kopi, hitam kelam, tapi menciptakan sebuah sensasi candu. Persis seperti kamu.”  

Kata-kata yang diucapkan Gayatri membuat rambut halus di tanganku berdiri. Merinding. Kata-kata yang sama pernah diucap penggila kopi, Kirana, dua tahun yang lalu.  

Kutatap kayu yang memisahkan meja panjang bar dengan meja panjang barista. Berjejer tulisan-tulisan dengan spidol memenuhi kayu itu. Tiap pasangan yang mampir di kafe ini selalu menyempatkan menuliskan nama atau inisialnya bersama pasangan. Ada mitos, bila menuliskan di situ akan menjadi pasangan yang abadi. Mitos yang tak pernah kupercaya setelah Kirana kutinggalkan.

Kulihat ada tulisan yang sangat familiar, tulisanku sendiri dengan spidol warna hitam.  

Agustus 2010.
Pras & Kirana.  

“Lalu, tulisan ini kapan dihapus?” Gayatri menunjuk ke arah tulisan yang sedang kupandangi.  

“Mau dihapus? Jangan. Biar jadi kenangan.”  

“Kalau dihapus trus diganti. Oktober 2012. Pras dan Gayatri.”  

Walau cara berbicaranya seperti bercanda, aku tahu ada keinginan yang ingin dia sampaikan padaku. Mungkin sudah waktunya aku melupakan Kirana. Dia adalah bagian masa laluku dan nantinya aku juga harus meminta maaf pada Kirana akan perbuatanku dulu. Dan Kiara sampai mati nanti tetap adalah darah dagingku. Suatu hari nanti harus kuberitahu bahwa aku adalah ayah biologisnya.  

Sudah saatnya aku membuka hatiku lagi untuk perempuan cantik di sebelahku. Tak perlu aku menghapus tulisan di kayu itu dan menggantinya. Biar saja aku yakinkan hatiku untuk memberi Gayatri hidup di dalamnya. Dan membiarkan Gayatri jadi permaisuri cintaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s