Maretha Saraphova

Kubolak-balik halaman majalah fashion yang sedang kupangku. Di cover depan majalah itu tampak foto seorang model yang sedang naik daun, yang sering dielu-elukan atas prestasinya yang diraihnya baru-baru ini di kancah modelling internasional. Model tersebut sering berkeliaran di media cetak maupun elektronik. Selalu menjadi bahan obrolan semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, remaja maupun dewasa. Wajahnya juga sering kulihat menghiasi baliho atau banner iklan kosmetik yang dipasang di pinggir jalan. Namanya sering kudengar dari ibu-ibu kompleks di rumahku yang membicarakan gosip tentang dirinya. Berita terbarunya selalu dibahas oleh sekumpulan perempuan usia 20an yang sedang berkumpul di kedai kopi. Maretha Saraphova.  

Usianya kini dua puluh tujuh tahun. Lulusan sebuah universitas swasta di kota pelajar, Yogyakarta. Dia asli Yogya. Anak kedua dari empat bersaudara. Lahir tepat bulan Maret sehingga orang tuanya memberi nama Maretha. Keluarganya sederhana saja, ayahnya seorang guru dan ibunya hanya ibu rumah tangga yang mengabdikan hidup untuk mengurus keluarganya. Setelah lulus dari Yogya, dia pergi ke Bandung untuk mencari peruntungan. Di sanalah dia bertemu seorang pencari bakat yang akhirnya membantunya meroket bak bintang di langit sekarang ini. Pencari bakat itulah yang memberi nama beken Sharapova. Meskipun sekarang dia sudah terkenal, dia tak pernah lupa keluarga. Dia rajin pulang ke Yogya empat bulan sekali. Maretha Saraphova, perempuan sayang keluarganya.  

Bagaimana aku bisa mengetahui segalanya tentang dia? Ya karena aku adalah managerya. Dan karena aku menggilai dirinya.

“Yuk, Dhir. Ntar kena macet, bisa telat,” model cantik yang baru saja kubaca beritanya di majalah itu sudah berdiri dihadapanku dengan menggunakan dress warna merah selutut. Ada korsase bunga menempel di dada kirinya. Gelang mutiara yang baru dia beli di Lombok cantik menghias pergelangan tangan kanannya. Heels warna hitam hasil karya perancang sepatu terkenal juga siap menemani langkahnya hari ini.

Sepanjang perjalanan dari apartemennya menuju toko buku, dia terdiam. Hanya memandang keadaan luar dari kaca mobil. Mungkin dia gugup. Sebentar lagi kami akan sampai di toko buku tempat peluncuran buku biografinya. Seorang penulis biografi ternama sudah menuliskan kisah sang model dan berhasil membuat sebuah angka fantastis penjualan buku bahkan sebelum buku itu resmi diluncurkan. Sebuah biografi dengan begitu banyak kejutan di dalamnya dan membuat kejutan itu menjadi topik panas di semua infotainment.  

“Tha? Nervous?” aku mencoba memecah kesunyian di dalam mobil. Dia mengangguk perlahan dan kemudian meremas tanganku yang memegang handle persneling.  

“Temenin aku terus ya, jangan tinggalin aku,” dan dia tersenyum menyembunyikan rasa cemasnya. Tapi matanya tak bisa berbohong.  

Kilatan blitz ini menyilaukan mataku. Etha, begitu panggilan akrabnya, tampak kalem saja meski dijepret wartawan sana-sini. Keringat yang sebesar jagung sudah tampak membasahi dahiku. Panas dan gerah sekali. Etha bisa mengatur ekspresi wajahnya, nada bicaranya tampak kalem dan anggun ketika menjawab macam-macam pertanyaan yang diajukan juru warta. Hingga ada satu wartawan yang menanyakan hal ini.  

“Miss Maretha, di dalam buku anda, anda menceritakan asmara anda. Sungguh mengejutkan. Belum ada konfirmasi langsung dari anda selama berita ini beredar. Apa yang ditulis dalam buku itu memang benar?”  

Jantungku sudah berdebar kencang. Dia tersenyum simpul.  

“Benar, Mas. Apa yang ditulis di buku itu tidak ada yang ngawur, tanpa rekayasa.”  

“Siapa kekasih anda saat ini? Di dalam buku tidak disebutkan identitas kekasih anda. Apa anda bisa mengungkapkannya?” wartawan tadi masih mencecar sang model.  

“Perkenalkan. Manager saya, Indhira.”  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s