Rabu Kelabu

Jauh di sebuah rumah bergaya minimalis, tampak seorang pria sedang sibuk membereskan salah satu ruang di dalamnya. Dimulai dari pagi sejak dia bangun tidur, dia sudah menata ruang tamu dan ruang tengahnya. Dia menyapu, mengepel dan menata ulang pernak-pernik yang ada dalam lemari kaca. Dia mengerjakan sendiri karena tak ada pembantu di rumah itu. Dia mengganti gorden yang tergantung di jendela ruang tamu, mengganti sarung bantal yang ada di sofa depan televisi ruang tengah. Peluhnya bercucuran, tangannya mulai pegal, tapi hatinya riang. Hari ini adalah hari istimewa untuknya.  

Di tengah-tengah membereskan rumahnya, sesekali dia mengutak-atik telepon genggamnya dan membuka inbox. Sebenarnya tak ada pesan masuk yang baru, dia hanya membaca ulang lagi pesan yang dia terima dari seorang perempuan yang dia nantikan. Yang sudah berjanji akan mampir ke rumahnya setelah pekerjaannya selesai.  

Sang pria menuju dapur dan membuka kulkas. Dia mengecek lagi bahan-bahan yang akan dia masak spesial untuk tamu yang akan datang. Di dalam benaknya sudah terbayang menu yang tersaji di atas meja makan. Meja makannya juga sudah tertata rapi dengan ada piring, gelas, sendok, garpu di atasnya. Tak lupa dia percantik tampilan meja makan itu dengan sebuah vas yang berisi penuh mawar merah.  

Langit hari ini tak secerah biasanya. Matahari sedang bersembunyi di balik awan kelabu. Burung-burung yang bertengger di atas pohon sedang malas bernyanyi. Sang pria hanya bersiul sendirian di rumahnya. Dia ingin beristirahat dulu. Dia duduk di sofa depan televisi sambil menggenggam gelas berisi air dingin. Televisi yang disetelnya sedang memutar sebuah acara live peluncuran buku biografi seorang model ternama, Maretha Saraphova. Sang pria membesarkan volume suara televisi. Maretha bukan seorang yang asing untuk pria ini. Dia kenal baik. Tapi tak semua kehidupan sang model dia ketahui.  

Betapa terkejutnya sang pria ketika sang model mengumumkan bahwa dia adalah seorang lesbian. Sang pria menganga tambah lebar saat sang model memperkenalkan kekasihnya adalah managernya sendiri, Indhira. Sang pria menoleh ke arah bunga mawar dalam vas di atas meja makan. Sang pria merogoh saku celananya. Dilemparkan kotak kecil berlapis beludru yang ada di dalam sakunya ke depan televisi. Kecewa. Sia-sia.  

Telepon genggamnya berbunyi. Satu pesan masuk.  

From: Indhira (+6287562121313)
Lang, sori ya malem ini gak jadi ke rumah lo. Si artis lagi gak bisa ditinggal. Ntar kalo udah longgar, gue kabarin yak.  

Terdengar suara titik-titik hujan yang jatuh tepat di jendela dekat dapur. Awan berwarna kelabu pekat. Sama kelabunya seperti hati sang pria yang gagal mengutarakan isi hatinya pada perempuan yang dicintainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s