Lantai Sembilan

Aku udah nungguin kamu! Cepetan! Keburu dimulai!  

Sebentar. Masih di jalan.  

Ah, dari tadi di jalan terus. Nyebelin!  

Halo? Halo?  

Ribet banget janjian ama pacar yang bawel. Udah jelas-jelas ini jam macet, masih maksa harus datang tepat waktu. Baru pulang kantor juga jam enam, arah tempat janjian berbeda dengan rumah sampe gak sempat mandi dan ganti baju. Ah, biarin.  

Lama kelamaan aku sendiri juga gak sabar. Macet panjang ini keterlaluan. Suara klakson angkot dan sepeda motor memenuhi gendang telingaku. Bisa-bisa kepalaku pecah kalau mendengar suara rentetan klakson tak henti-henti itu. Jarum panjang di jam tanganku mengarah pada angka 7. Pasti acaranya akan mulai. Masa bodoh. Biar saja terlambat daripada tidak datang sama sekali.  

Hari ini ada undangan pertunangan sahabat pacarku. Sengaja pacarku tak minta dijemput karena dia mau bantuin sahabatnya berbenah. Urusan perempuan yang kadang aku tak pernah mengerti.  

Lepas dari perempatan, jalan sudah mulai lengang. Ternyata banyak yang menuju arah Kampung Baru. Tempat nongkrong yang seru di malam minggu buat orang pacaran. Aku menuju arah Kota Tua. Tempat yang romantis untuk mengadakan acara pertunangan atau resepsi. Tapi biasanya orang mengadakan pesta di Kota Tua di siang hari hingga menjelang sore. Baru kali ini aku tahu ada yang mau berpesta di tempat itu di malam hari. Bukannya bangunan-bangunan tua itu ditutup di malam hari? Dan bukannya banyak cerita seram yang beredar seputar Kota Tua?  

Sepi. Kota Tua seperti tak berpenghuni. Tak ada tanda-tanda keramaian di sekitarnya. Mencurigakan. Aku berjalan ke arah satpam yang duduk di luar posnya sambil menghisap sebatang rokok kretek.  

“Malam, Pak. Tempat pesta Lena dengan Ardi di sebelah mana ya?”

Belum sempat si satpam menjawab, telepon genggamku berdering. Pacarku menelpon lagi.

Kamu di mana sih? Ini udah hampir jam 8 dan kamu belum nongol aja. Acaranya uda dimulai dari tadi, Beb!  

Ini aku uda di Kota Tua. Masih bingung cari tempatnya. Setau aku gak ada gedung tingkat sampai lantai sembilan di sini.  

Apa, Beb? Kamu bilang di mana?  

Kota Tua!  

Beb, acaranya bukan di Kota Tua. Tapi di hotel daerah Kampung Tua. Ballroom hotel Pandawa, lantai sembilan.  

Heh?  

Kulihat undangan yang ada di genggaman tanganku. Jelas tertulis lantai sembilan Hotel Pandawa, Kota Tua.  

“Mas! Dapet undangan lantai sembilan ya?” si satpam berbicara denganku sambil menyeruput kopi hitam dalam gelas belimbingnya.  

“Kok tau, Pak?”  

“Udah biasa ada orang yang nyasar dapet undangan ke sini katanya. Coba diliat dulu Mas undangannya.”  

Aku perhatikan baik-baik undangan itu.  

Hanjrit! Kenapa undangannya tahun 1912?  

Aku mendongakkan kepala, mulutku sudah menganga mau mengeluarkan suara. Satpam yang baru saja ngobrol denganku yang sedang merokok dan minum kopi di kursi depan pos menghilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s