Tukang Pos, I Love You

Bibir Lulu tak pernah lepas dari senyum manisnya. Tangannya tak pernah melepas sepucuk surat yang diterimanya tadi pagi tepat sebelum dia berangkat kuliah. Sepanjang perjalanan menuju kampus, dia bolak-balik membaca surat yang hanya satu lembar tersebut sembari senyam-senyum sendiri. Beberapa mata memandang ke arahnya saat dalam angkutan umum dan mulai berpikir perempuan muda berjilbab ini gila. Lulu tak peduli dengan pemikiran orang-orang tersebut. Dia sedang gembira. Teramat gembira.  

Lulu, seorang mahasiswi jurusan desain grafis tingkat dua. Terkenal sebagai salah satu aktivis di kampusnya. Hampir seluruh isi kampus mengenal Lulu, perempuan bertalenta dan berambisi tinggi. Senyum Lulu sudah tertebar sejak dia turun dari angkutan umum depan gerbang kampusnya. Dia berdendang riang sambil bersiul-siul. Hampir semua orang yang melihat tingkah Lulu langsung berbisik-bisik membicarakan berita yang sudah tersebar di kampus. Berita baik untuk Lulu yang tertulis di selembar surat yang diberikan seorang tukang pos tadi pagi.  

Sesaat setelah kuliah usai, Lulu kembali melihat-lihat amplop putih dengan kop surat sebuah universitas di London dan ditempeli perangko gambar olimpiade 2012. Di bagian belakang amplop tertulis sebuah ajakan untuk bertemu dengannya siang ini di taman kota. Nama penulisnya tidak ditulis, hanya tertulis “Tukang Pos”. Lulu tahu, pasti tukang pos yang mengantar surat itu yang menuliskan ajakan bertemu.  

Lulu menanti kedatangan tukang pos di bangku panjang taman kota. Di sebelah Lulu sudah ada dua botol jus buah ukuran sedang dan roti untuk menemani obrolan siangnya dengan tukang pos. Seandainya kertas bisa berbicara, mungkin dia akan mengeluh karena terus menerus dilihat dan dibolak-balik oleh Lulu. Lulu masih belum percaya dengan apa yang tertera dalam selembar surat itu. Sebuah kabar yang memberitahukan bahwa karya tulisnya lolos penjurian dan dia berhak mempresentasikannya di London.  

“Sudah lama, Lu?” suara tukang pos yang berat dan berwibawa itu mengejutkan Lulu yang masih memandangi suratnya.  

“Tukang pos akuuuuu…” Lulu menghambur dari duduknya dan memeluk tukang pos itu. Orang-orang yang sedang beristirahat siang jadi menoleh ke arah mereka berdua karena saking kerasnya Lulu berteriak.  

“Lolos ya? Begitu tahu ada surat buat Lulu dengan kop surat dari University of The Arts London, surat ini harus kuantar sendiri. Dan yakin surat ini membawa kabar baik,”  

Lulu mengangguk-anggukkan kepalanya seperti anak anjing yang girang. Si tukang pos menepuk pundak Lulu.  

“Aku lolos. Aku pergi ke London. London, I am comiiiinnggg. Tukang Pos, I love youuuuu…”  

Lulu berlarian mengitari bangkunya. Tukang pos itu tertawa sekaligus menahan malu melihat tingkah Lulu. Dalam hatinya dia bangga dengan Lulu, dalam hatinya dia ingin sebenarnya menemani Lulu hingga ke London sana. Tapi sayang, pekerjaannya sebagai tukang pos membuatnya tertahan tetap tinggal dan mengantarkan surat-surat untuk mereka yang menanti sebuah kabar. Meski tak semua surat berisi kebahagiaan.  

I’m proud of you, Lulu. I love you toooo, my daughteeerrr!”  

Lulu dan si tukang pos berpelukan erat di taman kota. Sebagian orang melihat peristiwa itu dan mereka terharu.

4 thoughts on “Tukang Pos, I Love You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s