Hitam Kusam

Hari ini jadwalku untuk berbelanja di pasar. Tinggal di asrama perempuan dengan peraturan yang ketat membuat banyak jadwal ini itu bertebaran. Jadwal berbelanja, jadwal masak, jadwal beres-beres ruang belajar, dan begitu banyak jadwal lainnya. Belanja di pasar adalah satu kegiatan favoritku karena aku bisa keluar sejenak dari asrama. Terkadang sengaja aku berlama-lama belanja agar bisa dapat hiburan.  

Aku pergi dengan menggunakan sepeda. Kukayuh sepeda yang sudah berkarat di beberapa bagian jeruji rodanya. Sepeda yang setia menemaniku berbelanja di pasar. Di perjalanan menuju pasar, bila ada penjual asesoris rambut atau cemilan aku berhenti dan mampir untuk lihat-lihat. Aku paling suka berhenti di depan penjual gula kapas. Aku asyik melihat aksinya membuat gula kapas dan senang memperhatikan ekspresi muka anak-anak kecil yang mengantri dan lompat-lompat kecil bila gula kapasnya sudah ada di genggaman.  

Aduh, hampir jam 8. Bisa kehabisan ikan segar nantinya.  

Aku mengayuh sepeda lebih kencang. Hari ini Maria ingin memasak ikan kuah asam. Dan dia hanya mau menggunakan ikan kakap merah. Kalau tidak cepat-cepat dan berebut dengan ibu-ibu yang lain, bisa kehabisan dan aku kena amuk Maria.  

Kuparkir begitu saja sepedaku hingga tukang parkir berteriak untuk membenarkan posisi sepedaku tapi kuacuhkan. Aku berlari hingga sampai di lapak penjual ikan. Nafasku tak beraturan, aku mencari-cari ikan kakap merah. Dan ah, ada. Untunglah. Segera kuminta 5 ekor kakap merah dibersihkan dan kutinggal untuk berbelanja bahan yang lain.  

Aku berhenti di depan toko kelontong untuk membeli titipan teman. Di toko ini ada para pelayannya selalu berpakaian rapi dan ramah melayani pembeli. Ini juga salah satu alasan kenapa aku suka berbelanja di pasar. Tak pernah kulihat wajah lelah, selalu tawa yang menghiasi pada tiap wajah pelayan. Mungkin karena aku selalu mampir ke toko ini pagi, tak pernah siang hari.  

“Cari apa, Mbak?” ada suara perempuan yang sangat familiar tepat dekat kupingku.  

“Mau beli pembalut.”  

Aku menoleh ke sumber suara itu. Dian, anak perempuan yang tinggal di seberang asramaku. Dia satu sekolah denganku. Anaknya cantik, matanya belo, rambutnya bagus, tinggi semampai. Sebuah keajaiban aku menjumpai dirinya mau ke pasar. Hampir semua anak asrama tak ada yang suka dengan Dian. Katanya suka mencari-cari keburukan orang lain dan membandingkan dengan kelebihannya. Aku selama ini bersikap netral saja karena belum pernah bermasalah dengan dia.  

“Rin, aku perhatikan selama ini memang ada yang aneh dari kamu.” Mata Dian memandangi kepalaku.

Aku mengernyitkan dahi.

“Maksudnya?”  

“Itu lho. Rambutmu. Warnanya sih hitam, tapi kusam. Gak kayak rambutku. Lurus, panjang, bagus, mengkilat. Pasti kamu gak pernah pakai kondisioner atau perawatan rambut. Pantes anak cowok gak ada yang mau ma kamu. Jelek gitu sih rambutmu.”  

Dian sialan!  

Dan hening tercipta di antara kami berdua. Aku memegang rambutku.  

Tapi bentar deh, rambutku beneran kusam ya?

3 thoughts on “Hitam Kusam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s