Doa Terakhir

Saya terima nikah dan kawinnya Alia Gusta Binti Agus Pratomo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.  

Bagaimana? Sah?  

SAAAHH…  

Alhamdulillah. Al-Fatihah…  

Aku terharu melihat akad nikah kakakku. Inilah impian dia sedari dulu. Menikah dengan seorang pria yang mencintai dia apa adanya, yang tak hanya sayang dengan dirinya tapi harus juga sayang dengan keluargaku. Menikah di masjid impiannya, Masjid Raya Ar-Rahman dengan wali nikah ayah sendiri dan disaksikan keluarga dan kerabat dekat saja.  

Kakakku teramat cantik dibalut kebaya putih dan kain jarit motif sido mukti. Rambutnya ditata dengan sanggul modern dengan dihias bunga melati. Polesan make up tipis membuat wajahnya makin ayu. Usai prosesi penyerahan mahar, kakakku memandang ke arahku dan dari gerak bibirnya, dia berkata terima kasih. Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku.  

Aku dekat dengan Kak Alia. Jarak usia yang hanya berbeda 18 bulan membuat tak ada rahasia di antara kami. Aku sangat tahu, pernikahan ini sangat dinantikan Kak Alia. Cacat fisik yang diderita sempat membuat dia minder. Merasa tak akan ada lelaki yang mau menyuntingnya. Ada kekurangan tapi pasti ditutupi dengan kelebihan. Kak Alia, seorang tuna rungu dan tuna wicara sejak usia satu tahun karena gendang telinganya pecah terkena infeksi telinga tengah termasuk satu dari segelintir penyandang cacat yang bisa meraih gelar sarjana. Berkat didikan ibu yang lumayan keras, prestasinya yang moncer bisa menutupi rasa kurang percaya dirinya.  

Suatu malam, Kak Alia memberitahukan padaku bahwa dia mendapat jawaban dari tiap doa terakhir yang selalu dia panjatkan seusai sholat wajib. Doa terakhir untuk segera bertemu jodohnya. Mas Brian adalah teman kuliah satu angkatan Kak Alia yang bertemu di sebuah acara amal untuk anak-anak penyandang cacat. Melihat kegigihan Kak Alia memperjuangkan nasib anak-anak itu, membuat Mas Brian trenyuh dan berani langsung melamar Kak Alia.  

Mengingat hal-hal itu membuat aku senyam-senyum sendiri. Lenganku disenggol oleh orang yang duduk di sebelahku.  

“Kenapa? Mbayangin nikah juga ya?”  

“Hehehe. Inget-inget waktu Kak Alia cerita habis dilamar Mas Brian. Aku ngrasa tersentuh. Kak Alia yang hanya bisa berkomunikasi lewat gerak bibir atau terkadang bisa mengucap kata tapi gak jelas pengucapannya merasa sangat terberkati bisa bertemu dengan jodohnya.”  

“Keren ya. Doa terakhirnya benar-benar diberi jawaban ma Allah.”  

“He em,” aku mengangguk pelan dan kembali tersenyum.  

“Doa terakhirmu sama kayak Kak Alia ga?”  

“Ya sama lah, gak usah pura-pura gak tau deh,” aku mencubit lengannya.

“Hehehe.”  

Mataku kembali beradu pandang dengan Kak Alia. Aku membaca gerak bibirnya, kamu kapan? Dasar Kak Alia. Kuangkat kedua pundakku memberi tanda tidak tahu. Dia kembali membalas, tunggu apa lagi? Aku hanya tersenyum dan menjawab, tunggu dilamar.  

Orang di sebelahku kembali menyenggol lenganku.  

“Kalau aku jadi jawaban doa terakhirmu, kamu mau gak?”  

Kepalaku langsung menoleh dan memandang lekat orang yang baru saja bertanya padaku.  

“Pasti mau!”

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s