Sumpah di Dadaku

image

Kupoles wajahku dengan foundation warna beige diikuti pelembab wajah tipis saja. Kutepuk-tepuk mukaku dengan puff untuk menempelkan bedak tabur. Tak lupa kusapukan kuas ke kelopak mata. Kuwarna dia dengan warna merah jambu, warna favoritku. Kububuhkan sedikit eye shadow yang berglitter ke tulang mata. Aku tersenyum untuk menonjolkan tulang pipi dan kusaput dengan perona pipi warna merah jambu campur coklat. Gincu merah darah sudah mewarnai bibir tipisku. Ah, aku cantik sekali.  

Rambutku disasak di bagian poni. Kusemprotkan hair spray agar bentuk sasakannya tetap rapi. Rambut panjangku digelung rapi dan kututup dengan hair net agar rambut-rambut usilnya tidak membuat tatanannya jelek. Kusematkan bunga melati yang sudah dironce semalam ke pinggir gelungan. Giwang bertabur berlian pemberian calon mertua sudah menjepit ujung bawah daun telingaku. Terakhir kukenakan juga kalung mutiara yang mengkilat untuk mempercantik penampilanku hari ini.

Gaun putih backless bertabur payet mewah penuh di bagian dada yang sudah kupesan di seorang desainer ternama membalut tubuh rampingku. Sengaja aku tampil seperti ini di hadapanmu untuk membuat kau bahagia dan gembira. Sengaja aku membuat sebuah kejutan kecil untukmu. Yah, meskipun hanya tampil di depan batu nisanmu. Hari ini adalah tepat satu tahun kita bertemu, tepat enam bulan setelah kau melamarku, tepat satu bulan seharusnya kita menikah, tepat satu minggu kau pergi selama-lamanya meninggalkan aku.  

Kita sudah bersumpah
Kita akan bersama selamanya
Sehidup semati
Berdua  

***

“Astagfirullah. Tolong! Tolong! Ada mayat perempuan di sini!”  

Si juru kunci Taman Makam Pahlawan Untung Suropati berteriak sambil berlari tak karuan arah memanggil temannya yang ada di pos depan.  

Segera saja berita ini tersiar dan membuat masyarakat sekitar berhambur ingin mengetahui mayat perempuan cantik berbalut gaun putih yang bernoda warna merah darah di bagian dada kirinya. Terbaring tepat di sebelah makam seorang kapten yang tanahnya masih basah dengan senyum mengukir di bibirnya dan masih menancap pisau panjang tepat di jantungnya. Miris.

One thought on “Sumpah di Dadaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s