Orang Ketiga

“Aku rasa akhir-akhir ini kamu mencurigakan,” ujar Adib pada Mia yang sedang memilih sayuran untuk dia masak sore ini.  

“Mencurigakan bagaimana?” Mia bertanya tanpa menoleh ke arah Adib yang sedang memainkan troli belanjaan.  

“Kamu lebih suka menyendiri akhir-akhir ini,” mata Adib menerawang memandangi troli yang baru terisi dengan plastik isi buah apel dan anggur.

“Perasaanmu aja,”  

“Kamu sekarang lebih sibuk dengan Blackberry. Seperti ada yang penting yang selalu kamu nantikan ketimbang aku,” Adib mengambil sayuran yang disorongkan Mia dan meletakkannya ke dalam troli.  

Mereka berdua berjalan ke tempat timbangan sayur. Mia sibuk membuka katalog yang diberikan pegawai supermarket ketika mereka masuk tadi. Adib hanya terdiam menanti alasan yang akan diucapkan Mia.  

“Mia! Gak ada pembelaan dari kamu? Diem aja.”  

“Percuma, Mas Adib. Aku jawab apapun pasti nanti salah. Buat apa pertemuan yang jarang seperti ini diisi dengan berantem?”  

Selesai sayuran ditimbang, mereka berdua berjalan ke tempat makanan beku. Mia ingin membeli crab stick, siomay dan nugget. Dalam benaknya sudah terbayang ingin membuat sapo tahu untuk suaminya.  

“Tapi, Mi, ini malah aneh. Aku jarang pulang, tapi sekalinya aku pulang kamu malah aneh. Sibuk dengan Blackberry, seharian mantengin tabletmu. Aku jarang kamu perhatikan. Jangan-jangan kamu selingkuh?”  

“Ahaha. Lucu kamu, Mas. Aku selingkuh tapi masih mau masakin ma ngelonin kamu tiap malam? Udah, gak usah dibahas lagi.”  

Dalam hati Adib, dia masih tidak puas dengan jawaban-jawaban Mia. Seminggu terakhir dia sengaja cuti dari pekerjaannya di Kalimantan karena rindu setengah mati pada istrinya. Tapi perlakuan yang diberikan Mia bertolak belakang dengan inginnya. Berbeda dengan satu bulan yang lalu, ketika Adib pulang sebentar untuk ikut rapat di kantor pusat. Mia begitu hangat, memanjakan Adib dan itulah yang membuat Adib sengaja mengambil cuti untuk bertemu lagi dengan Mia.  

Pernikahan mereka yang baru berjalan satu tahun harus dijalani dengan long distance karena pekerjaan Adib. Mereka berdua sudah terbiasa dengan keadaan ini sejak masih pacaran. Mia tinggal sendiri di rumah mereka di Bandung dan Adib biasa pulang tiap 3 bulan sekali. Sesekali adik Adib yang kuliah S2 di Bandung, Rama, main ke tempat Mia dan Adib. Mia dan Rama adalah teman sejak SMA, jadi tak heran mereka berdua dekat dengan Mia. Kebetulan pula, seminggu ini Rama sering menginap di tempat. Mia selalu bisa bercanda dengan Rama, kadang mereka tak malu saling mencubit lengan di depan Adib. Adib curiga, jangan-jangan Mia ada main belakang dengan Rama. Tapi apa mungkin Rama tega menjadi orang ketiga dalam pernikahanku, batin Adib beradu pendapat sendiri.  

“Mas, Rama mau nyusul ke sini.”

Ucapan Mia membuyarkan perseteruan batin Adib. Dalam hatinya merutuk, baru dipikirin udah mau muncul.  

“Oh,” Adib sudah mulai malas dengan tingkah Mia dan berpikir aneh-aneh tentang Mia dan Rama.  

“Ini barusan ada BBM dari Rama. Dia juga lagi di mall sini, lagi di atas,”  

Adib hanya mengangguk dan mengaduk-aduk isi troli karena tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghilangkan pikiran jelek di otaknya.  

“Dor!” Rama mengejutkan Adib dari belakang.  

“Kakak iparku, mau masak apa malam ini? Aku numpang makan di sana yaaa,” rengekan Rama membuat Adib jijik. Tak pantas Rama bertingkah seperti itu, terlebih pada Mia.  

“Sapo tahu, adik iparku.”  

“Pake udang gak? Ato baso?”  

“Cobain pake crab stick. Udah ah, bawel. Bantuin cari susu aja deh buat aku,”  

“Oke sip!” Rama mengambil posisi tegak sambil hormat pada Mia.  

Hah? Apa-apaan ini? Gaya mereka berdua gak wajar. Bisa-bisanya nyuekin gue!  

Tangan Adib sudah mengepal menahan emosi. Tak tahan melihat Mia dan Rama sedang memilih susu cair UHT sambil bercanda, Adib setengah berteriak.  

“Bener kan, Mi. Kamu kayaknya ada apa-apa ama Rama. Perlakuanmu ke Rama itu beda dari biasanya.”  

Mia dan Rama terperanjat kaget mendengar Adib berujar seperti itu. Mereka berdua saling memandang.  

“Lo juga, Ram. Lo manfaatin Mia selama gue di Kalimantan ya? Ngaku aja lo. Mentang-mentang udah sohiban mulai SMA!”  

“Ngawur lo, Bang!”  

“Buktinya, lo berdua asyik ketawa haha hihi nyuekin gue yang seolah kayak ajudan lo berdua. Yang suami istri sapa?”  

“Curigaan banget! Ntar anak lo yang ngamuk baru tahu rasa lo!”  

“Anak? Apaan?”  

“Nih, anak lo yang lagi gak pengen ngomong ma bapaknya. Pantesan aja, ternyata bapaknya curigaan. Nuduh gue ma nyokapnya selingkuh pula. Bah!”  

“Mi?”  

Adib sekarang memandang heran pada Mia. Mia hanya cengar-cengir. Tangannya mengelus perutnya. Adib menepuk jidatnya.  

“Kamu hamil, Mi?”  

Masih dengan cengengesan, Mia menganggukkan kepalanya.  

“Jangan curiga ama orang ketiga yang ini ya, Mas.”  

Wajah Adib memerah, malu pada adik dan istrinya sendiri. Dalam hatinya bersorak girang, dia akan jadi ayah.

image

7 thoughts on “Orang Ketiga

  1. cieee,,,mantap cerpennya,,, 10 jempol deh,,,
    seandaix di dunia nyata,,,sangat wajar klo si adib curiga,,,kabar yg harusx ditahu suami dahulu malah tahunya belakangan,,,,
    sopo tahu sih,,, hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s