Hujan Dini Hari

image

Ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukannya pelan saja tapi bisa membangunkanku dari tidur yang sudah kulewati, hmm, mungkin sekitar 3 jam. Kulirik jam dinding yang memantulkan cahaya hijau di saat gelap, jarum pendeknya di angka satu, jam panjangnya di angka tiga. Kukedipkan mataku untuk memfokuskan tajam penglihatan. Jendelaku basah. Ternyata rintik hujan yang memanggilku untuk bangun.  

Kusibakkan selimut yang menutupi kedua kakiku, aku beranjak dari tempat tidur dan mulai berjalan ke kamar belakang. Kamarmu. Aku berjingkat berjalan menuju kamarmu, takut tapak kakiku menimbulkan bunyi berisik yang membuatmu terbangun. Di ruang tengah yang memisahkan kamar kita, bisa kucium wangi tanah yang dibasuh air hujan. Aroma mistis yang menimbulkan gairah romantisku sesaat.  

Pintu kamarmu tak tertutup rapat. Kebiasaanmu seperti itu. Dengan lampu yang tak pernah padam, pintu yang tak pernah kau tutup rapat, kamu menjalani rutinitas tidurmu. Seratus delapan puluh derajat berbeda denganku dan itu yang membuat kita tidur terpisah. Kuintip kau dari celah pintu kamar. Kau masih tertidur nyenyak. Padahal suara ketukan rintik hujan terdengar lebih keras di situ. Jendela kamarmu yang langsung menghadap ke taman belakang rumah.  

Aku berbalik arah menuju dapur. Kebiasaanku menikmati hujan adalah menatapnya lewat jendela sambil menyesap secangkir kopi hangat. Awalnya dulu kau selalu marah dengan kebiasaanku ini, tapi lama-lama kau ikut tertular. Sebuah kebiasaan yang menjadi candu bagi kita berdua yang langsung kita lanjutkan dengan bercumbu. Hujan dini hari adalah favoritku karena aku bisa menjelajahi tubuh molekmu hingga fajar menyingsing.  

Kusiapkan dua cangkir kopi Toraja di atas nampan. Asapnya yang mengepul menebarkan wangi harum. Kubuka pintu kamarmu lebar agar aku bisa masuk. Kuletakkan nampan tadi di atas meja riasmu. Kamu masih terlelap. Tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarmu, matamu masih tertutup rapat. Kugeser kursi meja riasmu mendekati jendela. Kupandangi bulan masih bersinar terang meskipun hujan mengguyur bumi.

Kuseruput kopi dalam cangkir. Ah, benar-benar romantis bisa menikmati hujan dini hari seperti ini. Lepas aku menghabiskan kopi, bagaimana kalau kita bercinta seperti biasanya? Tapi aku enggan mengganggu tidurmu. Tidurmu kali ini terlalu pulas. Hingga tak menimbulkan bunyi sedikit pun.  

Aku beringsut mendekatimu. Kubuka selimut yang menutupi pahamu. Gairahku mulai terkumpul. Aliran darah deras kurasakan di alat kelaminku. Kubisikkan kata-kata romantis di dekat telingamu. Berharap kau akan bangun dan langsung melumat bibirku. Mulai kuciumi wajah mulusmu. Kau tetap tak bergeming.  

Tunggu dulu, Sayang. Ada bau aneh dari tubuhmu. Apakah ini sudah saatnya aku menyuntikkan formalin ke dalam tubuhmu?

15 thoughts on “Hujan Dini Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s