Sayur Asem, Sambal Tomat

image

sumber: vemale.com

“Jul, gue mau makan di warung Bu Yatmi. Ikutan ga?” aku berdiri dari kursi kuliah yang keras itu sambil menggeliat meregangkan otot punggung yang pegal.  

“Warung? Ogah. Alergi gue,” Julian mencibirku sambil melirik tajam.  

“Pret banget dah! Belagu lo! Udah cobain aja.”  

“Tempatnya bersih ga?”  

“Bersih banget. Ada sertifikat dari Dinas Kesehatan segala dipajang di sono,”  

“Buset! Warung jaman sekarang udah pake begituan ye? Canggih.”  

“Lo aja, Jul, yang ketinggalan. Udah buruan, laper gue.”  

Aku dan Julian mengemasi alat tulis yang berserakan di meja. Memasukkan buku asal-asalan ke dalam tas. Perut sudah tidak bisa dikompromi. Sedari tadi dia sudah membuka orkes sendiri waktu Pak Tyo menerangkan tentang ekonomi mikro. Akibat lapar, tak ada satu pun yang nyantol di otakku.  

Julian, sahabatku, salah satu dari beribu orang yang alergi dengan kata-kata warung. Sedangkan aku memiliki kebiasaan menyebut tempat makan dengan sebutan warung, kecuali fast food. Yang terpikir di benak Julian, warung identik dengan pinggir jalan dan kotor. Padahal warung Bu Yatmi yang baru buka 2 bulan dekat kampusku ini tempatnya bersih dan masakannya enak semua. Mengingatkan aku pada masakan ibu di rumah. Favoritku adalah sayur asem ditambah sambal tomat. Jangan lupa dengan nasi hangat dan lauknya terserah mulut mau apa.  

Sebenarnya baru 2 hari yang lalu aku makan di warung lesehan milik Bu Yatmi ini. Nasi hangat, ayam goreng, tempe goreng, sayur asem dan tak lupa sambal tomat. Membayangkannya saja membuat air liurku mau tumpah keluar mulut. Aku mempercepat langkahku dan menarik tangan Julian agar cepat sampai di warung lesehan.  

“Yen, bersih juga nih warung. Pake model prasmanan pula. Bisa sering-sering deh gue ke sini,” Julian sudah kalap mengambil lauk ini itu di meja panjang prasmanan.  

“Gue bilang juga apa, Jul. Yang paling sip di warung ini itu sayur asem ma sambal tomatnya. Mantep!”  

“Wah, gue harus cobain deh.” Julian langsung mengambil mangkok dan mengisinya penuh dengan sayur asem. Disendoknya sambal tomat sebanyak dua sendok penuh.  

Lahap karena kelaparan. Ini nikmat dunia di saat perut sudah meronta ingin diberi makan, langsung menyantap nasi hangat dengan daging bumbu rica pakai kuah sayur asem. Segar!  

“Aduh, Yen. Gak salah pilihan lo. Sayur asemnya segeeerr banget. Sambal tomatnya nendang pedesnya. Nagih! Ntar kalo lo ke sini lagi, ajak-ajak gue ya,”  

“Bereees!” aku mengacungkan dua jempolku.  

Sebentar lagi jam satu. Ada kelas lagi dari Bu Tika. Gak boleh telat. Dosen killer.  

“Bu Yatmiii. Seperti biasa, masakannya enaak banget. Hehe. Nih, aku bawa temen baru yang juga ketagihan sayur asem ma sambal tomatnya.”  

“Aduh, Nak Yeni bisa aja. Warung Ibu jadi laris kalo temen-temennya Nak Yeni diajakin makan di sini,” Bu Yatmi tersipu-sipu malu sambil mengelap etalase kaca tempat menyimpan puluhan bungkus kerupuk udang.  

“Pokoknya ada diskon aja kalo aku jadi marketing warung lesehan Bu Yatmi,”  

“Pasti ada, Nak Yeni.”  

Bu Yatmi tersenyum lebar membuat matanya menyipit. Mungkin orang bisa salah mengira kalau Bu Yatmi turunan Cina, padahal asli dari Jawa. Suaminya, Pak Hengky, turunan Cina dari Manado. Aku pernah bertemu dengan suaminya waktu minggu pertama warung ini buka.  

“Bu, ntar lagi aku ada kuliah. Harus cepet. Tadi makannya berdua sama, nasi, sayur asem, daging bumbu rica, tahu, tempe, sambal, krupuk, minumnya es teh.”  

Dengan cekatan, Bu Yatmi memencet angka-angka di kalkulatornya dan tampak hasil akhirnya 25.000.  

“Es tehnya bonus.”  

“Wah, makasih. Beneran sering makan di sini ntar saya, Bu.” Julian ikut berkomentar. Bu Yatmi menanggapi dengan tersenyum.

“Oh iya, Bu Yatmi. Tadi itu pake daging apa ya? Enak banget. Gak alot. Bumbu ricanya meresap sampe dalam.” Pertanyaan dan komentar Julian bak koki profesional saja.  

“Daging RW namanya. Bapak baru datang dari Manado, trus bawa itu daging.”  

“Apaan tuh?” sontak kami berdua berbarengan.  

Bu Yatmi menjawab sambil cengengesan, “hehehe. Anjing.”  

Mataku langsung beradu pandang dengan Julian. Wajah kami terlihat pucat. Cepat-cepat Julian mengambil selembar uang dua puluh ribu dan lima ribu dari saku celananya.  

Kami berdua berlari keluar warung sambil berteriak,  

“Anjiiiiiinnggg!”

One thought on “Sayur Asem, Sambal Tomat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s