Flash Fiction

image

“Kapan kamu nulis lagi?” Tanya seseorang pada diriku yang kudengarkan lewat headset Android.  

“Sabar. Ntar lagi juga ada postingan baru, hehehe.” Jawabku sambil terkekeh. Sedang jemariku masih asyik memencet huruf-huruf di Macbook.

“Terakhir kamu posting tanggal 1 November kemarin. Sekarang tanggal 6. Udah lima hari gak ada yang baru!” Gaya bicaranya seolah memaksa agar aku cepat memperbarui blog.  

“Bawel! Ini lagi ngedit tulisannya sebelum diposting. Kan malu-maluin kalo masih ada typo,”  

Dia, yang namanya tak perlu kusebut, adalah seorang penggemar tulisan-tulisanku. Yang selalu menantikan tulisan terbaru yang kutulis di blog. Terkadang aku mengirimkan email yang berisi cerpenku yang paling baru untuk dia beri komentar sebelum kukirim ke sebuah majalah. Dia adalah pengkritik tulisanku paling kejam, tapi dia juga pemuja tulisanku paling tulus.  

“Hei, kok diem sih?” Dia mengeluarkan suaranya lagi. Konsentrasiku untuk mengedit tulisan agak buyar. Frustasi juga dari tadi mengedit tulisan tak kunjung selesai.  

“Ini masih ngedit tulisannya. Gimana mau cepet selesai kalo kamu nelpon trus gangguin melulu?”  

“Aku tungguin kamu ngedit. Telponnya gak usah ditutup,”  

Kulanjutkan membaca tiap kata yang sudah kuketik di Microsoft Word. Tidak boleh ada typo lagi. Terakhir aku diingatkan oleh salah satu pembaca blog, itu sengaja nulis mau asmara atau memang salah ketik? Sial. Niatku mengetik asrama jadi salah mengetik asmara. Salah ketik itu luput kukoreksi karena waktu mengedit tulisan itu sedang ditelepon oleh si dia ini dan terburu-buru memposting agar tak terlewat prime time di Twitter.  

Tiga kali baca ketikanku ini rasanya sudah cukup. Kubuka halaman Google Chrome dan mengetikkan alamat blogku. Kucopy semua tulisan yang tadi sudah kuketik ke halaman ‘New Post’ di WordPress. Beres. Aku klik kolom ‘Publish’.  

“Halo yang di seberang sana. Sudah selesai. Udah aku posting juga. Silahkan dibaca,”  

“Oke. Aku baca dulu. Tunggu komentarku!”  

Hening. Kubuka halaman ‘My Stats’ untuk melihat traffic kunjungan blog hari ini sembari menunggu dia selesai membaca. Lumayan. Hari ini ada 44 orang yang berkunjung. Dengan postingan baru seharusnya akan lebih banyak lagi yang berkunjung.  

“Selesai! Bagus! Tidak ada typo. Ceritanya simpel, twistnya aku suka sekali, endingnya ngasih kejutan!”  

“Hehehe. Thanks.”  

“Aku suka tulisan kamu. Gampang dimengerti dan ditulis pakai hati. Tapi terkadang terlihat juga sih tulisan yang kamu paksa tulis. Gak ada feel di dalamnya. Kamu cuma sekedar menulis untuk menghentikan laju tanya para penggemar tulisanmu yang menanyakan mana tulisan terbarumu.”  

“Hihihi, kamu ngerti banget tentang aku.”  

“Apa sih yang aku gak ngerti tentang kamu?”  

“Gombal!”  

“Tapi aku yakin, ada sesuatu yang kamu gak ngerti tentang aku. Ada yang aku suka selain tulisanmu.”  

“Masa? Apa itu?”  

“Pertama, aku suka tulisan kamu. Kedua, ulangi lagi pernyataan pertamaku dan hilangkan kata tulisan,”  

Pipiku memerah, jantungku seolah berhenti berdetak satu detik kemudian kembali berdetak tetapi lebih kencang. Telingaku tidak salah mendengar kan?

2 thoughts on “Flash Fiction

  1. ea ea ea eaaa,,,gk salah dengar,,,
    ketemuan makax reth,,,
    siapa tw kan??? hihihihi

    ayo itu si penggemar sainganku.,,,,

    katakan face 2 face,,,😛
    kunjungi lah dia,,,cmn seberang pulau tuh,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s