NKRI HARGA MATI (1): Catatan Perjalanan Menuju Perbatasan NKRI-Timor Leste

12 Desember 2012

“Tha, diajakin Mama Lin ke Maritaing,” ujar dr. Desi, partner kerja di Puskesmas Bukapiting.
“MAUUU!”

Semangat banget mau lah diajak ke sana. Maritaing adalah nama daerah paling timur di Alor langsung berbatasan dengan Timor Leste. Namun masih dibatasi oleh lautan biru. Lain dengan Kab. Belu yang ada di pulau Timor, NTT yang mana pulaunya nyambung dengan Timor Leste.

Ceritanya, di Maritaing sana bakal ada acara peresmian patung Jendral Sudirman oleh Kapolri dan Panglima TNI pas hari Sabtu tanggal 15 Desember. Lumayan dong ke Maritaing pas ada acara gitu, rame-rame. Kapan lagi bisa sampai Alor paling timur? Hehehe.

13 Desember 2012

10.00 WITA
“Gimana Mama Lin? Besok jadi ke Maritaing ga?”
“Emmm, gak ada kabar, Tha.”
“Ya udah, dianggap gak jadi aja. Padahal kapan lagi ya ke sana? Huhu.”
“Iya nih. Sayang banget kalo gak jadi.”
Kami berdua bersedih karena gak jadi pergi ke Maritaing dan berpelukan untuk saling menguatkan diri.

11.30 WITA
Nuga nega naboda deo jal naga? No no no no Na na na na
Nuga nega naboda deo jal naga? No no no no Na na na na

2NE1 nyanyi. Tandanya ada yang nelpon ke ponselku. Si bapak kapus yang telepon.

Halo. Ya kenapa, Om?
Ini saya lagi di dinas. Bapak kepala dinas ada omong kalo besok situ berangkat ke Maritaing ya. Besok pagi berangkatnya.
Naik apa? Sama siapa? (dengan wajah berbinar-binar, gigit-gigit ujung sprei)
Besok diantar Om Mesakh. Tapi ambulans langsung turun lagi. Situ nginap karena acaranya baru tanggal 15, hari Sabtu.
Oke. Siap.
Nanti sore saya kembali ke Bukapiting, kita omongin lagi.  
Sip.
Klik.

“Desi, ke Maritaing besoooookk.”

Menghambur keluar dari kamar menuju dapur saat Desi sedang masak telur dadar untuk makan siang dan hampir aja aku nabrak kompor minyak tanah.

“Kalo dari omongannya kapus, yang berangkat aku aja. Tapi kamu ikut aja. Yuk yuk yuk.”

Desi mengangguk kepalanya kuat-kuat. Kami berdua bergandengan tangan dan melompat bersama. Sepanjang makan siang kami berdua mengobrolkan bagaimana serunya nanti di Maritaing sana.

Malam hari, mampir ke tempat kapus yang lagi ketik-ketik dokumen. Dan benar, aslinya yang diperintah bapak Kadinkes cuma aku seorang. Tapi aku jelas gak mau sendirian. Dan berhasil lah membujuk si kapus biar Desi juga ikutan. Dibilangin berangkatnya jam 8 pagi. Trus kami berdua bertanya-tanya, gimana pulangnya? Kata pak Kapus, “tenang saja, nanti nebeng ambulans rumah sakit Kalabahi. Kan ada yang naik juga.”

Kami berdua mengangkat jempol kemudian menggoyang-goyangkannya karena pak Kapus lagi nyetel dangdut. Tak lupa pak Kapus memberi uang saku pada kami berdua. Makin girang, riang gembira, kepala ikutan goyang karena dapet duit. Pamit ke kapus dan main ke rumah perawat gigi buat pinjam kamera digital. Maklum, kameraku ada di kos Kalabahi. Pulangnya malem soalnya ama nonton Take Me Out plus nggosip ama istrinya perawat gigi.

14 Desember 2012

09.40
Berangkatlah dr. Maretha, dr. Desi, Om Mesakh, Mama Lin, Echi, Ona, Elen, Heni ke Maritaing. Yang nginep 2 orang, yang nganter serombongan. Seperti biasa, lagu yang mengantarkan perjalanan kami adalah lagu lawas dari Dina Mariana. Maklum, ambulans cuma punya CD mp3 bajakan sang biduan lawas itu.

Menurut salah satu sejawat yang sudah pernah sampai di Maritaing, jalanannya jelek. Bahkan ada beberapa spot tertentu yang jalannya lebih hancur daripada Wairiang-Lewoleba (baca di Keluar Desa, Masuk Desa). Aku sih tenang-tenang aja karena duduk di depan naik mobil Ford Ranger. No problem mau medan jelek kayak apapun. Hohoho.

Pemandangan sepanjang jalan benar-benar memanjakan mata. Karena batas laut tampak seperti menyatu dengan langit. Warna birunya kontras dengan warna daun pepohonan yang menguning. Oh, pembaca, ternyata jalannya bagus. Bagus banget malah ketimbang jalan di Wairiang. Ini udah aspalan. Bahkan kentara jelas kalo jalannya baru diaspal. Tapi, jalannya berkelok-kelok luar biasa. Jalannya gak sekedar tikungan tajam berbelok 90 derajat, tapi belokan 180 derajat atau mungkin lebih pantas disebut putaran. Gila bener. Mana Om Mesakh kalo nyetir kayak dikejar setan. Hasilnya si Elen dua kali muntah karena mabok darat. Hedeh.

image

Pemandangan dan jalanan menuju Maritaing yang bagus

Jalanannya naik ke puncak gunung, namanya daerah Lantoka. Adem banget anginnya pas daerah sini. Tapi namanya juga daerah sangat terpencil ya. Sampailah di jalan yang sudah tak beraspal. Jalannya berpasir, tanah lumpur karena bekas hujan. Mungkin kalo naik sepeda motor ya bakal sengsara juga. Hafiuh.

12.00
Sampai juga di Maritaing! Berkat jalan yang sudah banyak diaspal, perjalanan ini bisa ditempuh 2,5 jam saja.

Singgah dulu di tempat kepala puskesmas Maritaing. Haha hihi ama ahli gizi dan beberapa staf Dinkes yang sudah sampai dari kemarin. Minum air kelapa muda trus dilanjutkan makan siang.

Karena personil dari Bukapiting yang lain langsung turun, kami jalan-jalan dulu ke tempat patung yang besok akan diresmikan. Ada di dekat pelabuhan yang, awww, bagus banget itu lautnya! Jepret-jepret bareng Om Sudir.

image

Patung yang menghadap Timor Leste

Dan berpisahlah kami semua di pelabuhan sambil melambaikan tisu berpucuk empat.

image

Cantiknya kebangetan.

Gabung dengan tim medis yang lain, Kak Yuni sebagai ahli gizi dari Mebung, Kak Adel dan Kak Abdul dari staf Yankes Dinkes Alor. Kami semua ngobrol tentang bagaimana panasnya Maritaing di malam hari hingga mereka bertiga yang sudah dulu nginap sampai gak bisa tidur. Trus diceritain pula gimana susahnya air di situ.

Glek. Trus bagaimana hidupku sampai besok? Aku kan tipe orang yang susah tidur jika kepanasan. Kalo masalah air, aku termasuk orang yang hemat buat ngabisin air. Tapi buat wudhu masih bisa kan?  

Begitu banyak pertanyaan di benakku yang semakin dipikir, semakin ruwet otak ini.

Akibat memasang status BBM, Maritaing plus emot dance, banyak yang langsung BBM, “aduh, kepengen.”, “ikuuut!”, “lho? Udah di sana?”. Maklum aja karena medan yang lumayan sulit dan jarak yang terlampau jauh dari pusat kota, pergi ke Maritaing jadi dambaan. Bahkan aku lupa ndak ngasih tau teman tidur plus grepe-grepe di kos-kosan kalo aku ndak turun ke kota. Dia menyesali hidupnya yang akan sendirian di kosan, memikirkan nasibnya yang harus cari makan sendirian dan siapa yang harus dia raba kala kesepian. Sudah tau orangnya kan siapa itu? Yah, @noichil. Ngahahaha.

Menjelang sore, duduk-duduk di pinggir pantai. Merasakan angin pantai yang membuat mata ingin terpejam. Agak sore sedikit, pulang, mandi, jalan-jalan lagi naik ambulans puskesmas ke toko buat cari cemilan. Pas mau balik ke puskesmas, aku, Desi, Kak Adel gak mau naik ambulans. Kami jalan kaki mau menyusuri pantai. Tapi sialnya kita malah nyasar dan nelpon Kak Abdul minta jemput. Ngok!

Malam hari, duduk manis di rumah peristirahatan. Ngobrol kemana-mana. Kak Abdul ditelepon pak Kadis kalo akan ada dokter TNI-AD dari Kupang yang bakal datang dan nginap bareng. Mmm, baiklah. Beberapa jam kemudian, sampai juga itu dr. Prathama di Maritaing. Apa lagi hiburannya kalo ndak ngobrol ngalor-ngidul lagi? Ya begitulah hidup di desa dengan listrik 12 jam. Beruntunglah juga aku bawa colokan T jadi bisa ngecharge 3 hape sekaligus karena di dalam rumah yang cukup besar cuma ada sau colokan. Ngenes.

Udah jam 10 lebih, si partner kos nelpon mau curhat kalo dia kesepian dan ngasih kabar besok dia mau ikutan pak Kadis naik ke Maritaing lepas sholat subuh. Semuanya udah excited. Sekaligus aku berpesan nanti bakalan tidur kayak dendeng karena satu kamar diisi banyak orang plus siap-siap antri mandi dan hemat air. Dan di tengah-tengah telepon, Mbak Nina dapet BBM dari Kak Lia, dokter rumah sakit yang besok pagi juga berangkat ke Maritaing. Dibilang pak Kadis mau berangkat malam ini. Dia panik, kebingungan dan menutup sebentar teleponnya.

Beberapa menit kemudian, dia nelepon lagi. Mengabarkan kalo ndak jadi ikut ke Maritaing. Dia bilang, dia sudah ndak semangat ikutan karena yang tadinya mau berangkat berdua ama anak kamar sebelah tapi tiba-tiba si anak kamar sebelah memutuskan batal ikut berangkat ditambah sudah jam sebelas, dia gak mungkin keluar sendirian ke rumah dinas pak Kadis, takut diculik. Dia bersedih hati karena sudah beli cemilan macem-macem tapi ndak jadi berangkat. Hiks (T~T )

Kemudian aku masuk ke kamar dan bersiap tidur. Cuaca memang panas, tapi ternyata lelahku membuat aku tidur cepat. Selamat malam dari Maritaing.

-to be continue-

2 thoughts on “NKRI HARGA MATI (1): Catatan Perjalanan Menuju Perbatasan NKRI-Timor Leste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s