NKRI HARGA MATI (2): Catatan Perasaan Dokter di Perbatasan NKRI-Timor Leste

Kalo baca judulnya pasti berpikir dokternya ini tugas di perbatasan. Padahal enggak. Dokternya cuma ditugaskan jadi tim medis pas ada acara di perbatasan NKRI-Timor Leste. Tepatnya di Maritaing, daerah paling timur di Alor.  

Dokternya siapa?  

Maretha.  

Lho, bukannya itu kamu ya, Tha?  

Ya iya dudul! Ini lanjutan postingan blog yang kemaren. Hehehe. Cekidot ya.  

15 Desember 2012  

Bangun pagi, kucek-kucek mata, minum air putih, ngemil biskuat, ikutan ngobrol bareng pak Kadis yang datang di Maritaing jam 4 subuh. Puas ngobrol kita-kita malah jalan ke pantai lagi buat liat kapal perang, emm, jujur aku gak ngerti itu nama kapalnya apa, tapi modelnya mirip kayak kapal U.S Marine. Ah, tauklah. Pokoknya difoto aja deh. Hehehe.  

image

Langitnya bagus kayak kapas

Gak lama kemudian, rombongan dari rumah sakit juga datang. Makin rame di puskesmas Maritaing sini. Makan pagi juga disiapkan sama Mama Kapus Maritaing.  

Sudah jam 8 lebih tapi belum mandi. Pak Kadis aja udah mandi. Dokternya belom. Mau jadi apa coba? Ya iya sih belum mandi karena banyak alasannya, satu, acaranya baru mulai jam satu nunggu Kapolri mendarat dulu di helipad dadakan depan Polsek, dua, ntar kalo mandi jadi gerah dan keringetan lagi. Males. Tapi akhirnya dua alasan itu terpatahkan karena alasan sungkan ama Kadis yang sudah rapi jali. Aku, Desi, Kak Adel, Kak Yuni bergantian mandi dengan tertib.  

Sekitar setengah sepuluh, semua sudah siap dan rapi jali. Yang pertama dilakukan adalah foto bersama. Ahahaha. Lalu di sinilah mulai kebingungan, sebenarnya pos tim medis itu di mana aja. Kabar yang didapat dr. Prathama yang tadi pagi udah survey lapangan, tim medis dipecah jadi dua. Satu tim standby di helipad, yang lain standby di tempat acara peresmian. Ya udah lah, tim medis hura-hura yang isinya dr. Prathama, dr. Maretha, dr. Desi, Kak Abdul, Om Hendra naik ambulans dan meluncur ke tempat acara peresmian.  

Sampai di sana, mobil ambulans gak boleh masuk ke dalam. Disuruh parkir di luar. Eh, malah ngeliat mobil yang dipake rombongan rumah sakit Kalabahi. Berarti yang di helipad gak ada tim medis. Trus bingung mau nghubungin salah satu dari rombongan Kalabahi karena sinyal gak bersahabat banget. Akhirnya setelah tersambung, dr. Lia-dokter dari Kalabahi, sepakat standby di tempat acara, tim hura-hura ini ke helipad.  

Tau gak isinya ambulans ini malah dua kerdus full obat oral puskesmas. Gak ada tabung oksigen, katanya Om Hendra, tabungnya diturunin pas di Kalabahi, gak ada ambubag, gak ada obat emergensi. Entahlah, ini dipikir pengobatan masal mungkin. Dan dr. Prathama juga nanya, “ada obat tetes mata ga? Biasanya ntar banyak yang minta tuh karena kelilipan debu pas heli turun.” Glek! Ya pasti gak ada jawabannya. Di puskesmas aja gak dapet obat tetes mata boook!  

Akhirnya tim medis hura-hura bergerak mendekat ke helipad. Lagi-lagi, dilarang mendekat ke arah Polsek. Malah parkir di dekat kantor camat. Di sana sudah banyak warga yang berkerumun menantikan dan melihat dari dekat bagaimana proses mendaratnya helikopter. Anak kecil-kecil tuh pada lari-larian. Ya iya sih, kalo aku masih kecil juga pasti excited berat mo ngliat helikopter.  

Dijadwalkan helikopter mendarat jam 13.00 WITA. Tapi ternyata gak tepat jadwal. Bukan molor, tapi malah maju. Jam 12.30 WITA, dua helikopter mendarat. Wah, itu kayak badai gurun pasir aja pas heli turun. Debu ke mana-mana. Untung deh tim medis hura-hura ini ada di dalam mobil yang ditutup rapat jendelanya. Sedangkan warga beserta aparat keamanan di luar sana sibuk menutupi muka mereka agar terlindung dari sapuan badai pasir helipad.  

Keren juga helikopternya mendarat mulus. Begitu penumpangnya keluar, langsung disambut oleh musik tradisional buat nari Lego-Lego.  

“Yuk, segera siap-siap buat ikut iring-iringan ini. Biasanya ambulans juga ngikutin mobilnya orang-orang penting sampe acara,” perintah dr. Prathama yang sudah biasa kerja di lapangan dan berbau-bau militer.  

“Bentar. Jangan dulu, Pak Dok. Masih ada satu helikopter lagi. Pak Kapolri belum datang.”  

Benar saja, sekitar sepuluh menit kemudian terdengar lagi suara mesin helikopter. Dan ow ooww, helikopternya lebih gede. Namanya Puma. Beneran gede dan badai yang dia ciptakan saat mendarat lebih dahsyat. Melebihi dahsyatnya badai gurun pasir yang biasa kulihat di televisi. Hih.  

Semua tamu VVIP dan VIP sudah hadir. Saatnya iring-iringan menuju lokasi peresmian patung Jendral Sudirman. Ini menurut aku ya, in my opinion, mustinya mobil ambulans itu ada di belakang mobil VIP, jadi kalo ada apa-apa langsung sigap dan membantu (ya meskipun di dalam ambulans adanya obat oral). Tapi apa yang kudapati? Mobil ambulans ada di urutan paling akhir, di belakang para pria berseragam seperti Briptu Norman si chaiya-chaiya. Dongkol berat, kenapa harus ada di paling belakang. Sebenarnya butuh tim medis ato gak sih? Hih!  

Dan sepanjang perjalanan yang cuma seiprit ke lokasi, aku dicengangkan lagi oleh banyak pria berseragam yang berdiri tegap di pinggir jalan dekat rumah warga. Berdirinya gak bergerombol, tapi berjarak. Kira-kira tiap orang berjarak 5-10 meter. Yang bikin geleng-geleng, mereka gak ngadep ke jalan raya tapi menghadap ke arah rumah warga atau ke arah jemuran warga. Semacam memindai keadaan sekitar, takutnya bakal ada serangan mendadak ke arah mobil para tamu VVIP dan VIP. Wih, udah berasa kayak di film perang nih. Hahaha.  

Kembali mobil ambulans dilarang masuk ke lokasi. Parkir di tempat jauh entah di mana. Semua penumpang ambulans ini kecuali Om Hendra, masuk ke lokasi. Menuju posko pengobatan yang ternyata gak sekedar tenda tapi ada di sebuah bangunan. Tentu tidak ada orang di situ karena semuanya merapat mendekat ke tenda di mana para tamu VVIP sedang memberikan pidato secara bergantian.  

Aku gak terlalu tertarik dengan pidato mereka, mataku tertarik pada kapal perang yang tadi pagi udah aku jepret. Sekarang di sana udah nangkring dua helikopter yang pertama datang. Wih, helinya parkir di kapal. Kalo dilihat dari jauh, lucu lho kayak mainan. Hihihi. Dan tiba-tiba, awan mulai menghitam, petir mulai menyambar. Lah? Ke mana matahari yang tadi bersinar begitu terik? Dan ke mana pawang hujan?  

Hujan langsung turun sangat deras. Begitu deras. Semua berteduh ke dalam posko pengobatan. Di satu ruangan tampak air menetes begitu deras membasahi kursi. Atapnya bocor. Dan di ruangan situ ada toilet tak berpintu. Rasanya aku pengen pipis, tapi mengurungkan niat karena gak ada pintu itu. Hih. Ngeri.  

Tiba-tiba masuklah satu bapak berseragam TNI AD. Beliau meminta obat pada tim medis. Obatnya harus merk Neozep! Gak mau yang lain. Mana obat-obat oral ada di dalam ambulans yang nun jauh di mata, hujan juga deras setengah mati, dr. Prathama menembus hujan alias basah-basahan buat nyari di mana ambulans berada karena di dalam tasnya ada obat Neozep (oh, mungkin obat ini udah jadi keharusan para tentara AD kalo lagi flu ya? Wkwkwk). Kembali dengan basah kuyup, diserahkan itu Neozep pada bapak tentara.  

Acara pidato mau selesai, saatnya penandatanganan batu prasasti. Ulala, seketika langit berhenti menangis. Hebat banget yak pawang hujannya. Pas acara pidato, dikasih hujan, pas mau acara makan-makan malah berhenti hujannya. Selesai acara di tenda, mereka semua merapat ke tenda putih tempat makan. Awalnya para tamu ini akan sholat Dhuhur, tapi mungkin setelah melihat keadaan tempat wudhu di tempat terbuka dan cuma disediakan bak-bak isi air buat air wudhu, sepertinya mereka mengurungkan niatnya. Beberapa jendral dengan banyak bintang di pundaknya mau menyalurkan hasrat pipisnya. Ada dua jendral, satu berbintang dua yang satu bintang satu, buang air kecil di toilet tak berpintu itu. EPIC! Ada ajudan yang nungguin lah biar kita-kita yang ada di dalam ruangan gak ngintip. Ngeri bok.  

image

Toilet tak berpintu.

Dalam benakku langsung terlintas sebuah pemikiran yang sempat aku utarakan ke Desi.  

“Sebenarnya gimana ya perasaan para tamu ini datang ke tempat sangat terpencil, daerah perbatasan, tapi mereka dijamu habis-habisan? Ada gak ya hati kecil mereka sejujurnya menolak untuk diperlakukan istimewa seperti itu? Ini kan Alor, bukan daerah sekaya Jakarta tapi harus menjamu para tamu ini secara mati-matian. Persiapannya berhari-hari bahkan bulanan, tapi tamunya cuma 2 jam di Maritaing sini.”  

Desi pun hanya menghela nafas. Tak tahu harus menanggapi bagaimana.  

Sudahlah, persetan dengan protokoler. Ini saatnya untuk melihat mana para pria berseragam yang ganteng. Actually, aku bukan pencari pria berseragam untuk dijadikan sebagai pendamping hidup. Tapi terkadang aku suka melihat para pria tegap bertubuh ramping yang terbalut pakaian dinas. Berasa rapi dan oke aja. Apalagi kalau wajahnya menunjang penampilan. Hihihi.  

Mata mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Dan oke, satu pria terdeteksi ganteng. Dia adalah jendral TNI AU. Tapi karena umurnya pasti udah seumur bapak, langsung diexclude untuk digebet. Mata mulai memindai. Tolah toleh kanan kiri, ups, kecantol satu pria yang gak berseragam dinas tapi di lengan bajunya jelas ada bet dari satuan kepolisian. Si doi nenteng kamera DSLR, kamera buat ngrekam, tripod, tas ransel, pokoknya banyak deh bawaannya. Aduh Mas, sini deh aku bantuin bawanya.  

image

Mas gantengnya gak noleh siy (--,)7

Matahari kembali bersinar sangat amat terik. Para tamu VVIP yang udah kenyang dan udah disuguhi tari-tarian tradisional bersiap kembali naik mobil untuk terbang lagi. Tim medis hura-hura berhambur keluar menuju ambulans. Dan okeh, lagi-lagi si ambulans ini ada di belakang para penari chaiya-chaiya. Hih!  

Ini helikopter Puma uda parkir siap dinaiki dan siap terbang. Dari jauh kelihatan gede, gimana dari deket yak? Tim medis hura-hura cuma duduk anteng dalam mobil, antisipasi dari badai pasir.  

Satu per satu heli terbang, datang dan terbang lagi. Selesai sudah rangkaian acara. Jam tangan menunjukkan pukul 14.30 WITA. Perut udah keroncongan. Dan gak ada makan siang yang dikasih panitia. Sengsara mati nih tim medis gak dikasih konsumsi. Panitianya parah!  

image

Foto atas: puma baru mendarat+sisa badai pasir, foto bawah: puma siap terbang lagi.

Kembali ke rumah singgah, numpang makan mie rebus di rumah mama Kapus, beberes barang dan naik ambulans untuk kembali ke kota. Beruntung sepanjang perjalanan gak ada hujan. Perjalanan sangat mulus dan mata dimanjakan oleh langit yang berwarna nila.  

Jam 19.00 sampai di Bukapiting, ambil motor yang ada di rumah dinas, disetirin Kak Abdul, beriringan lagi ke Kalabahi.  

20.30 WITA, sampai di kos dengan selamat. Disambut oleh teman kos yang sudah membawakan nasi goreng. Badan terasa capek, tidur pun pulas. Bahkan sampai pulasnya, tidurku yang biasanya terkenal anteng gak pernah bertingkah aneh-aneh, ternyata posisi tidurku sudah membabi buta. Sampai-sampai kakiku udah ada tepat di depan hidung sang teman tidur. Hihihi.  

Maritaing, menyimpan berjuta pesona dengan patung Jendral Sudirman yang berdiri menghadap Timor Leste sambil menatap nanar pada pulau yang dulu diperjuangkan mati-matian oleh para prajurit tapi tiba-tiba dilepaskan untuk menjadi negara sendiri. Aku teringat pada pakdheku yang dulu ikut berjuang merebut Timor Timur dari pasukan Fratelin tapi nasib naas peluru malah bersarang di dadanya dan beliau meninggal sebagai pahlawan bangsa. Kini namanya diabadikan menjadi nama lapangan tembak di Surabaya sana.  

Ah, perjalananku ini benar-benar berkesan. Sengsara tapi dinikmati saja. Untuk apa hidup terus menerus mengeluh? Toh, dengan mengeluh tak akan menyelesaikan permasalahan.  

Banyak hal yang bisa kudapatkan saat PTT. Pengalaman kerja dapat, pundi-pundi uang bertambah, jalan-jalan pasti ada, dan saudara makin banyak. Gak ada alasan aku menyesal PTT. Malah yang ada, yuk buat semua teman sejawat yang belum merasakan PTT, mari PTT terlebih dahulu. Mumpung Alor juga lagi butuh dokter lho buat ditempatkan di Rumah Sakit Bergerak (sekalian promosi).  

Tunggu apa lagi?  

Aku tunggu kalian yang mau datang ke Alor dan juga cerita-cerita teman sejawat lain tentang PTTnya🙂

image

Ki-ka: dr.Prathama, Kak Adel, dr.Desi, dr.Retha, Kak Yuni, Mama Kapus Maritaing (Mama Ros), Pak Kadinkes Alor (dr.Muhidin)

*tamat*

2 thoughts on “NKRI HARGA MATI (2): Catatan Perasaan Dokter di Perbatasan NKRI-Timor Leste

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s