DOA IBU

“Jangan! Aku gak mau digunting!”

“Tapi Mbak, ini susah keluar kepalanya. Kasian kejepit di dalam. Harus digunting,”  

“Gak mauuuu!”  

Kres!  

**  

Ponselku bunyi tiap lima menit sekali. Sepuluh pesan singkat yang masuk, tiga panggilan tak terjawab. Sengaja tak ada satupun panggilan yang kuangkat dan pesan yang kubalas. Aku terlalu malu untuk mengangkat dan membalasnya di hadapan teman-temanku. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Usiaku sudah menginjak 26 tahun. Tapi ibu selalu memperlakukanku seperti anak ayam yang harus digiring ke kandangnya, seperti anak monyet yang nakal.  

Aku sudah tahu apa yang akan terjadi setelah aku membuka pintu rumah. Rentetan kata-kata langsung keluar dari mulut ibuku mengalahkan panjangnya gerbong kereta api Argo Bromo. Biarlah. Kata-kata ibu kubiarkan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Kumainkan bola mataku. Kupandangi langit-langit dan lantai rumah secara bergantian. Sikapku memancing amarah ibu.  

“Sekarang gak didengarkan Mama ngomong apa. Tunggu kalau kamu punya anak!”  

**

“Sakitnya di sebelah mana?”  

“Minum obat dulu ya? Atau mau langsung pergi ke dokter?”  

“Mama mau masak. Kamu minta dimasakin apa?”  

Semalam beliau memarahiku, tapi pagi ini beliau langsung mengkhawatirkanku ketika aku tak mengindahkan teriakannya untuk sarapan bersama. Aku terlalu lemah untuk beranjak dari tempat tidurku setelah berulang kali pergi ke toilet dan terserang diare.  

“Tuhan, cepat sembuhkan anakku. Kasian dia bila menderita seperti ini,” pinta ibu sambil memelukku. Pelukan yang menenangkanku.  

**

Aku sudah yakin dengan keputusanku. Harus kuutarakan kabar bahagia ini pada ibu. Segera. Tidak boleh ditunda besok atau lusa.  

“Ma, Mas Ian melamarku.”  

“Alhamdulillah. Benar-benar Tuhan menjawab semua doa dan pinta Mama tiap malam. Tuhan mendekatkan jodohmu.”  

“Tapi, Nak. Nanti Mama sendirian kalau kamu menikah. Kalo Mama kangen, boleh tinggal di rumahmu kan?”  

“Kenapa Mama harus bertanya seperti itu? Tentu saja boleh dan tak akan pernah aku melarang Mama untuk tinggal bersamaku.”

“Omong-omong, gimana tadi pas Ian nglamar kamu? Cerita dong sama Mama.”  

Malam ini kuhabiskan dengan bercerita bagaimana romantisnya Ian melamarku di sebuah restoran. Dan aku juga menjadi pendengar setia untuk cerita ayah yang melamar ibu di hari ulang tahunnya. Begitu indah mendengar kisah kedua orang tuaku dan begitu bahagianya melihat senyum selalu menyungging di bibir mungilnya.  

**

“Ma, ceritain gimana dulu Mama ngelahirin aku.”  

“Gak bosen dengerinnya? Tiap minggu kamu selalu minta cerita ini. Mama bosen ceritanya.”  

“Biar bisa relaks pas nanti udah saatnya. Mumpung sekarang masih bisa ketawa meskipun udah sakit banget ini pinggang. Dan rasanya gak enak nahan mengejan.”  

“Gak boleh ngejan! Belum lengkap pembukaanmu. Kalo gak nanti bengkak jalan lahirnya malah harus operasi.”  

“Kalo gitu cerita lagi, cerita!”  

“Waktu itu Mama gak tau apa alasan dokter tapi pas Mama ngerasa sakit luar biasa di pinggang, ada suara daging digunting. Kres! Aduh, ternyata dokter sudah nggunting jalan lahir Mama.”  

“Masa gak dibius dulu , Ma?”  

“Gak tau. Pokoknya digunting dan perih banget. Tapi semua rasa sakit terbayar pas denger suara nangismu dan melihat anak Mama lahir sempurna.”  

“Duh, gak ngebayangin sakitnya. Moga-moga gak digunting kayak Mama.”  

“Gunting aja. Biar tau rasa sakitnya yang Mama rasain. Biar tau rasa gimana sakit hatinya Mama kalo kamu suka ngebantah omongan Mama.”  

“Mamaaaa,”  

“Gak, gak, Sayang. Lahir normal biasa aja.”  

Sekali lagi pelukan Mama menenangkanku di kala perutku sudah lebih sering berkontraksi.  

**

“Jangan! Aku gak mau digunting!”

“Tapi Mbak, ini susah keluar kepalanya. Kasian kejepit di dalam. Harus digunting,”  

“Gak mauuuu!”  

Kres!  

“Mamaaaaa…”  

Iya Ma, rasanya sakit banget. Nyesel kenapa selalu ngebantah Mama, nyesel kenapa selalu nyakitin Mama, tapi kenapa juga Tuhan ngabulin doa Mama biar aku ikut merasakan sakitnya pas jalan lahir digunting?!  

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s