Resolusi Tahun Baru

image

Seperti siang-siang sebelumnya, aku dan Ryan duduk di halte. Bukan di tempat duduknya, lebih tepatnya di pinggir tempat duduk halte. Tempat duduk halte terlalu sesak. Aku dan Ryan tak kebagian tempat. Dan semua yang sedang duduk di situ sedang membicarakan rencana malam Tahun Baru mereka. Aku dan Ryan menguping? Tentu tidak. Volume suara mereka yang saling beradu kencang yang membuatku bisa mendengar percakapan mereka.  

Tiga anak muda terdiri dari satu perempuan dan dua laki-laki sedang membicarakan pesta barbeque di rumah temannya. Aku tebak mereka ini kuliahan, anak rantauan, karena mereka selalu cekikikan tiap membicarakan daging sapi bakar yang lezat. Sialnya air liurku hampir menetes tiap membayangkan kelezatan barbeque yang nanti malam akan mereka santap sambil tiup terompet.  

Dua wanita usia 30-an dengan tas kresek penuh berisi sayur dan buah yang baru mereka beli di pasar belakang halte ini sedang asyik membicarakan menu yang akan mereka buat. Mereka tak terlalu antusias dengan malam Tahun Baru, tapi mereka sangat menggebu-gebu tiap membicarakan piknik bersama di awal tahun 2013. Ryan tampak serius mendengarkan percakapan dua wanita ini. Aku tebak lagi, pasti mereka berdua adalah sahabat dan akan berpiknik bersama suami dan anak-anak mereka. Menu yang mereka bicarakan adalah lumpia goreng dan puding susu ditambah vla. Sungguh kejam mereka berdua, aku dan Ryan hampir saja meneteskan air mata dan air liur kami secara bersamaan karena kami berdua sama-sama rindu masakan Ibu dan lapar. Ada beberapa persamaan yang membuatku dan Ryan bersahabat, Ibu kami entah ada di mana dan kami tukang lapar.  

Dan yang terakhir sedang mengobrol adalah sebuah keluarga besar. Bukan jumlah orangnya yang besar, tapi badan mereka yang lumayan besar. Ayah, ibu, dan dua anaknya. Saking besarnya mereka berempat, tempat duduk halte itu terasa sesak. Bahkan sang Ayah mengalah agar istri dan anaknya bisa duduk. Kali ini mereka sedang membicarakan transportasi apa yang akan mereka gunakan untuk pulang kampung. Si anak yang paling kecil usianya merengek pada ayahnya minta naik kereta api. Si ibu berusaha memberi pengertian pada si kecil bila tiket kereta api sudah ludes terjual. Satu-satunya yang bisa membawa mereka ke kampung halaman hanyalah bus. Anak yang paling besar hanya diam saja, tapi dari raut wajahnya terlihat kekecewaan yang mendalam. Bunyi gesekan sandalnya dengan lantai halte menambah pilu yang kurasakan. Aku pernah mengalami hal serupa seperti mereka. Tapi aku merengek pada ayahku untuk naik pesawat sih. Hehehe.  

Sisa orang yang ada di sekeliling halte hanyalah pedangan asongan yang setia menjajakan rokok dan minuman botol, bapak penjual majalah dan koran, mas penjual cilok dan mas penjual es puter. Semua sedang sibuk melayani pembeli mereka. Sinar matahari yang cukup terik membuat para pejalan kaki menghentikan langkah mereka dan membeli sebotol minuman mineral untuk membasahi kerongkongannya. Beberapa anak kecil sibuk menarik ujung baju ibunya ketika melihat mas penjual cilok dan es puter yang genit mempromosikan dagangannya. Aaahh, lagi-lagi aku hampir meneteskan air liur ketika melihat seorang anak laki-laki berusia lima tahun asyik menjilat-jilat es puternya. Sepertinya sebuah surga kecil bisa menikmati es krim di tengah siang bolong.  

Ryan membuyarkan seluruh konsentrasiku pada orang-orang yang duduk di halte dan sedang berlalu lalang di hadapan kami.  

“Woi, nglamun terus. Mikirin malam Tahun Baru ya?”  

Aku mengangguk lemah.  

“Daripada sedih ngelihatin orang-orang itu, mendingan kita ngobrolin resolusi Tahun Baru. Gimana?”  

Mataku hampir copot ketika mendengar Ryan berkata resolusi. Dapat kosakata baru dari mana ini anak?  

“Gile bener saran lo. Emang resolusi tuh apaan, Yan?”  

“Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, resolusi adalah pernyataan tertulis yang biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal.”  

Aku berdecak kagum pada Ryan. Aku sih tahu resolusi itu apa, tapi sekedar tahu. Gak pernah tahu artinya menurut KBBI. Satu lagi, aku tahu resolusi layar ponsel jaman sekarang sudah besar. Hihihi.  

“Kalo tertulis, berarti harus ada kertas ama pulpen. Aku minta dulu ke babang yang jual cilok. Biasanya dia kan rajin catetin pemasukan ama pengeluarannya.”  

Ryan beranjak dari tempat duduknya. Aku hanya memantau gerak-geriknya lewat ekor mata. Kuputar pandanganku ke sekeliling halte. Semua sedang menatap Ryan, ada yang menatap takut, beberapa memandang curiga, bahkan anak muda yang tadi membicarakan pesta barbeque malah tertawa cekikikan. Aku menatap Ryan. Mas penjual cilok sepertinya terganggu dengan kedatangan Ryan. Beberapa calon pembelinya mengurungkan niat untuk membeli cilok, tampak malas bersebelahan dengan Ryan.  

Kulihat Ryan sudah kembali dengan melambaikan selembar kertas dan pulpen.  

“Nih, kertas ama pulpennya. Babang penjual cilok itu selalu baik deh ama aku. Kalo yang lain jahat. Mereka selalu ngebentak dan ngusir aku tiap aku mau minta tolong. Hiks,”  

“Udah, jangan nangis. Tulis aja gih resolusi lo.”  

“Kamu duluan deh yang nulis.”  

“Yan, gak lihat tangan gue sakit begini? Masa bisa gue nulis. Lo deh yang bantuin nulis resolusi punya gue ya?”  

Ryan menganggukkan kepalanya.  

“Oke. Aku nulis duluan ya.” Ryan menuliskan sebuah kalimat di kertas tadi. Selepas menulisnya, dia membacakannya untukku. “Aku mau berubah. Aku gak mau lagi dibilang gila ama orang-orang di sekitar halte ini. Emang gila itu apaan sih?”  

“Wah, sip banget resolusi lo. Sebuah perubahan besar. Giliran gue nih. Gue ngomong, lo tulis ya?”  

Sekali lagi Ryan menganggukkan kepalanya.  

“Gue juga mau berubah. Gue gak mau lagi gangguin anak-anak kecil ama bencong di halte ini. Trus gue juga mau pindah tempat. Gue mau nyusul bokap gue ke tempatnya. Surga.”  

Ryan tergelak setelah mendengar resolusiku yang terakhir. Dia menepuk-nepuk halus pundak kiriku sebelum akhirnya dia memelukku.  

Aku tahu semua mata sedang menatap tingkah kami yang aneh. Mereka kini sedang menonton pelukan persahabatan orang gila dengan hantu usil gentayangan yang mau tobat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s