Inspirasi

image

kari-shma.tumblr.com

Seperti biasa.  

Sore hari, kedai kopi, meja pojok lengkap dengan colokan, dua MacBook yang menyala, satu cangkir kopi hitam panas, satu gelas tinggi ice blended frapucchino, satu piring french fries, aku dan kamu.  

Sudah berminggu-minggu ini aku absen dari kegiatan menulis. Pekerjaan utamaku menyita waktu begitu banyak. Terlalu banyak deadline yang harus kurampungkan di akhir tahun ini. Proyek menulis duet juga terbengkalai. Aku merasa bersalah pada partnerku yang rajin menulis dan tak pernah lelah menyemangatiku untuk tetap fokus menulis. Tapi inilah aku yang selalu membuat banyak alasan untuk tidak fokus menulis.  

“Dan, beneran ini gak nulis lagi?”  

“Mas, kerjaanku numpuk. Akhir tahun selalu identik dengan laporan.”   Mataku tak berkedip melihat layar MacBook yang mungkin sudah bosan selalu kupandangi tiap hari. Tanganku tak berhenti memencet keyboard dan memainkan mouse.  
“Iya, Dan, aku ngerti. Gak usah sewot gitu ah.”

“Mas sendiri yang cari perkara. Udah, kembali ke kerjaan masing-masing.”

“Dan, aku mau jujur deh ama kamu.”  

“Tentang?”  

“Proyek menulis duet kita.”  

Tanganku langsung berhenti menggerakkan mouse. Pandanganku jelas teralih pada laki-laki yang sedang mengangkat gelas kopi hitamnya dan meniup isinya. Asap yang mengepul membuat uap pada kacamata yang dia kenakan. Mata yang ada di balik kacamata itu tetap terarah pada kopi hitam, bukan padaku.  

“Kenapa dengan proyek menulis kita? Menyerah?”  

“Hei, bukannya kamu yang menyerah?”  

“Menunda. Bukan menyerah.”  

“Sama aja, Dan. Gak ada bedanya.”  

“Jadi, kenapa?”  

Aku mulai kesal. Kuaduk-aduk sedotan yang sudah separuh tenggelam dalam kopi dinginku. Mata laki-laki itu langsung menatapku. Dia tahu kebiasaanku bila sedang kesal. Dia kemudian tersenyum, senyumannya yang maut itu seketika memberikan sensasi dingin dalam dadaku seperti kopi dingin yang masuk ke kerongkongan.  

“Sejujurnya, aku juga menunda proyek menulis duet ini.”  

Alisku terangkat sebelah. Dahiku mengerut. Bukannya setiap sore setelah pulang kantor, kami berdua sepakat untuk meluangkan waktu selama satu jam untuk menulis novel? Tapi kuakui, dua minggu ini aku tidak melanjutkan menulis draft novel yang terhenti di bab sepuluh. Aku malah mengutak-atik data dalam Microsoft Excel.  

“Sejak kamu garap tugas kantormu, otomatis aku juga berhenti nulis novel duet kita dulu.”  

“Tapi tiap sore Mas selalu rajin menulis, ups, mengetik cerita di situ. Kalo bukan proyek menulis kita, lalu tentang apa?”  

“Mau tau?”  

Kepalaku terangguk perlahan tanpa kusadari. Dia menyorongkan MacBooknya, membuatku bisa membaca jelas apa yang tampak di layar. Sebuah file RTF berjudul ‘Dia’ berisi seratus dua puluh lima halaman A4. Kugerakkan trackpad dan menggeser scroll  ke bawah. Di halaman kedua terpampang namaku jelas di situ.  

Teruntuk istriku, Daniar. Terima kasih untuk selalu menjadi inspirasiku.  

“Besok 500 novel bakal dikirim ke rumah dan harus aku tanda tangani.”   Dia memamerkan deretan giginya yang rapi. Aku mengangkat pantat dan mendekatkan wajahku ke depan wajahnya. Kupejamkan mata saat kurasa bibir kami telah berpagutan.  

Terima kasih untuk kejutan ini dan teruslah berkarya, Sayang.

9 thoughts on “Inspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s