Jelajah Pulau Timor-NTT

Kembali lagi bertemu dengan Retha di tulisannya. Kali ini aku bakal nyeritain perjalanan menjelajahi Pulau Timor, NTT, tepatnya di Soe, Kab. Timor Tengah Selatan dan Atambua, Kab. Belu waktu tanggal 24-25 Januari 2013 kemarin. Yuk mari.

24 Januari 2013

Pagi hari, ketika membuka mata dan harus menghadapi kenyataan akan mandi dengan air dingin di Soe, hati sudah mulai menciut nyalinya. Tapi ketika teringat dulu pas masih kecil sanggup mandi air dingin di Bromo, kenapa sekarang gak berani. Hajar sudah mandi air dingin kayak es di Soe.

Jam 8 dijemput pak supir berangkatlah kami berempat, Retha, @noichil, @sandrafrans, dan @JosuaNatanael menuju Kab. Belu yang memiliki ibu kota Atambua. Udah pada tau film 39 derajat yang dibesut Mbak Mira Lesmana ma Mas Riri Reza? Yaitu film non-komersil yang setting tempatnya banyak diambil di Atambua. FYI, Kab. Belu merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, satu daratan gitu. Beda dengan Kab. Alor yang masih dipisahkan oleh lautan. Jadi ceritanya, Retha mau kedua kalinya mampir ke perbatasan NKRI-Timor Leste. Hehehe.

Perjalanan yang cukup menyenangkan karena jalan menuju Atambua sudah beraspal mulus, sungguh sangat berbeda dengan jalanan Wairiang-Lewoleba, Kab. Lembata-NTT. Tapi cukup menyedihkan karena sepanjang perjalanan hanya disuguhi musik daerah dan musik jadul. Ndak selera tinggi ini sopirnya. Beda 180 derajat sama pak sopir travel Kupang-Soe.

Sebelum akhirnya sampai di Atambua, terlebih dahulu kami singgah di Kefamenanu, Kab. Timor Tengah Utara. Begitu masuk kota, langsung ada bangunan unik. Ternyata itu kantor DPRD. Modelnya bangunan Eropa banget.

image

Cubanet nih gedungnya

Beli cemilan dan minuman dan perjalanan ini kembali berlanjut.

Sekitar pukul 13.30 WITA, sampailah kami di perbatasan NKRI-Timor Leste. Nanya sana-sini (yang nanya si Josua sih) akhirnya diperbolehkanlah kami masuk ke Timor Leste sebatas kantor imigrasinya tapi berjalan kaki. Excited lah. Begitu menginjak garis warna oranye yang merupakan garis batas Indonesia dengan Timor Leste, hati langsung bersorak gembira. Kebetulan juga berbarengan dengan beberapa orang yang memang sudah lapor dan cap paspor buat masuk Timor Leste. Jadi kepikiran pasporku yang sudah mati. Coba masih berlaku dan aku bawa, pasti bisa bener-bener main ke rumah Raul Lemos.

Matahari bersinar sangat amat terik sekali. Aku gosong lagi. Aaak. Tapi ndak papa lah, yang penting bisa mejeng di sini. Ahahaks!

image

Timor Leste euy!

Udah gak kuat lama-lama di bawah terik matahari, kami kembali pulang ke Indonesia.

Sesampainya di Indonesia (alah), lapor lagi ke pihak imigrasi dengan maksud berterima kasih sudah memberi kesempatan pada kami si anak unyu untuk menjejakkan kaki di Timor Leste. Eh, ada seorang kakak laki-laki yang tampak akrab dengan Josua. Dari pembicaraan mereka, aku bisa mendengar bahwa kakak itu mengajak kami masuk ke Timor Leste, masuk lagi ke dalam melewati imigrasi Timor Leste dan mampir beli minuman yang konon gak boleh masuk ke Indonesia.

Pembicaraan ini sangat sengit karena si supir gak mau, dia gak rela mobil yang kami sewa masuk ke Timor Leste. Padahal si kakak ini sudah gigih membujuk si supir sampai dia menawarkan diri yang menyetir mobilnya.

“Aduh, Kaka, sonde* kasian ko dengan nona-nona asal Jakarta nih? Su jauh-jauh datang ke sini untuk lihat Timor Leste tapi cuma sampai monument itu. Di dalam nanti bisa beli minuman sari buah yang di Indonesia sonde ada. Kasian nanti mereka menyesal.”

Heh? Jakarta? Sebentar, gue harus ubah logat gue dulu. Logat gue udah Alor banget nih kalo ketemu orang NTT. Trus wait, itu apaan minuman sari buah? Bener-bener sari buah? Ato kiasan buat kata alkohol?

Dan si supir hanya menjawab, “sonde lah.”

Si kakak laki-laki membujuk lagi. Kali ini dibantu oleh bapak imigrasi. Dalam hatiku berteriak dengan semangat, ayolah pak supir! Tidak kasian kah kau dengan diriku ini?

Pembicaraan ini sengit sekali. Sampai si kakak berkata, “ah, lu pung tato banyak tapi nyali ciut.”

Buahahahahak! Jadi inget, tato sangar, hati hello kitty. Aeeh! Aku dan @noichil saling menyemangati supir dari kejauhan biar dia merelakan kami pergi ke Timor Leste barang sekejap saja. Tapi sayang beribu sayang, si supir tetep keukeuh tidak mengijinkan mobilnya dipakai sampai masuk ke Timor Leste. Ciuh! Supir cuppuuuuww! Dalam hati? Dongkol. Tapi ya sudah lah, mungkin belum rejekinya.

Ya sudah, mari dilanjut ke Pantai Atapupu. Dan kembali menelan rasa kecewa karena pasirnya warna abu-abu dan memberikan kesan kotor di bibir pantai. Ish, bagus pantai di Alor. Beneran deh, sueer!

Dan kami pulang dengan masih menyimpan sedikit kekecewaan dalam hati. Mungkin suatu hari nanti, saya dan @JodohnyaRetha bisa datang ke Timor Leste, tentunya dengan membawa paspor biar bisa puas main di sana dan sapa tau dikasih duit ama Raul Lemos. Sapa tau. Jangan lupa ngomong AMIN dong!

Sempet ganti DP BBM yang lagi narsis di monumen Timor Leste itu (entah itu namanya monumen ato tugu ato apa sih?) dan langsung lumayan yang BBM. “Wah, udah sampe Timor Leste nih?”, “eh, ngapain ke Timor Leste?”, “gilak! Iriiii!”, “akhirnya CLBK lagi gak di Atambua?”. Itu yang pertanyaan terakhir sialan banget sik? Hayo, kenapa hayo? Penasaran yaaa? Mau kepo? Silahkan. Sori sori aja ya, saya mah udah move on, Bung.😆

Pukul 20.30 sampai lagi di kediaman Bapak Frans alias bapaknya @sandrafrans. Bergegas mandi dan tidur.

25 Januari 2013

Menjelang siang jam 12.00, kali ini Josua digantikan oleh Nike dan Om Frans menemani kami pergi ke air terjun Oehala dan bukit yang berada di KM 12. Perjalanannya cukup sengsara karena jalan yang lumayan rusak tapi gak separah Wairiang-Lewoleba (bahas terus aja nih).

Sekitar setengah jam, sampai juga di parkiran Oehala. Sepi, krik krik. Ya maklum, hari Jumat kejepit gitu sapa yang mau maen di air terjun. Dan kami menuruni banyak anak tangga untuk menemukan air terjun bertingkat di NTT. Voila, ini diaaaa!

image

Air terjun Oehala

Air terjun bertingkat ini gak setinggi di Coban Rondo, Batu. Sayangnya gak sebersih di Oenesu, Kab. Kupang yang dulu pernah kusinggahi saat pertama kali menginjak kaki di tanah NTT. Jadi mau basah-basahin kaki di dalam kolam air terjun jadi mikir beribu kali. Takut ada binatang aneh-aneh. Hih.

Puas-puasin foto di mari, sebelum pindah ke KM 12. Namanya unik, semacam mengandung kegalauan (mungkin ada yang setuju?). Jaraknya gak terlalu jauh dengan Oehala.

Dan begitu sampai di bukit ini, aku dikejutkan dengan angin yang berhembus sangat amat kencang. Kecepatannya bahkan melebihi kecepatan rinduku padamu. Jangan sekali-kali coba pake rok pendek ke sini kalo gak mau kelihatan di dalamnya. Ohoho. Pemandangannya bener-bener syahdu. Cocok buat bergalau ria. Pengennya guling-guling di rumputnya, tapi aku gak berani kotor karena cucinya gak pake R*nso.

image

Buk, jangan galau gitu, Buk.

Hari masih siang, tapi mengapa kami sudah lelah? Ah, kata @noichil, usia memang sudah tak bisa dibohongi. Kaki pegel ketika menapaki lagi tangga untuk naik ke parkiran Oehala ditambah kerongkongan yang kering dan lambung minta diisi. Pulang dari sana, mampir makan mie ayam dan kami pulang ke rumah lagi.

Itulah sepenggal kisah perjalanan ke Soe dan Atambua plus Timor Leste. Sebenarnya aku berada di Pulau Timor dari hari Rabu sampe Minggu. Niatnya mulai Sabtu udah hijrah ke Kupang, tapi gak nemu hostel/home stay murah. Hiks. Jadi hari Sabtu kita keliling jalan utama Soe naik sepeda motor dan Minggu udah balik ke Kupang langsung berhenti bandara.

Kelihatannya gak seru ya perjalanan kali ini? Bukan gak seru, tapi memang tempat wisata di sini jaraknya gak deket satu sama lain dan transportasi untuk menuju tiap tempat wisata cukup susah. Beginilah potret wisata Indonesia yang belum dikelola dengan baik dan maksimal.

Ditambah hawa dingin di Soe sangat amat mendukung buat bermalas-malas ria buat nonton tivi sambil ndengerin rekaman suara Rasti-Eza (di manapun tetep harus update gosip!). Dinginnya Soe bikin inget dinginnya Malang. Tinggal 2 bulan lagiii buat ketemu Malang! Yeiy!

Semoga di akhir Maret nanti keinginan buat wisata Trans Flores NTT yang pengen lanjut sampe Pulau Komodo bisa kesampean. Doakan saya yah! Biar nanti ada cerita seru lagi di blog ini. Plus bulan Mei n Agustus, aku sudah punya tiket PP Air Asia buat keliling Indonesia. Mau ke mana? Masih rahasia.😉

image

Mari kita keliling Indonesia!!

*sonde: tidak (bahasa Kupang, Soe, dan sekitarnya)

PS: Waktu menunggu pesawat di Bandara E Tari, ada teman yang biasa pergi ke perbatasan dan dia berkata sudah biasa beli sari buah, mendadak dongkol. Dan 2/2/13 mendengar teman yang baru saja pulang dari Atambua dan membawa jus buah, mendadak ingat sopir cupuw itu lagi. Asyeeeem!😦

15 thoughts on “Jelajah Pulau Timor-NTT

    • Aaakk,, mas Fahmi mampir di sini..
      Aku kemarin gak pake paspor, Mas, karena cuma di perbatasan.
      Pengen sih ke Dilli, tp kata temenku not recommended. Hehehe.

  1. Endy says:

    Baru aja kemarin jumat tanggal 11 oktober 2013 aku kembali dari NTT ke Jakarta. rangkaian pekerjaan proyek elektrikal yang membuatku harus survey dari ujung Bolok melewati Soe , Kefamenanu, Atambua sampai ke Ujung Atapupu… (lumayan gratisan dibayar kantor)
    Dan Tidak lupa ku mampir ke perbatasan timor leste ^^v
    mungkin retha memang kurang beruntung pada Driver bertato hello kitty…
    Kemarin aku pergi ber4 termasuk driver yg memang sudah direkomendasikan untuk mengawal kami.
    Sebelum masuk perbatasan memang kami pernah diberitahu bisa minta Polisi setempat atau tentara perbatasan untuk menemani / mengawal kami sampai masuk ke area timor leste, dan itupun mereka ga mematok harga,
    saya kasih saja 150rb. lumayan bisa sampai minum di warung timor leste, dan foto2 disana. kalau jalan kaki aga jauh. di perbatasan memang betul adanya warung yang menjual sari buah, pertama agak kaget bahwa orang timor leste membayar dengan USD… tapi karena penjaga warung itu bukan asli timor leste, mereka juga bilang kalau membayar pake rupiah juga bisa. 1 kaleng sari buah hanya Rp. 6000,-. tapi tetep aja ngeliat rupiah kita di mata timor leste tidak berguna. mereka pake dollar yang bahkan sudah lusuh pun dipakai untuk belanja di warung…. >.<
    mereka beli dollar karena disana banyak Miras, yang memang kalo dijakarta itu bisa jutaan, TAPI di warung kelontong itu bisa maksimal 600rb saja…

    kalau di Kupang dapet homestay murah di Debytos (jl. El Tari II no.20) ga jauh dari hotel T-More. dari 150rb-250rb.
    kalau di Atambua aku menginap di hotel matahari. yah lumayan lah 200rban-300rban.

    dan yang paling penting tidak lupa ku makan daging SAPI SE'I dan kubawa sebagai oleh2….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s