Jelajah Flores (part 1): Di Sini Keceriaan Dimulai

Bersamaan dengan usainya masa tugas sebagai dokter PTT di Alor, maka dimulailah kehidupan baruku. Bukan karena aku telah bertemu dengan si dia yang telah mencuri hatiku, tapi karena aku bakal liburaaan! Dan liburan kali ini akan spesial karena dilakukan dalam waktu 8 hari mengingat destinasi yang lumayan banyak dan pertama kalinya liburan lama bareng banyak temen. Yes, Retha bakal menjelajahi Pulau Flores di NTT. Sebuah pulau yang terkenal dengan wisata Danau Kelimutu serta Pulau Komodo. Aku harap kalian ngerasa excited mau baca tulisan ini sama seperti excitednya aku waktu nyiapin tas isi sandang selama perjalanan jelajah Flores. Yeiy!

Sebelum mulai ceritanya, trip ini ikutan jalan-jalannya si Om @Tukang_Jalan. Murah dan sangat terprogram. Aku suka ^^

Hari pertama, 23 Maret 2013

Pada pukul 09.00 WITA, telah berkumpul lima dari enam anggota jelajah Flores di depan konter Merpati buat check in. Satu yang belum datang karena masih ada di ketinggian sekian ribu kaki karena terbang dari Alor menuju Kupang. Perkenalkan, ada @aninouz, @aprilianayu, @dzadvena, @risangpermana, dan Ridwan. Mereka adalah partnerku selama delapan hari ke depan yang bakal bareng-bareng ketawa dan saling ngebantu waktu susah.

Pukul 09.20 WITA, pesawat Merpati dari Alor telah mendarat. Artinya @dzadvena telah sampai Kupang dan pesawat yang akan membawa kami berenam ke Maumere telah parkir nyata di depan mata. Sembari menunggu saatnya boarding, masing-masing orang melakukan aktivitasnya. Ada yang pacaran, ada yang sibuk ngambil duit di ATM buat bekal jelajah nanti, ada yang heboh sendiri karena baru balik dari hotel buat nyari KTP yang dikira ketinggalan padahal ada di saku tasnya (krik). Dan pukul 09.40 terdengar panggilan pada seluruh penumpang Merpati tujuan Maumere. Kuangkat tas ranselku dengan semangat dan di sinilah keceriaanku dimulai. Flores, I’m coming!

Sekitar jam 10.45 WITA, kami tiba di Maumere yang konon katanya adalah ibu kota kabupaten yang paling bergengsi di Flores. Bahkan punya Gramedia. Padahal di Alor aja gak ada toko buku bacaan dan gak ada KFC, kalah ama Sangatta. Hehehe. Dan kemewahan Maumere, ibu kota kabupaten Sikka terbukti. Bandaranya besar meskipun tak sebesar Kupang. Tapi untuk ukuran NTT, bandara ini mewah. Dilengkapi ruang tunggu bagasi yang nyaman membuat bandara Mali di Alor tak ada apa-apanya. Selesai mengangkat barang bawaan masing-masing, kami keluar dari ruang tunggu bagasi dan bertemu dengan Kak Martin, guide sekaligus sopir kami selama perjalanan jelajah Flores ini. Dan aku dikejutkan ketika kami menuju mobil yang akan kami tumpangi. Mobilnya Innova dengan plat N. Duh, bikin inget Malang deh ^^

Bandara Frans Seda Maumere yang bagus

Bandara Frans Seda Maumere yang bagus

“Ini mau makan siang dulu atau langsung ke Bukit Nilo?” tanya Kak Martin.

“Bukit Nilo itu tempat apa?” tanya kami semua dengan wajah yang tetap ceria.

“Nanti ada patung Yesus dengan patung Bunda Maria yang ada di atas bukit.”

Mmm, sounds great.

“Karena masih jam segini juga, kita ke bukit Nilo aja dulu baru makan siang.”

Dan gas mobil diinjak dalam. Kami bergerak. Horeee!

Perjalanan menuju Bukit Nilo tak terlalu sulit. Jalannya pun tak berkelok-kelok walau ada beberapa lubang yang sempat membuat mobil ini berhenti, mundur, maju, berhenti lagi, dan akhirnya maju terus selamat dari lubang yang super gede.

Ini dia destinasi pertama kami. Patung Yesus yang disalib. Gede banget.

Puas berfoto ria. Kami pindah tempat ke patung Bunda Maria yang mungkin sekitar 10 menit dari patung Yesus tadi. Sebenarnya mulai dari titik awal jalan menuju Bukit Nilo, ada bangunan kecil-kecil yang menceritakan diorama penyaliban Yesus. Sayang karena jarak yang terlalu jauh antar bangunan dan saking gembiranya kami hingga tak menoleh kiri kanan yang kebanyakan hamparan rumput, aku gak ngikuti dari awal ceritanya. Dan bangunan kecil itu semakin mengecil jaraknya saat akan memasuki daerah patung Bunda Maria.

Oh my God, patungnya super duper guedeee. Ini gimana caranya bawa patung segede gaban ke atas bukit? Kami hanya tercengang dan akhirnya sibuk berfoto di bawah terik matahari yang sangat gila.

Patung Yesus yang tinggi dan patung Bunda Maria yang besaar!

Patung Yesus yang tinggi dan patung Bunda Maria yang besaar!

Karena gak kuat panas, kami segera menyudahi acara foto dan siap pergi ke destinasi selanjutnya. Gereja Tua Sikka. Waktu tempuh dari Bukit Nilo ke Gereja Tua rupanya cukup lumayan, 30 menit. Dan terik matahari makin mengganas. Puanas!

Gereja Tua di Sikka berdiri sejak tahun 1800an. Arsitekturnya menarik dan rupanya baru saja direnovasi mengganti lantai. Patung yang ada di dalam gereja semua ditutup kain warna ungu. Katanya merupakan kebiasaan untuk menutup semua patung dalam rangka puasa menyambut Paskah.

Gereja Tua Sikka yang bener-bener tua.

Gereja Tua Sikka yang bener-bener tua.

Di belakang gereja tua ini ada ibu-ibu yang menjual kain tenun asli Sikka. Kainnya lembuuut banget dan harganya gak ramah di kantongku. Mengingat kain bawaanku dari Alor sudah segambreng, aku gak beli kain di sini. Kami pun main ke rumah pinggir pantai yang seperti bale-bale tapi besar sekali.

Rumah ini merupakan rumah adat peninggalan raja dan ratu Sikka. Ada lukisan yang hanya bergambar ratunya dengan gambar raja tampak jelas terobek. Angin yang semilir membuat rumah ini banyak dipakai untuk mengobrol dan bersantai siang oleh warga sekitar.

Perut minta diisi. Rupanya, jarak dari gereja tua hingga ke tempat makan siang lumayan panjang. Aku sempat tertidur dan dibangunkan sudah masuk ke halaman parkir rumah makan. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WITA. Perut juga sudah keruyukan.

Rumah makannya berada di pinggir pantai. Tampak 2 bule yang sedang merokok dan minum bir setelah berenang. Ombak dan arus lautnya lagi bersahabat banget. Aku gak terlalu minat main ke pinggir pantainya karena panas. Sementara @aninouz, @risangpermana, dan Ridwan berteduh di bawah pohon pinggir pantai sambil foto-foto. Aku hanya menanti pesanan makanku yang tak kunjung muncul jua.

Satu jam kemudian,

Makanan masih belum muncul. Mau marah tapi gak bisa karena gak ada energi. Yang ada cuma pasrah sambil ngeliatin sepasang bule yang bawa 3 anak usia TK-SD dan satu batita. Bener-bener niat buat traveling sambil bawa anak. Si anak batitanya lucu banget. Matanya warna biru, pipinya gembil, pokoknya nyenengin dan pengen nowel pipinya.

Setengah jam dari satu jam yang tadi,

Makanan datang juga. Ternyata rumah makan ini tidak menyediakan makanan yang siap saji. Semua menu begitu dipesan baru dibuatkan. Jadilah aku yang pesan nasi ikan goreng plus sayur masih nunggu penjualnya nangkep ikan, dipotong, dibumbui, baru digoreng. Begitu pula dengan sayurnya yang (mungkin) masih metik dulu di kebun, cuci, potong, masak. Dan begitu makanan siap di depan mata, tanpa banyak omong, semua diam menyantap makanannya masing-masing.

Tamat makan, perjalanan dilanjutkan untuk menuju Moni. Kabarnya sampe Moni baru malem karena tadi kami terlalu lama nunggu makan. Etapi, di tengah perjalanan, Kak Martin memberhentikan mobilnya.

“Ini naik ke atas bukit biar dapet view yang bagus. Kemarin si Om (@Tukang_Jalan) juga naik ke sana ma foto.”

Okesip!

Karena semangat masih membara, kami berenam memutuskan untuk naik ke atas bukit. Jalannya bener-bener ngeri. Menanjak yang hampir 45 derajat dengan batu kerikil dan rawan terpeleset. Siaulnya, Kak Martin gak ikutan naik. Hih.

Butuh perjuangan buat naik ke bukit ini. Tapi rasa capek itu dibayar dengan pemandangan yang amazing plus Patung Yesus yang super gede lagi yang bikin kita makin kebingungan gimana patung itu bisa sampe ke puncak bukit.

“WOOOAA, DAEBAK!”

Itu yang kuucap berulang ketika sampai ke puncak bukit. Memandang lautan yang luas serta lekukan pulau dengan kapal yang nampak seperti mainan kecil yang banyak berlabuh di pinggir pantai. Angin yang berhembus cukup kencang bisa mengobati rasa panas dan keringat yang membasahi badan.

Lihatlah ukuran mobil kami dilihat dari puncak bukit.

Lihatlah ukuran mobil kami dilihat dari puncak bukit.

Karena matahari akan tenggelam, kami segera turun dengan ekstra hati-hati karena hampir semua dari kami sempat terpeleset. Dan perjalanan ini dilanjutkan menuju Moni, kaki gunung Kelimutu.

Matahari sudah selesai bertugas dan digantikan oleh bulan. Gelapnya sekitar yang menemani kak Martin menyetir mobil. Sempat berhenti di dua penginapan tapi sudah penuh dan kemudian menemukan bungalow Matagana untuk tempat kami istirahat. Taruh barang kemudian pergi lagi cari makan. Sebenernya gak laper sih ya, tapi kalo gak makan, tengah malam bisa kelaperan. Dan sekali lagi, makanan tidak ada yang siap saji. Semua pesan dulu baru dibikinin satu-satu. Lama. Hih.

Jam sembilan lebih, kami kembali ke penginapan. Mandi dengan air yang katanya bisa panas padahal yang keluar dari kran cuma air dingin dan kemudian tidur. Karena harus bersiap jam 4 sudah bangun dan jalan lagi menuju Kelimutu buat ngejar sunrise.

Hari ini semangat kami masih menggebu. Muka kami ceria. Kusimpan semangatku buat bangun pagi. Buat ngelihat danau 3 warna, Kelimutu.

Malam itu, mimpiku tak buruk sama sekali karena ternyata aku tak bermimpi. Dan setelah bangun pagi, senyumku makin mengembang. Kutemukan tanggal di kalender sudah berubah jadi 24 Maret.

Kenapa 24 Maret? Ada apa?

Nantikan potongan cerita jelajah Flores berikutnya ya ^^

ki-ka: Ridwan, @aprilianayu, @dzadvena, @aninouz, Retha, @risangpermana

ki-ka: Ridwan, @aprilianayu, @dzadvena, @aninouz, Retha, @risangpermana

10 thoughts on “Jelajah Flores (part 1): Di Sini Keceriaan Dimulai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s