JELAJAH FLORES (part 2): Ada Cinta di Tiap Pertambahan Usia

Sudah baca yang di sini kan? Berarti sudah siap buat jelajah Flores di bagian kedua? Teriak SIAP dulu cobaaa. *kemudian terdengar teriakan kata siap sampe di Malang*

Untuk rute di hari kedua, 24 Maret 2013 adalah Moni-Kelimutu, Ende, Pantai Blue Stone, dan berakhir di Riung. Dan sebelumnya dibiilang ada yang spesial di tanggal 24 Maret kan? Apaan tuh?

03.00 WITA

Retha sukses bangun tanpa alarm. Seperti hari-hari sebelumnya, begitu melek langsung megang dek Onyx. Eh, ada BBM ama mention.

“Happy Birthday, Retha!”

Mata langsung berbinar, senyum kemudian merekah. I’m getting older. Meskipun tak ada ucapan yang spesial dari orang yang spesial, tetap saja aku punya kado spesial untuk diriku sendiri. Menyaksikan matahari terbit dari puncak Danau Kelimutu.

Setelah bersiap, gosok gigi, plus cuci muka, disalamin sama @aninouz, @aprilianayu ma @dzadvena, ban mobil kami siap menggilas jalanan Moni yang licin karena embun pagi. Sekitar 30 menit, sampailah kami di pintu masuk Taman Nasional Kelimutu. Lapor diri dan mobil kembali melaju sampai parkiran.

image

my first amazing birthday gift, sunrise at Kelimutu

05.00 WITA

Disambut oleh Bapa Markus, kami diantarkan sampai ke puncak Danau Kelimutu. Oke, ini sudah termasuk trekking meskipun jalannya gak seheboh menuju bukit Yesus yang terakhir kami kunjungi kemarin. Lumayan jauh juga lho menuju puncak, tapi hawa yang dingin dan pemandangan langit ketika matahari akan lahir menjadi sebuah suguhan apik dan kado istimewa untuk ulang tahunku.

Subhanallah. Retha menjejakkan kaki di tanah Kelimutu. Yang selama ini Danau Kelimutu cuma bisa kunikmati lewat foto, sekarang danau itu tampak di hadapanku. Senyata-nyatanya.

Danau Kelimutu yang terkenal dengan danau tiga warna saat ini sedang bagus. Musim penghujan sudah lewat sehingga danaunya tak tertutup oleh kabut. Meskipun awan menyembul nakal menutupi proses lahirnya sang mentari. Mungkin yang ada dalam pikiran semuanya, termasuk aku, danau ini berjejer sehingga terlihat jelas 3 perbedaan warnanya. Tapi ternyata tidak. Hanya ada 2 danau yang berdampingan dan satu danau ada di seberangnya.  Dan perlu diketahui, kita cuma bisa lihat danau ini dari puncak. Tak bisa lagi turun ke pinggir danau karena tak ada akses jalan setelah Kelimutu terlanda gempa tahun 1992.

Kali ini danau Kelimutu sedang berwarna hijau-putih, coklat-merah, hitam-biru. Kabarnya, warna air dalam tiga danau ini sering berubah-ubah paling tidak sebulan sekali. Ah, kalau warnanya jadi cerah pasti jadinya lucu deh.

image

Ki: danau besar airnya warna hijau-putih, sebelahnya warna coklat-merah, Ka: warna hitam-biru

Monyet juga hidup di sekitaran danau sini. Beberapa monyet tampak berjalan dan bergelantungan dip agar pembatas ketika tahu ada banyak manusia di puncak. Si monyet bisa dikasih biskuit. Tapi hati-hati dengan gadget Anda! Bisa-bisa dicuri si monyet.

Bukan orang Indonesia kalo gak suka foto. Iya sih, kita suka foto, tapi Bapa Markus ini bisa njepret kita dalam berbagai pose di berbagai spot foto hingga ratusan foto. Edyan! Jadi buat kalian yang mau main ke Kelimutu, nanti minta ketemu Pak Markus biar dijepret sampe puas, sampe kehabisan gaya.

07.30 WITA

Kembali ke parkiran. Mengucapkan salam sampai berjumpa kembali pada Bapa Markus dan melajulah si Innova menuju Ende, ibukota kabupaten Ende buat sarapan dan berkunjung ke rumah pengasingan presiden pertama Indonesia, Soekarno.

11.15 WITA

Perut kenyang, hati kembali senang. Namun, kami dikecewakan ketika sampai di depan rumah pengasingan tadi. Pagarnya digembok, lampu di depan rumah dalam keadaan nyala. Setelah bertanya pada gerombolan kakak di seberang rumah tersebut, rumah ini tutup di hari Minggu. Hiks. Cuma bisa jepret depannya aja dari dalam mobil. Sengaja gak keluar karena mentari lagi ganas.

image

jangan pergi ke sini hari Minggu karena tutup!

Perjalanan ini berlanjut untuk pergi ke Pantai Blue Stone, yang katanya nih di pantai ini batunya warna biru semua. Ah, pasti cantik kek aku *tebar confetti*

Gak jauh juga perjalanan dari Ende ke Pantai Blue Stone. Sekitar satu jam kemudian, kami sudah menghambur keluar dari dalam mobil untuk bermain di pinggir pantainya.

12.10 WITA

Pasir pantainya berwarna hitam. Batunya kebanyakan berwarna biru telur asin. Matahari pas menyengat di atas kepala bikin pasir ikutan panas, kepala juga gak bisa dilama-lamain di bawah sinar matahari.

image

beautiful blue❤

Kebanyakan batu yang ada di pantai ini sudah dikumpulkan oleh pengepul batu. Kalo kata Kak Martin, batu-batu ini nantinya dikirim ke Surabaya dan dijual buat hiasan akuarium. Lah terus kalo terus-terusan dikumpulin, bisa-bisa keberadaan batu biru ini bakal musnah dong? Kan batu bukan jenis makhluk hidup. Dan memang benar adanya keberadaan batu di pinggir pantai sudah jarang dijumpai. Karena banyak dijumpai di pinggir jalan tempat batu-batu tadi sudah dikelompokkan berdasar besar kecilnya oleh para pengepul batu.

Dari Ende, kami menuju Riung. Sebuah kecamatan paling timur dari Kabupaten Ngada. Waktu tempuh dari Pantai Blue Stone menuju Riung sekitar 3 jam dengan melewati kota Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo.

15.30 WITA

Sampai di hotel Bintang Wisata, Riung. Hotelnya udah ada ACnya. Cuma listrik di sini 12 jam saja. Jadi baru nyala jam 6 nanti. Oalaah, kok kayak Bukapiting jaman dulu aja. Tapi ndak papa lah, yang penting nanti ada listrik dan AC bisa nyala. Hihihi.

17.40 WITA

Kak Martin membawa kami ke sebuah bukit untuk menyaksikan sunset. Bahkan bukitnya lebih atas lagi dari si Om @Tukang_Jalan kunjungi, begitu kata Kak Martin. Ternyata Riung memang bukan tempat yang tepat untuk menikmati tenggelamnya matahari karena Riung diputari oleh gunung dan banyak bukit. Tapi dari atas bukit ini, tersaji suguhan hamparan kepulauan yang ada di Riung. Pulau yang keesokan hari akan kami jelajahi. Kepulauan yang indah sehingga di sinilah kami akan memulai Wisata 17 Pulau Riung.

my second amazing gift, senja di RIung

my second amazing birthday gift, senja di Riung

19.00 WITA

Makan malam bersama dengan menu ikan kuah asam-pedas dan tumis sayur untuk merayakan pertambahan usia Retha menjadi seperempat abad. Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, meskipun tahun ini gak dapet kado, tapi seenggaknya Retha dapet temen baru, dapet keluarga baru. Dan aku yakin, selalu ada cinta yang menantiku di tiap pertambahan usiaku.

Untuk pertama kalinya Retha merayakan ulang tahun jauh dari keluarga di Malang. Dan kali ini pula, kuhadiahi diri sendiri dengan jalan-jalan yang pastinya sangat berkesan. Sebuah jelajah yang pasti bikin orang lain banyak iri. Ya kan? Ngaku deh. Hihihi.

21.30 WITA

Bersiap di atas kasur dengan AC yang ternyata rusak. Oh, sungguh malam yang panas ditemani kipas angin saja. Meskipun demikian keceriaan dari hari pertama masih terjaga, usia bertambah juga tak mengurangi semangatku yang menggelora. Kenapa? Karena besok bakal nyebur ke laut. Yes! Snorkeliiiing…. ^^

Gimana dengan indahnya snorkeling saat wisata 17 pulau di Riung? Ketemu apa aja? Jangan bosan buat nunggu part 3 ya. Dan kalo kamu ngikutin potongan cerita jelajah Flores sampe habis, ada hadiah kartu pos Flores buat kamu yang beruntung dan suka koleksi kartu pos😉

Terus nantikan potongan cerita jelajah Floreeeess ~~~(/ ^°^)/

9 thoughts on “JELAJAH FLORES (part 2): Ada Cinta di Tiap Pertambahan Usia

  1. etty says:

    mbak’…aku sangat salut sama dirimu…..selagi masih muda pakailah kesempatai itu untuk memaknai peristiwa hidup yang dialami mbak’…….salam kenal ya….aku dari flores……pengen rasanya cepat libur……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s