JELAJAH FLORES (final part): SEMPURNA!

Sudah sampe di bagian keempat yang mana adalah bagian terakhir dari potongan ceritaku jelajah Flores. Dan di bagian ini adalah bagian yang sempurna. Meski seluruh sempurna adalah milik Yang Kuasa, tapi tetap ini yang paling pas. Paling dinanti dari perjalanan panjang dari Maumere. Dan memang benar kata si Ujang, sang backpacker asal Bandung yang ku tak tahu namanya, Labuan Bajo dengan pulau di sekitarnya adalah yang paling bagus, yang paling indah, yang paling sempurna.

Rundingan yang agak sengit terjadi di malam hari saat kapal sudah parkir di dermaga Pulau Rinca. Seharusnya itinerary yang sudah tersusun sejak awal jadi bubar dan harus dirombak total karena ada teman yang harus kembali ke Labuan Bajo tanggal 29 siang. Beberapa tempat yang harus dikorbankan adalah Pulau Komodo dan Pink Beach.

Kata Papa Anang, jaminan bertemu komodo adalah di Pulau Rinca karena populasi komodo yang lebih banyak ketimbang di Pulau Komodo sendiri. Awalnya aku berat hati karena gak ke Pulau Komodo, tapi mendengar alasan itu dan memang tujuanku pengen ketemu komodo, akhirnya aku bisa berlega hati.

Lagi-lagi kata Papa Anang, Pink Beach itu kecil, cuma seupil, kurang puas nanti main di pantainya. Padahal kata orang-orang, belum lengkap ke Flores kalo gak ke Pink Beach. Tapi Papa Anang menawarkan Pantai Padar yang katanya lebih luas dan lebih bagus buat snorkeling. Mengingat arus di Pink Beach juga lagi gak bersahabat. Dan baiklah, kami antimainstream menerima semua alasan.

Taman Nasional Komodo, Loh Buaya, Pulau Rinca

Matahari sudah bersinar terik meskipun angka jam masih menunjukkan pukul 07.30. Rasa excited kami sangat terasa sejak di depan gerbang kedatangan. Disambut dua ranger (ayayayay, power ranger), Pak Kuba dan Pak Pei, kami siap diantar berkeliling Pulau Rinca untuk bertemu komodo. Sampai di kantor, tentu saja bayar biaya masuk. Semalam Papa Anang cerita kalo biaya masuk per orang 20 ribu dan satu kamera digital dihargai 50 ribu. Tapi kami dikejutkan karena biaya masuk untuk turis domestik hanya 2500 rupiah per orang dan 5000 rupiah per kamera. Tujuan dibuat murah agar menarik turis domestik datang ke Pulau Rinca karena statistik menunjukkan turis mancanegara lah yang mendominasi kunjungan ke pulau ini. Jangan lupa tips untuk ranger juga dibayar di awal 50 ribu per ranger.

murahnyooo :D

murahnyooo😀

Dalam acara berkeliling pulau Rinca, ada 3 pilihan track yang bisa dipilih. Short track, medium track, dan long track. Menurut pak ranger berkacamata hitam, mau memilih track mana pun, peluang untuk melihat komodo sama saja. Tergantung keberuntungan kita. Katanya pernah ada bule milih long track, tapi cuma ketemu beberapa komodo saja dengan adegan yang biasa saja. Dan pak ranger juga gak nanyain kami mau yang mana. Dia langsung memutuskan kami untuk melakukan short track.

“Lho? Kenapa, Pak?” padahal kami juga udah tekad dari awal mau ambil short track. Nanya begitu cuma buat gaya doang biar dikira mau ambil long track.

“Karena Mbak, Mbak ini pake sandal.”

Oh yeah, kami adalah jepiters. Dari awal di Maumere sampai sekarang, sandal jepit abu-abuku yang menjadi alas kaki. Tak pernah terganti. Dan kami cengengesan. Hehehe.

Seperti prosedur yang ada, pak ranger selalu bertanya siapa di antara wanita ini yang sedang mengangkat bendera. Maksudnya lagi menstruasi. FYI, komodo dapat mencium bau darah hingga jarak 5 km. Bayangin aja kalo kalian yang lagi mens jalan di Pulau Rinca sendirian. Ya bisa jadi santapan segar buat komodo dong. Dan salah satu anggota jelajah Flores ini ada yang lagi mens, jadi dia harus deket-deket sama Pak Pei. Bukan deket yang aneh-aneh lho. (iyain aja biar cepet)

Begitu sampai di kompleks rumah para penghuni pulau Rinca alias bapak-bapak yang kerja di sini, kami disambut oleh tiga komodo yang bersantai di bawah rumah.

“Sekarang kita sedang melihat komodo. Komodo ini termasuk hewan yang munafik. Kelihatannya aja dia diam, santai, tak bertenaga karena badan yang besar, padahal dia sedang mencari mangsa. Nanti kalo dia sudah ketemu mangsa, langsung keganasannya tampak. Dia bisa berlari hingga 18 km/jam.”

Jadi, kalo kalian ketemu cowok munafik, kasih dia kode KOMODO.

“Komodo yang ini (sambil menunjuk ke satu komodo) sedang sakit. Tangannya patah sejak 3 tahun yang lalu saat perkelahian merebutkan betina. Jadi komodo ini jenis kelaminnya jantan. Tak hanya tangannya yang patah, tapi hatinya pun ikut patah. Hampir sepanjang hari dia hanya berdiam di situ.”

Ooh, kasian om komodo ini. Sini aku jodohin ama @noichil. Puk-puk.

tangannya patah, hatinya juga patah. Tos dulu, Om?!

tangannya patah, hatinya juga patah. Tos dulu, Om?!

“Ada yang tau gak kenapa komodo ini pada gerombol di sini? Kok gak ke rumah yang lain?”

“Karena itu dapur, Pak!” jawabku dengan tegas dan mantap.

“Wah, 100 buat Mbak. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, komodo bisa mencium bau makanan dari jarak jauh. Nah, di dapur mereka selalu berkumpul karena mencium bau makanan. Tapi kami di sini gak bakal pernah memberi mereka makan gratis. Karena kalo dikasih dengan cuma-cuma, insting berburu mereka bakal luntur, mereka bakal manja.”

Yaelah komodo, jangan ngarep gratisan deh. Pipis aja sekarang bayar, Do, Do.

Puas berfoto dengan komodo patah hati, kami melanjutkan trekking. Kami dibawa mendaki ke sebuah bukit yang nanti dari atas bukit bisa melihat view yang bagus banget. Sayangnya panas, jadi gak betah lama-lama di sini. Dan sayangnya lagi, belum terlihat komodo yang lalu lalang.

Kami dibawa ke sarang telur komodo. Sarang yang paling dekat dengan jalur trekking.

“Nanti setelah 1-2 bulan kawin, komodo bakal bertelur. Telur tadi bakal disimpan di dalam lubang. Sekali lagi, komodo itu munafik dan tak setia. Hanya 3 bulan pertama, induk komodo bakal nungguin telurnya. Tapi setelah itu, dia bagaikan ibu tiri.”

Jeng.. Jeng..

“9 bulan kemudian, telur itu menetas. Keluarlah bayi komodo. Bayi-bayi ini harus langsung menyelamatkan diri mereka dengan cara memanjat pohon. Secepatnya. Karena di luar sarang tadi, sudah menanti dengan kelaparan para komodo besar termasuk induknya sendiri untuk menyantap bayi-bayi komodo. Komodo sudah munafik, tak setia, kanibal pula.”

Pih buat komodo.

Setelah bertanya ini itu pada pak ranger, kami kembali ke depan. Titik terakhir short track adalah sarung telur komodo. Untungnya jalan kembali tak sama seperti jalan datang. And lucky us, we met baby komodo! YIHAAA!

oh, anak komodo sudah bisa jalan *mata berbinar-binar*

oh, bayi komodo sudah bisa jalan sendiri *mata berbinar-binar*

Bayi komodo ini diperkirakan usianya 1,5 tahun. Dia bahkan ada di tanah. Bukan lagi di pohon. Dia mengangkat kepalanya seperti meresapi sinar matahari yang menimpa tubuh kecilnya. Dan dia berjalan lenggak-lenggok di depan kami dengan jarak yang sangat dekat. Kyaaa, we are so excited!

Kami kembali menuju dapur dan mendapatkan personil komodo di depan nambah satu. Kesalahan salah satu anggota kami adalah mengibas-ngibaskan payung. Pak ranger langsung mendelik ke arah kami.

“Mbak, kok payungnya dikibas gitu?”

Oh oooww, komodo sangat sensitif dengan gerakan. Dan hasilnya, komodo yang tadinya diam, dia mulai bergerak ke arah kami dan pak ranger langsung berseru, “cepet pindah ke arah sana. Jangan lari. Jalan biasa aja. Komodo sensitive dengan gerakan.”

Waduh, kami panik. Om komodo tadi bisa bisanya langsung menuju ke arah kibasan payung. Pak ranger langsung menyorongkan tongkat yang bercabang di ujungnya pada komodo. Dan komodo tadi berhenti, kembali merebahkan tubuhnya di tanah. Fiuh.

Ternyata sudah 1 jam kami berada di Pulau Rinca, tandanya harus segera pindah lokasi biar jadwal yang disusun bisa terlaksana.

See you, Komodo. Hope we’ll meet again in our next meeting😀

annhyeong Om Komodo kuruuuss (--,)/

annhyeong Om Komodo kuruuuss (–,)/

Pulau Padar

Kata Papa Anang, pantai di pulau ini lebih luas ketimbang Pink Beach. Dan kami bisa bersnorkeling ria. Di pulau ini, kami menemukan rusa yang jinak yang seneng dikasih biskuit yang manis. Kami bergantian ngasih biskuit ke rusa yang lagi santai di depan rumah penjaga pulau.

Berjalan di pinggir pantai ini membuat kami kecewa. Sampah bertebaran di mana-mana. Ya bener sih pasirnya warna pink, tapi kalo banyak sampahnya kan jadi jelek. Udah gitu pas kita udah nyebur, kami gak liat karang ato ikan. Dan kata pak penjaga pulau, kalo snorkeling di Pink Beach bukan di sini. Aaak, Papa Anang boong ( T-T). Etapi kalo inget arus di Pink Beach lagi kenceng, kita juga takut kok. Next time deh ya ke Pink Beach ama suami (doain cepet ketemu suaminya dulu!)

pasirnya pink, lautnya bening, langitnya biru, tapi pantainya kotor T~T

pasirnya pink, lautnya bening, langitnya biru, tapi pantainya kotor T~T

Manta Point

Yang kutau manta itu pari raksasa. Tapi ternyata beda lho antara pari dengan manta. Manta ukurannya lebih besar daripada pari, ekornya pendek dan dia gak punya racun. Kalo pari ukurannya lebih kecil, ekornya panjaaang, dan beracun.

Baru aja kapal berhenti di tengah lautan, Papa Anang udah teriak, “itu mantanya!”

Kami langsung menoleh ke air dan menyaksikan manta sedang berenang di dasar lautan yang tampak jernih sekali. Kami juga langsung tergesa-gesa pake pelampung, snorkel. Saking hebohnya pengen cepet liat manta, lupa gak pake fin. Arusnya lagi kenceng padahal. Dan bener aja, pas mau balik ke kapal buat ambil fin, gak kuat nglawan arus dan ditarik papa Anang deh. Huehehe.

Karena arus yang makin kencang, kami yang nyebur ke laut pegangan sama tali di kapal trus kapalnya deh yang muter-muter. Lumayan, hemat energi. Kami berhasil melihat manta yang sliweran dan juga ikan pari yang lagi sembunyi di pasir dasar laut. Hihihi. Sayang beribu sayang, kamera underwater pinjeman kami nampaknya rusak. Karena udah gak bisa dipake lagi. Hiks. Jadi gak ada dokumentasi si manta ma pari😦

But, if you come here, you must visit Manta Point and be patient to see it. Ada kapal lain yang datang setelah kami semua puas melihat manta dan kapal tadi langsung berbalik arah karena gak ketemu manta dan arusnya makin gila. Hihihi. We are lucky again ^^

Gili Lawa

Di atas bukit Gili Lawa ini nanti kami bakal melihat sunset yang indah. Di atas bukit yang berarti mendaki lagi. Hadeeh. Sebelum mendaki, Papa Anang memberi kami 1 jam untuk berenang dan snorkeling di sini. And yes, we got perfect sea with many kind of coral and fish. Ikannya banyak, karangnya bagus. Pokoke manteb renang di sini. Kedalamannya pun cuma 2-3 meter udah bisa melihat yang bagus-bagus. Aaak!

Papa Anang sudah memanggil kami untuk segera menepi. Kami segera berenang ke tepian dan melepaskan semua peralatan snorkeling. Sepiring pisang goreng panas tersaji di pinggir pantai dan langsung kami lahap habis buat energi mendaki ke bukit.

Dengan tertatih dan beberapa kali berhenti setelah mendaki jalan yang begitu menakutkan. Di tempat tertentu yang sangat curam, aku merangkak kayak bayi. Inilah yang kami dapat dari atas bukit. So perfect!

subhanallah.

subhanallah.

senja merona :">

senja merona :”>

Jadi, kalian juga mesti datang ke Gili Lawa buat snorkeling dan menyaksikan keindahan pulau Komodo dan sekitarnya yang tetanggaan sama Gili Lawa. Rasa capek kalian pas mendaki bakal terbayar di sini. Meskipun pulangnya kami jadi kayak perosotan di tanah sambil pegangan rumput di pinggir. Sakit yang menyenangkan.

Dan di atas perairan Gili Lawa, kami parkir. Di atas air sini, aku tertawa karena menang terus main poker dan kemudian di atas matras mau tidur meratapi kepingan hati yang hancur setelah dihancurkan oleh sang pematah hati.

Pulau Sebayur

image

Sebayur island

Pagi sekali, kapal sudah dinyalakan dan bergerak. Papa Anang akan membawa kami ke pulau Sebayur buat snorkeling lagi. Ini ya, lautnya bener-bener jerniiiih. Ikan yang seliweran udah kelihatan dari atas kapal. Dikasih remahan biskuit, mereka pada datang. Dan di sini kami beraksi loncat dari atas kapal. Bahahaks.

Sayang sekali karang di sini banyak yang mati karena kena jangkar perahu. Yang gak mati cuma sedikit dengan warna yang tak terlalu menarik. Kasian deh pokoknya karang yang ada di sini. Hiks.

Pulau Sebayur juga menawarkan resort atau bungalow. Tapi harganya di sini cukup fantastis. 900 ribu per orang! Dan menurut Papa Anang, ada honeymoon room yang ditawarkan. Nanti kamarnya bakal dihias dengan ribuan bunga mawar merah dan view pantai yang cantik. Adudududuu, nanti aku ke sana sama suamiku deh. Amiiin!

Pulau Kanawa

Inilah destinasi terakhir kami, tempat berpisah dengan @aprilianayu dan Ridwan yang akan kembali ke Labuan Bajo.

Pulau Kanawa, sebuah pulau privat yang menyediakan penginapan berupa tenda dan bungalow yang tentunya harus dibooking dulu mengingat jumlahnya yang tak banyak. Kami berlima memilih menginap di tenda dengan rate 125 ribu untuk 1 orang dan 175 ribu untuk 2 orang (belum termasuk pajak). Di pulau ini tidak tersedia air tawar, jadi harus hemat buat mandi di kamar mandi umum karena yang nginap di sini kan gak cuma kami aja.

Aku sangat suka dengan ketenangan dan kedamaian di Pulau Kanawa ini. Cuma badanku udah gak bisa kompromi selama ada di Pulau Kanawa. Aku terserang dizziness, rasanya kayak masih di kapal padahal udah di daratan. Udah minum obat tapi tetep aja rasanya pusing.

Sore hari waktu yang cocok buat snorkeling, tapi kami memilih tempat yang salah buat snorkeling. Harusnya di sebelah utara dermaga baru, tapi kami malah ke arah selatan. Jadi cuma ketemu alang-alang laut lagi deh. Tempat yang bagus buat liat sunset adalah naik ke atas bukit. Dan aku absen naik ke bukit karena badan yang gak enak ini.

Malam hari kami makan di the only one restaurant in Kanawa. Tips makan di sini, pesanlah menu makan malam jam 5 sore, kemudian jam 6 kembali ke sana dan siap menyantap makan. Kami baru datang jam 7 dan makanan kami baru datang jam 8.30. Udah mau pingsan rasanya nahan lapar sama dizziness.

Good morning from Kanawa

Good morning from Kanawa

Pagi hari, kalian bisa jalan di pinggir pantai karena bisa melihat anak hiu berenang dengan gembira. Hiunya jenis hiu karang, jadi gak bahaya. Dan pulang dari lihat hiu, segera kemasi barang dulu sebelum sarapan. Karena kapal yang membawa kami ke Labuan Bajo berlayar jam 8. Naik kapal ini gratis karena sudah termasuk dari harga tenda yang kami sewa.

Labuan Bajo

30 Maret 2013.

Sebelum kami kembali ke Kupang, kami menyempatkan diri main di Gua Cermin. Sebenarnya bisa masuk ke dalam guanya tapi pake guide. Kalo sendirian, bisa ketemu kelelawar ato lipan. Hih, ngeri. Dan jangan lupa buat mampir ke Exotic buat belanja oleh-oleh. Harganya emang lumayan mahal buat kaos bergambar komodo tapi pilihan gambar dan warnanya banyak banget. Dijamin nyesel kalo gak beli di sini. Hohoho.

***

Dan itulah akhir dari perjalanan jelajah Flores kami. Dimulai tanggal 23 Maret dan berakhir tanggal 30 Maret. Semua rasa campur aduk jadi satu. Meskipun badan jadi sakit semua, aku tetep seneng bisa menjejakkan kaki di Flores.

Kalo ditanya, mana yang paling berkesan buatku, aku bakal jawab Labuan Bajo dan pulau-pulau di sekitarnya. Dan pulau yang paling pengen aku datangi lagi kalo nanti bisa berkesempatan kembali adalah Pulau Kanawa dan pulau Bidadari. Tak lupa juga pengen tahu Pink Beach. Kabupaten Manggarai Barat menyimpan berjuta kesempurnaan di dalamnya. Aku yakin, kalian yang sudah memasukkan Labuan Bajo sebagai tujuan traveling gak bakal nyesel. Malah kepengen balik lagi kayak aku. Dan aku sangat merekomendasikan kalian buat datang ke tempat ini.

Saranku buat yang mau Trans Flores, mulailah dari Larantuka atau Maumere dan berakhir di Labuan Bajo. Like Ujang said, Labuan Bajo is the best part in Flores. Dan kalian bisa memilih @Tukang_Jalan buat partner trip kalian. Dijamin murah dan mantep deh. Nah, pas nanti di Riung, minta Bapak Duking buat jadi guide kalian. Orangnya ramah dan baiiik banget. Hubungi Om Tukang Jalan di www.tukangjalan.com atau no hape 085810697553. Kalo manggil harus Om ya, soalnya umurnya udaaa …. *dikepret karet*

Ato yang mau backpacker sendiri ke Riung dan keliling wisata 17 pulau, bisa kontak Pak Duking di 081353863922

Trus kapal yang buat membawa keliling Labuan Bajo dan destinasi lain, silahkan hubungi Papa Anang di 082145704054. Servis kapal yang sangat memuaskan dan murah, masakannya sekelas restoran, dan orangnya super duper baik banget kayak malaikat!

Sekaligus, minta doanya ya para pembaca setia blog ini. Karena Mbak Anggi, si manager resort Kanawa menawarkan sebuah kerja sama di bulan Agustus nanti dengan transport dan akomodasi ditanggung penuh. Semoga niatan baiknya Mbak Anggi terlaksana dan bisa bawa Retha kembali ke Kanawa. Amin, Amin, Amin ya Rabb.

Banyak terima kasih buat @aninouz, akhirnya kita nemu banyak orang buat trans Flores ya, buat @aprilianayu, kameramu juara, fotonya mantap menghiasi  blogku, buat @dzadvena, jagain Bukapiting biar tetap damai, buat @risangpermana dan Ridwan, kalian baik sekali dan moga2 kita bisa traveling bareng lagi, dan buat Tya, ayuk kita ambil license diving PADI \o/

Terima kasih buat semua yang udah setia baca potongan cerita Jelajah Flores part 1, 2, 3, dan 4. Bakal ada kuis buat kalian pecinta kartu pos yang pengen dapetin kartu pos edisi Flores. Itu pun kalo ada yang mau. Ahak ahak.

image

Dipilih, dipilih, dipilih kartu posnya🙂

Ditunggu animo pembaca dan pecinta kartu pos sekalian di komen postingan ini. Dan kudoakan buat semua yang baca potongan cerita ini suatu hari nanti bisa menjejakkan kaki di tanah Flores. Kutunggu jelajah Flores versimu :*

image

Sampai ketemu di petualangan Retha di lain tempat ^^

20 thoughts on “JELAJAH FLORES (final part): SEMPURNA!

  1. Berto Kembo says:

    Gue orang Flores asli, tp lhr besar di Jakarta. Gue bangga kalian sudah mengunjungi tempat asal leluhurku, yaitu Pulau Flores = Pulau Bunga.

    • tergantung mau naik kapal yang gimana. Makin mewah makin mahal. Dan siapkan itenerary yang disesuaikan budget. Kalo aku kemarin, sekitar 1juta lah untuk keliling Labuan Bajo dengan share kapal ber6.

  2. sarah says:

    Boleh info. Sy sampe sabtu pagi dan berencana ke kanawa dan minggu pagi harus dibajo untuk sailing.
    Budget kapal bajo kanawa berapa ya? Dan misal nginep semalam utk sailing minggu jm 9 masih bisa kan ya? seperti cerita diatas..

    Tks yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s