Perempuan Dalam Mimpi [episode 2]

Perempuan Dalam Mimpi [episode 1]

Kepalaku penuh. Terasa mau pecah. Bos besar menyerahkan setumpuk berkas yang harus segera kurevisi sebelum diserahkan pada meja direksi. Padahal masih ada sebundel berkas yang lain yang belum aku garap. Kurasa bos besar itu sudah sinting dan kali ini aku yang sinting. Aku ingin teriak dan mengobrak-abrik meja yang penuh dengan kertas.

Sepertinya aku butuh kopi.

Kusambar tas kecil di atas kabinet. Aku berlari keluar dari ruangan dan langsung melesat menuju kedai kopi di mall seberang kantor.

Mataku butuh diganjal. Sebatang rokok dan secangkir kopi rasanya pas.

Sejak bos besarku menjadi sinting setelah bercerai dari suaminya, rasanya beban kerjaku menjadi berlipat-lipat. Suasana kerja di kantor terkadang tak kondusif. Semakin banyak keluhan ini itu yang kudengar dari mulut kawan-kawanku. Beberapa kawan kerjaku berguguran tak sanggup dengan beban pribadi bos besar yang dibawa ke meja kantor. Sejujurnya aku pun tak sanggup. Tapi jika mengingat senyum kedua adikku yang harus mengenyam bangku sekolah, kuurungkan niat untuk mengundurkan diri dari kantor. Dan kurasa beban inilah yang membuat tidurku tak berkualitas. Aku mudah tertidur tapi juga mudah terbangun. Dan aku selalu merasakan mimpi yang sama. Mimpi yang tak pernah berbeda adegan. Mimpi yang selalu berakhir tepat sebelum aku terbangun dengan perasaan tak nyaman.

Rasanya seperti surga. Duduk sendiri di balkon, menikmati tiap nikotin yang masuk ke dalam paru-paruku, mencium aroma kopi yang menenangkan sembari memejamkan mata. Rasanya aku bisa  tertidur di sini bila terus-terusan begini. Kuambil ponsel dalam tasku dan mematikannya. Kugeletakkan dia tepat di sebelah kanan cangkir kopi yang masih mengeluarkan kepulan asap.

“Kamu perempuan yang ada di dalam mimpiku.”

Ada suara laki-laki yang mengejutkanku. Memaksa mataku untuk membuka dan melihat ke sumber suara.

“Ya?” kutoleh dia. Mataku mengirimkan sinyal pada otak untuk memindai memori siapa laki-laki yang baru menyapaku.

“Kamu perempuan yang ada di dalam mimpi-mimpiku.”

“Sorry?” dahiku mengernyit. Aku berusaha untuk tersenyum. Otakku masih terus mencari file memoriku. Kenapa otakku berjalan sangat lambat?

“Kamu perempuan yang ada di dalam banyak mimpiku bahkan ketika tidurku tidak pernah sampai ke lelap.”

DEG!

Aku bisa mengingatnya. Aku tak pernah bertemu dengan laki-laki ini, tapi aku selalu mendengar kata-kata yang meluncur dari mulutnya. Kata-kata yang selalu kudengar saat aku tertidur.

Tak mampu menutupi rasa kagetku, aku beranjak dari kursi dan pergi meninggalkannya. Membiarkan dia terpaku. Tanpa berusaha mengejarku.

Aku tak percaya dengan hal ini. Ini deja vu. Ini selalu terjadi di mimpi-mimpiku.

Dan sama seperti di akhir mimpiku, kudengar teriakan panjang ketika bunyi klakson mobil meraung dengan kerasnya.

[…..]

Gambar diambil dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s