Aku Ini Kekasih Afgana

Bintik keringat mulai tampak di dahi dan hidung Afgana. Jemari kanannya meremas lengan kiri. Begitu pula sebaliknya. Kemudian Afgana mulai menggosokkan telapak tangannya. Mulutnya sibuk komat-kamit. Inilah tipikal khas Afgana sebelum naik panggung. Artis baru ya pasti demam panggung.  

“Kita sambut artis pendatang baru kita, Afganaaaaa,” sang MC meneriakkan nama Afgana bak pembawa acara pertandingan tinju melafalkan nama sang petinju.  

Aku menepuk-nepuk pundak Afgana untuk menyalurkan rasa tenang. Tak lupa kurapihkan rambut nakal di atas telinga Afgana. Mau kucium keningnya, tapi dia keburu melesat ke atas panggung. Panggung yang akan mengantarnya mendekat pada kesuksesan. Aku yakin itu.  

Dentingan piano terdengar, suara Afgana juga mengalun indah. Kulihat ke arah penonton. Beberapa penonton berpelukan dan menggoyangkan badannya ke kanan ke kiri. Rupanya penjiwaan Afgana saat menyanyi mampu menghipnotis penonton ikut terlarut dalam lagunya. Ah, Afganaku.  
Aku memejamkan mata. Aku ikut menikmati makna lagu ini. Pilihan kata, paduan kalimat, melodi sendunya membuat hatiku bergetar. Mengingatkan pada kisah cintaku dengan Afgana yang berliku, yang membuat kami berjuang, yang membuat Afgana bisa menciptakan sebuah lagu, yang aku sendiri tak mengerti hubungan ini akan berakhir seperti apa.  

Dua lagu telah dibawakan apik. Riuh tepuk tangan penonton serta teriakan mereka meminta Afgana untuk menyanyikan lagu lagi membahana di dalam convention hall. Aku saja mendengarnya merinding, bagaimana dengan Afgana? Pasti dia girang setengah mati.

Kusambut Afgana di bawah panggung. Aku bertepuk tangan dan kemudian memeluk Afgana. Afgana menyambutku hangat. Aroma parfum yang bercampur keringatnya kuhirup dalam-dalam.  

“Selamat.” Aku berbisik pelan pas di telinganya. Afgana tersenyum simpul dan lesung pipinya jelas kentara.

Kemudian kilatan lampu blitz terlihat dari berbagai sisi. Para wartawan sibuk mengabadikan wajah Afgana, sang penyanyi pria pendatang baru yang menggebrak dunia musik Indonesia. Aku minggir dari hadapan Afgana. Memberi kesempatan pada kuli tinta yang juga mau berdekatan dengan Afgana. Kukerlingkan sebelah mataku pada Afgana dan memberi kode bahwa aku akan pergi ke toilet.  

Saat aku berada di dalam toilet, aku bisa mendengar percakapan tiga orang remaja perempuan. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka menguping pembicaraan orang lain. Tapi topik yang mereka bicarakan adalah Afgana. Jadi, mau tak mau aku tergelitik untuk menyimaknya.  

“Ih, gila ya si Afgana. Keren banget kalo nyanyi,” perempuan pertama begitu bersemangat bercerita.  

Temannya menimpali, “iya, gue udah nahan nangis aja pas dengerin dia nyanyi. Antara gak percaya gue bisa liat dia nyanyi langsung ama lagunya emang sedih banget.”  

Kemudian perempuan ketiga unjuk bicara. “Eh, itu lagu katanya sih ya diciptain khusus buat ceweknya Afgana.”  

Perempuan pertama sepertinya kaget. “Hah? Sumpah lo? Afgana yang ganteng, macho, keren itu udah punya cewek? Patah hati dong gue.”  

Perempuan yang sepertinya tahu segalanya mengiyakan pertanyaan temannya. Mereka meributkan siapa pacar Afgana, bagaimana penampilannya, apakah lebih cantik dari mereka, dan seterusnya. Kupingku memanas mendengarkan diriku sedang dibanding-bandingkan dengan mereka yang kuyakin masih bau kencur.  

Perempuan ketiga mengeluarkan suara lagi. ” Tapi yang aneh nih, Afgana gak pernah kelihatan jalan ama ceweknya. Gak ada satu pun wartawan yang bisa menjepret foto mereka lagi kencan. Tapi sahabat sekaligus manajernya kan udah pernah nyeritain kisah di balik lagu yang dinyanyiin Afgana. Kalo lagu itu khusus diciptain Afgana buat ceweknya.”  

“Ceweknya itu kira-kira secantik apa ya? Kok sampe bikin Afgana segalau dan semellow itu. Penasaran gue ma dia.” Perempuan kedua yang jarang bicara ternyata penasaran denganku.  

“Kalo gue bisa lihat muka tuh ceweknya Afgana dan menemukan wajahnya gak secantik gue, gue bakal memicingkan sebelah mata buat dia.” Perempuan pertama tertawa dengan menyebalkan. Aku yakin wajahnya pasti juga menyebalkan. Sudahlah, aku harus keluar dari dalam bilik toilet ini dan menemui tiga perempuan yang membicarakanku dengan seenaknya.  

Aku keluar dari bilik dengan elegan. Mereka bertiga tampak kaget dengan kehadiranku. Tapi kemudian tak peduli denganku dan kembali melanjutkan gosip tentang Afgana dan pacarnya.  

“Ngomongin pacarnya Afgana? Kayaknya seru banget.” Aku ikut bersuara dan membuat mereka menatapku. Tatapan mereka seperti takut. Mulut mereka seperti ikan yang mengambil napas dalam air.  

“Jangan dibiasain ngomong orang di belakangnya ya. Saya ini pacarnya Afgana.”  

Ketiga perempuan ini melotot. Mereka mungkin malu tak tahu harus menaruh muka di sebelah mana setelah melihatku dan mengetahui aku sudah mendengar semua pembicaraanya. Mereka bertiga segera lari keluar dari toilet sambil berteriak. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Biar saja, biar tahu rasa.  

Begitu kudorong pintu masuk toilet, aku melihat Afgana berdiri di depan pintu dengan muka merengut.

“Kamu ngapain di dalam tadi? Kok ada tiga cewek yang lari terbirit-birit keluar dari toilet kayak lihat hantu aja.”  

“Habisnya mereka ngomongin aku. Mbanding-mbandingin pacarnya Afgana sama tiga perempuan bau kencur. Aku kan paling gak suka digituin, Sayang. Lagipula biarin aja mereka tahu kalo siapa pacarnya Afgana!”  

“Ih, ngomongnya kok gitu sih? Jangan sampe ketahuan dong sapa pacarku. Nanti fansku pada kabur lagi kalo tahu siapa pacarku.”  

Afgana mengedipkan matanya dengan nakal. Kucubit pelan lengannya. Dia terkekeh. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Lalu kutatap nanar bayanganku dan Afgana di cermin pintu masuk toilet pria.

Seorang laki-laki tampan sedang bersebelahan dengan perempuan dengan muka hancur sebelah dan kedua kaki yang tak menapak lantai.

Sebuah tulisan yang diikutsertakan dalam #nguping, tantangan dari @JiaEffendie

One thought on “Aku Ini Kekasih Afgana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s