Segelak Tawa dan Ribuan Tangis di Borobudur

Siapa yang tak ingin menyaksikan pelepasan 1000 lampion saat perayaan Waisak di Candi Borobudur? Buatku, sudah pasti jawabannya aku sangat ingin sekali. Maka dari itu, aku bikin perjalanan nekat menuju Jogjakarta selepas pergi dari Sulawesi Selatan. Dibilang nekat, sebenernya juga gak nekat banget karena sudah disiapin sebelumnya. Nekat di sini lebih dalam arti, baru nyampe Malang 4 hari, sudah keluar melancong lagi.

Berawal dari keinginan melihat Ramayana Ballet dan prosesi perayaan Waisak, bertemulah aku dengan salah satu novelis yang produktif, @dylunaly, yang ternyata juga punya keinginan kembar kayak aku. Kami berdua cuma chat di DM atau WhatsApp buat ngomongin perjalanan kami nanti di Jogja. Mulai dari membahas penginapan, tiket Ramayana, tempat duduk yang oke buat nonton Ramayana, sampe gimana cara kami bisa ke Muntilan nanti buat lihat Waisak. Dan kemudian beneran bisa tweet up di Jogja lho :3

Beruntunglah aku dipertemukan oleh takdir dengan @risangpermana yang kebetulan sedang cuti dan kebetulan berada di kampung halamannya, Jawa Tengah. Setelah ngobrol via mesej FB atau BBM, Risang juga mau ikut berpartisipasi lihat Ramayana dan Waisak. Dan Alhamdulillah, dia mau mengkoordinir tiket pertunjukan Ramayana dan bisa nyediakan transportasi selama kami di Jogja nanti.

Mendengar banyak gosip dan tak bisa mencari tahu kebenaran dari gosip, membuat rombonganku (Retha, @dylunaly, @nikenadiba, @risangpermana, @elpuspita dan @riAresons10) berangkat pagi-pagi menuju Borobudur. Gosipnya adalah RI 1 akan hadir di Borobudur dan akses jalan menuju Borobudur ditutup pukul 10.00. Alhasil, kami sudah sampai di Borobudur sekitar pukul 09.30.

Setauku, dari begitu banyak blog pengunjung Waisak tahun lalu yang aku baca, untuk masuk ke Borobudur tidak akan dikenakan biaya. Tapi ternyata, kami dikenakan biaya sama seperti hari-hari lain yaitu 30 ribu/orang untuk bisa masuk kawasan Borobudur. Aku mulai bertanya, kenapa yang lain yang tahun lalu itu gak bayar ya? Jawabnya ntar aja ya. Sabar.

Terus dari dateng pagi banget sampe ketemu arak-arakan Buddhist itu ngapain aja? Kami kayak orang piknik. Nyewa tikar, duduk di taman, keluarin minum tanpa cemilan (karena cemilan kami diharuskan dititipkan di dekat loket pemeriksaan karcis), ngeliat gerombolan petugas semacam satpol PP yang menarik-narik dagangan seorang mbok jamu dengan sadis, mengomentari pengunjung Borobudur yang nyentrik, dan masih banyak kegiatan lainnya untuk menghabiskan waktu. Kalo pengen detil ceritanya, japri aja deh ya #SokKayakAdaYangNanya

Awan mendung mulai tampak di langit Borobudur. Kami hanya berdoa agar hujan tak turun, karena tahu sendiri toh di Borobudur gak ada tempat untuk berteduh. Lalu tiba-tiba sekitar jam 14.30, Mbak Ria mendengar seperti suara marching band. Astaga, itu arak-arakannya datang dan ada di sisi selatan kami. Maka kami semua kecuali Mbak Ria langsung berlari sambil membawa kamera masing-masing demi mengabadikan momen tersebut. Hosh, hosh, hosh.

Mengikuti arak-arakan tadi mengantarkan kami ke sebuah panggung yang disebut altar yang sudah ditata seapik mungkin dengan patung Buddha besar diapit dua patung lainnya. Latar Candi Borobudur membuat altar ini memiliki daya tarik bagi para pengunjung, termasuk aku, untuk mengabadikannya dalam sebuah potret.

Selamat Hari Waisak 2013

Selamat Hari Waisak 2013

Acara perayaan Waisak akan dimulai lagi setelah langit gelap. Namun, sebelum langit gelap, aku menyusul Mbak Ria dan mengantarnya ke altar tadi dan jepretin dia. Sembari menunggu acara puncak Waisak ini, rombongan kami kembali berkumpul tepat di depan altar sayap kiri. Di samping kanan, kiri, belakang kami sudah banyak pengunjung yang mengambil tempat juga. Benar-benar suatu sore mendung yang sangat ramai.

Sembari menanti sore berganti malam, kami berdiskusi bagaimana kalo beli lampion. Kan lumayan nanti punya dokumentasi pas megang lampionnya. Pasti keren. Jadinya, aku, Risang, Niken mencari tenda panitia dan menemukan antrian yang sangat panjang untuk membeli lampion. Berhubung, hujan mulai turun dari langit dan kami malas mengantri, kami urungkan niat untuk membali lampion. FYI, untuk bisa membeli lampion, kita diwajibkan memasukkan uang minimal 100 ribu ke dalam kotak yang disediakan panitia.

Hari makin gelap. Para bikhu, biksu, bikhuni mulai memasuki altar dan berdoa. Umat buddhist juga memasuki altar. Hujan kemudian turun dengan derasnya. Alhamdulillah, berkat tips yang diberikan para pengunjung Waisak tahun lalu, aku bawa payung dan duduk manis di bawah payung berkembang.

Terdengar suara pembawa acara dari pengeras suara yang membacakan susunan acara malam ini. Tentunya di awal akan ada sambutan dari Menteri Agama, Gubernur Jateng, perwakilan Biksu dan perwakilan panitia. Hujan tak kunjung reda. Para pejabat, para bikhu, biksu, bikhuni juga berteduh di bawah payung atau menggunakan jas hujan plastik. Cacing di perutku juga bergejolak mengingat terakhir makan saat siang dan hanya ada sebungkus wafer isi 8 dibagi orang 6. Dinginnya udara juga menusuk kulit dan tulangku.

Acara ini sejatinya dimulai pukul 19.00, namun beberapa hal dan kendala, acaranya molor sampai pukul delapan lebih karena menanti kedatangan Bapak Menteri Agama. Sebenernya aku udah mulai panas di dalam hati. Karena lapar dan dingin. Oiya, ternyata RI 1 gak jadi dateng. Bzzz.

Setelah semua pejabat yang akan memberi sambutan telah duduk di altar dengan dipayungi oleh para ajudan (yang membawa dua payung di dua tangan), acara dimulai. Sambutan dari wakil panita, dari perwakilan biksu, dari Gubernur Jateng yang di akhir sambutannya malah menghimbau warga Jateng untuk menyukseskan acara coblosan Gubernur tanggal 26 besok (curiga ini kampanye terselebung), hingga akhirnya saat Menteri Agama akan memberi sambutan, terdengar teriakan ‘booooo’ yang panjang dari arah pengunjung. Tak berhenti di situ saja, di akhir sambutan beliau, pengunjung alay ini kembali meneriakkan ‘boooo’.

Hujan makin deras. Para pejabat sudah turun dari altar, para umat Buddha juga turun, hanya tinggal para bikhu, biksu, bikuni yang duduk di altar untuk melanjutkan acara dengan pemanjatan doa-doa dan diteruskan pada ritual Pradaksina, yaitu ritual mengitari Candi Borobudur sebanyak 3 kali.

Astagfirullah. Begitu altar tampak sepi, ratusan pengunjung berdesakan maju ke atas altar. Pembawa acara sibuk mengumumkan para pengunjung untuk tidak masuk ke altar suci. Padahal kalo kalian tahu, pengunjung ini hanya mau mengambil foto para biksu yang sedang berdoa. Mereka juga tak menghiraukan bagaimana semua biksu itu ingin beribadah dengan tenang tanpa kehadiran mereka di altar maupun flash di kamera yang terus menyambar mengalahkan sambaran kilat di langit.

Acara mulai ricuh dan tak teratur. Rombongan kami pindah ke belakang altar untuk melihat Pradaksina. Ratusan bahkan ribuan pengunjung juga sudah ada di pelataran candi tanpa membentuk barisan yang rapi. Aku sendiri tak tahu di mana nanti umat Buddha akan mengitari candi. Di pelataran kah? Di dalam candi kah? Mengingat suasana di pelataran sangat gelap, becek dan ramai.

Kemudian, terlihat bikhuni yang mengitari candi Borobudur. Pengunjung kembali berjubel mendekat ke arah beliau dan lagi-lagi, menjepret dengan flash tepat ke arah beliau. Sebenarnya bukan hanya bikhuni maupun biksu yang bisa mengitari candi, namun umat Buddha lainnya juga bisa. Tapi aku yakin, para Buddhist ini tak bisa khusyu beribadah karena kehadiran ribuan perusak acara ini. Ketenangan dan kedamaian yang harusnya tercipta dirusak oleh dengungan obrolan ribuan orang ini dan tawa yang keras karena mereka sibuk bercanda sendiri.

Langit tetap menangis. Bulan purnama tak kunjung tampak di langit. Jam digitalku sudah menunjukkan angka 23.00. Acara pelepasan lampion diundur 30 menit lagi. Ribuan orang berteriak kecewa karena mendengar pengumuman ini. Kami mulai berdebat lagi, mau menunggu atau pulang. Melihat langit dan hujan yang sepertinya setia turun dan enggan berhenti, lalu kondisi kami yang sudah lapar dan kedinginan, kami memutuskan untuk pulang saja.

Sebenernya dalam hati masih deg-degan, gimana kalo nanti tiba-tiba langit menjadi cerah dan lampion akan diterbangkan? Namun rasa deg-degan ini sirna setelah baca isi timeline para traveler yang masih menunggu di Borobudur dan menuliskan bahwa malam ini tak ada pelepasan lampion.

Pukul 01.00 kami sampai di Jalan Kaliurang dan berhenti makan nasi padang sebelum akhirnya kembali ke penginapan.

Lalu, apa yang kurasakan selama berada di Muntilan?
Di awal datang ke Jogja, aku sangat gembira. Tawa juga tak lepas dari bibirku begitu menginjakkan kaki di Borobudur. Selangkah lagi aku bisa melihat prosesi Waisak. Namun, tawa yang hanya mampir sebentar itu sirna digantikan oleh ribuan tangis dari langit dan dari jerit hatiku sendiri.

Sejatinya, setelah membaca satu tweet “Emang kalo lo sholat terus diliatin banyak orang, lo nyaman?” di siang hari, hatiku mulai bergejolak. Iya ya, aku kalo diganggu orang pas sholat ya pasti marah, gak enak, gak bisa khusyu. Lha padahal ntar lagi aku bakal ngliatin umat Buddha lagi beribadah di Borobudur.

Rasa bersalahku dan malu semakin bertambah ketika mendengar teriakan ‘booo’ dari anak muda alay dan norak banget untuk Pak Menag. Aku gak ikut ‘boo’ lhoyaa. Itu kalo yang di’boo’ bapak kalian sendiri atau mungkin kakek kalian, gimana rasanya? Sakit hati kan? Ya iya, Bapak Menteri mungkin sudah salah karena membuat acara jadi molor, tapi sikap pengunjung yang tampak tak sportif ini malah bikin kecewa. Cuma pengunjung yang nyesek-nyesekin Borobudur malah bikin rusuh. Dan sekali lagi, pengunjung ini menyakiti hati para Buddhist yang sedang beribadah.

Pemandangan paha digelar di mana-mana juga nampak jelas. Hello Mbak-Mbak (yang katanya pengen dimuliakan dan gak mau dilecehkan seksual), kenapa sih kalian berpakaian seperti itu ke dalam areal ibadah orang? Mbok ya yang punya sopan santun begitu lah. Mari kita mengaca pada diri masing-masing. Seandainya ada teman yang berpakaian seperti itu masuk ke dalam rumah ibadah kita, apa kita bisa bersikap santai? Bisa tetap khusyu mengikuti ibadah dengan pemandangan paha yang sengaja dipertontonkan? Sebagai seorang perempuan, aku miris sendiri melihat perempuan yang lain berdandan seperti itu. Rasanya ndak pantes datang ke acara perayaan hari besar umat agama tapi pakaiannya kayak main ke mall.

Dan pada hari Minggu, setelah membaca salah satu curahan hati Buddhist yang merasa terganggu dengan perayaan Waisak semalam, aku menjadi makin merasa bersalah karena telah menjadi satu dari pengunjung yang membuat keributan. Walau sebenarnya, aku gak ikut agresif naik ke altar pas selesai acara sambutan, aku juga hanya melihat Pradaksina dari kejauhan, tetap saja aku sudah mengganggu kenyamanan dan ketenangan para Buddhist dalam beribadah.

Tak hanya sampai di situ, tadi pagi hingga siang, aku masih membaca banyak emosi dari beberapa pihak karena ulah pengunjung yang tak bertanggungjawab mengakibatkan perayaan Waisak kemarin menjadi ricuh. Ah, aku adalah salah satu dari pengunjung itu T.T

Dari renungan setelah pulang dari Borobudur, aku merasa aku tak akan lagi hadir dalam acara perayaan Waisak sebagai pengunjung tak diundang. Karena seharusnya yang bisa memasuki area Borobudur adalah orang-orang yang telah registrasi dan mendapat ID Card dari panitia. Kalo aku kan malah lewat depan dan untungnya masih bisa bayar 30 ribu buat masuk. Bukan berteriak kacau minta masuk ke Borobudur secara gratis sampai mendorong gerbang pintu masuk Borobudur. Aku tak kecewa walau tak bisa melihat pelepasan lampion. Sungguh aku hanya akan kembali melihat perayaan Waisak bila nantinya diundang ataupun dengan benar-benar mendaftar sebagai peserta. Semuanya sudah kurenungkan, karena kembali pada hati kecilku, aku juga tak ingin diganggu saat aku beribadah. Gak ada orang lain pas aku sholat aja, aku masih tetap sulit khusyu sholat, gimana kalo malah lagi sholat trus diliatin ma dipotoin? Hiks.

Lewat tulisan ini, aku meminta maaf buat umat Buddha yang merasa terganggu akan kehadiranku di Borobodur kemarin. Apapun yang aku perbuat, sekalipun aku cuma jadi pengunjung dan pemotret dari kejauhan, tetap saja aku udah mengganggu jalannya ibadah Waisak. Maaf.

Sekalian saran buat pengelola Borobudur, alangkah baiknya Borobudur ditutup untuk umum saat perayaan Waisak. Kecuali orang-orang yang memiliki akses seperti jurnalis dari media massa ataupun pihak lain yang sudah memiliki rekomendasi untuk bisa turut menyaksikan prosesi perayaan Waisak.

Dan apabila tahun depan dan tahun-tahun berikutnya Waisak tetap terbuka untuk umum, dimohon agar ada peraturan yang lebih tegas tentang bagaimana kita bisa menjadi salah satu pengunjung dari pihak panitia agar tak terjadi kericuhan seperti perayaan Waisak 2013. Dan bila nanti kita bisa hadir di perayaan Waisak selanjutnya, marilah kita jadi pengunjung yang bijak dan bertanggungjawab. Berpakaianlah yang sopan, mengendalikan ucapan dan bahan bercanda yang keluar dari mulut, menjadi fotografer yang arif dengan tidak menyalakan lampu flash selama acara berlangsung dan tidak memaksa memotret yang sedang beribadah dari jarak dekat, dan lebih baik lagi kalo kita bisa mengikuti semua aturan-aturan lain dan tidak mengacaukan ibadah orang lain. Kalo gak yakin bisa ngikutin semua aturan mainnya, lebih baik gak usah datang. Beneran.

Akhir kata buat postingan blog yang panjang ini, aku minta maaf untuk kata-kata dalam blog ini yang telah menyakiti hati pembacanya. Dan terima kasih Borobudur untuk pengalaman di balik perjalanan ini.

Salam damai. Salam toleransi beragama di Indonesia🙂

5 thoughts on “Segelak Tawa dan Ribuan Tangis di Borobudur

  1. aku arep komen opo yo? yaa silahkan mbak mampir ke Youtube-ku aja… dilampirin dipostingannya juga boleh kok😉
    Soalnya daku bikin postingan di fotodeka.com ngalur-ngidul wetan-kulon je… :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s